Aksi Demo Berstatus Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?

Banyak pihak yang mengerutkan dahi, karena khawatir keterlibatan para pelajar ditunggangi. Terlebih malah mengganggu konsentrasi belajar di sekolah. Tak terkecuali para orangtua di rumah yang cemas dengan keterlibatan anak mereka. Peristiwa pelajar turun aksi ke jalan ini hendaknya menjadi sorotan semua pihak. Pertanyaannya, siapa saja pihak yang bertanggungjawab?

Aksi Demo Berstatus Pelajar, Tanggung Jawab Siapa?
Sejumlah pelajar saat melakukan aksi demo/Net

Belakangan hari ini perhatian publik tersita atas aksi demo yang diikuti para pelajar SMK atau yang akrab disebut STM. Alih-alih menyampaikan aspirasi, para pelajar nyatanya tak banyak tahu inti persoalan yang terjadi. Kebanyakan dari mereka tak tahu apa yang dituntut. Bahkan tak sedikit dari mereka mengaku hanya sekedar ikut-ikutan.

Para pelajar juga tak banyak paham tentang arti demo yang sebenarnya. Hal ini membuat mereka lebih mudah terkena provokasi massa. Akibatnya, demo bukan jadi ajang menyampaikan aspirasi, tapi malah menjadi wahana para pelajar untuk berbuat anarki. Ironis, kejadian ini seolah menjadi momen bagi sebagian mereka untuk berbuat onar dimuka umum. Mulai dari saling serang dengan aparat kepolisian, hingga akhirnya merusak berbagai fasilitas publik pun tak terhindarkan.

Atas peristiwa ini, banyak pihak yang mengerutkan dahi, karena khawatir keterlibatan aksi demo para pelajar ditunggangi. Terlebih lagi malah hanya mengganggu konsentrasi belajar mereka di sekolah. Tak terkecuali para orangtua di rumah yang cemas dengan keterlibatan anak mereka. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Senin (30/09/19) kemarin, Polres Metro Bekasi Kota mengamankan para pelajar yang kedapatan hendak melakukan aksi demonstrasi.

Sejumlah orang tua pun akhrinya berdatangan menjemput anaknya di Polres Metro Bekasi Kota. Seperti dilansir dari laman detikcom, pukul 20.00 WIB, sejumlah orang tua tampak menyaksikan anak-anaknya yang sedang diinterogasi oleh polisi di lapangan Polres Metro Bekasi Kota, Jalan Pramuka, Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Satu per satu pelajar dipanggil oleh polisi untuk memasuki ruangan sentra pelayanan kepolisian terpadu (SPKT). Bersama dengan orang tua, para pelajar kemudian didata oleh polisi. Pihak kepolisian memberi imbauan kepada para orangtua untuk dapat memimbing anak-anaknya. Terutama mencegah anak-anak mereka untuk melakukan aksi turun ke jalan yang sudah tak kondusif. Hal ini dilakukan agar tak terjadi hal yang tak diinginkan.

"Dididik ya Pak anaknya. Dijaga anaknya," ujar seorang polisi.

"Betul saya terima kasih kepada Bapak Kapolda, Kapolres, dan bapak polisi telah menyelamatkan anak saya. Terima kasih banyak," ujar salah satu orang tua pelajar.

Sementara itu, salah satu orang tua pelajar, Sarjono, mengatakan anaknya tidak minta izin kepadanya untuk mengikuti demo. Ia mengaku kaget anaknya hendak ke Jakarta.

"Tahunya kan biasa jam 2 sudah pulang (sekolah), saya tunggui jam 02.15 siang kok belum pulang-pulang, di mana ini. Terus ada WA 'pak-pak', saya kaget kan, ini tiba-tiba anak WA ada apa 'Pak jemput Adit', sebagai orang tua kan kaget saya," ujar Sarjono.

Sumber Foto: Detik.comSarjono berjanji akan terus membimbing anaknya untuk tidak terpengaruh ajakan-ajakan demo yang tidak jelas.

"Saya dengan kejadian ini terus terang anak-anak sekolah ikut demo itu saya paling benci, tidak suka saya itu, kenapa? Mereka-mereka ini kan masih membutuhkan orang tua, masih muda, sedangkan apa sih ikut demo? apa sih arti demo? mereka juga kan nggak tahu, apa sih permasalahannya kan dia nggak tahu," ujar Sarjono.

Sementara itu, Orang tua lainnya, Ani, mengaku telah mengizinkan putranya untuk mengikuti aksi demo. Ani menyebut anaknya berangkat demo bersama kakaknya.

"Izin sih. Tadinya dia nggak ikut anak-anak sekolah, sama abangnya, abangnya sudah duluan. Dari rumah naik motor, nggak tahu disimpan di mana, terus mobil," ujar Ani.

Peristiwa pelajar turun aksi ke jalan ini hendaknya menjadi sorotan semua pihak. Pertanyaannya, siapa saja pihak yang bertanggungjawab? Tentu yang pertama adalah para penyelenggara pendidikan dalam hal ini pihak sekolah. Sebagai fasilitator pembelajaran, para guru hendaknya membimbing dan memberikan pencerahan kepada pelajar agar tak serta merta dengan mudah terprovokasi oleh isu yang berkembang. Karena itu guru juga harus memiliki wawasan kebangsaan dan wawasan politik yang holistik. Mengapa? Karena peran dan pengaruh guru sangat signifikan terhadap  cara berpikir siswa dalam menanggapi segala sesuatu.

Selain pihak sekolah, lingkungan sekitar (masyarakat) juga punya tanggungjawab terhadap persitiwa ini. Masyarakat juga harus memberi perhatian yang lebih kepada para pelajar di sekelilingnya. Masyarakat wajib menegur jika ada tindakan para pelajar yang bertentangan dengan koridor hukum dan sosial. Jaangan sampai masyarakat malah terlibat apalagi menjadi bagian dari provokator itu sendiri.

Terakhir, peran dari keluarga. Peran keluarga sangat berpengaruh. Keluarga adalah madrasatul ula artinya sekolah pertama bagi siswa. Perhatian orangtua sangat penting bagi anak. Orang tua harus dapat memberi bimbingan super extra kepada anak-anaknya masing-masing. Supaya hal-hal yang tak diinginkan semacam ini tak terulang.