Balad Jokowi Ngariung untuk Negeri

Ada suka duka, ada pahit dan getir, ada asa dan mimpi yang mewarnai perjalanan relawan Balad Jokowi selama satu tahun terakhir ini. Untuk menentukan langkah selanjutnya, relawan balad Jokowi pun akan menggelar kongres namun dalam format yang menggembirakan. Ya, ‘ngariung’ begitu mereka menyebutnya.

Balad Jokowi Ngariung untuk Negeri
Foto: fb.baladjkw
Budaya ‘Ngariung’ merupakan tonggak awal untuk dapat melaksanakan gotong royong.

ADA suka duka, ada pahit dan getir, ada asa dan mimpi yang mewarnai perjalanan kami (Relawan Balad Jokowi) selama satu tahun terakhir ini. Vivere Pericoloso, sungguh satu tahun yang penuh dengan tantangan.

Pernah pula ada usulan dari beberapa eksponen dan simpul relawan, apakah saat ini kita membutuhkan partai politik baru, atau minimal gerakan politik baru untuk ikut masuk dalam kontestasi merebut kekuasaan? Namun tampaknya, kami lebih memilih untuk tak terlibat lebih jauh dalam perebutan kekuasaan.

Karena itu, untuk menentukan langkah selanjutnya, kami pun akan menggelar kongres namun dalam format yang menggembirakan. Ya, ‘ngariung’ begitu kami menyebutnya. Asal katanya memang dari bahasa Sunda ‘riung’ namun telah diwadahi dalam kamus besar bahasa Indonesia. Kurang lebih maknanya adalah kumpul atau berkumpul.

Dalam kebiasaan masyarakat Jawa Barat maupun Banten, ‘ngariung, seringkali diidentikan dengan kegiatan bersilaturrahim dan berdiskusi, dimana setiap orang bisa menyampaikan pendapatnya,

Ngariung juga ditandai dengan sekumpulan orang duduk melingkar, ditemani ‘kopi’ beserta kudapannya, bisa rebus-rebusan atau kue kering. Atau ada juga yang memaknai ‘ngariung’ dengan upacara selamatan atau tahlilan untuk mendoakan para orangtua yang telah tiada. Waktunya biasa malam hari. Selesai berdoa atau berdiskusi, mereka pun berbincang ringan.

Lebih seriusnya, ‘ngariung’ juga seringkali dilakukan untuk bermusyawarah dan berdiskusi untuk mencari solusi akan sebuah persoalan yang dihadapi masyarakat. Maknanya memang sangat luas, tapi intinya adalah untuk bertukar pikiran, berdiskusi mencari solusi. Budaya ‘Ngariung’ merupakan tonggak awal untuk dapat melaksanakan gotong royong.

Bagi Balad Jokowi, ‘ngariung’ punya makna khusus. Ia dihelat untuk urun rembug menentukan langkah setelah meraih kemenangan. Balad Jokowi tak menghendaki untuk bubar jalan pasca berjuang. Terutama untuk merevolusi geraknya, ia ingin menjemput perubahan tak hanya diam dan hanyut dalam kemenangan.

Balad Jokowi merasa masih perlu untuk mengorganiasi diri, merapihkan dan bila memungkinkan menjadi wadah bagi para relawan atau yang punya satu tujuan, untuk memajukan Indonesia. Kami tak ingin kemudian hanya dicap relawan atau sekumpulan orang yang berkumpul secara musiman, tatkala pemilu datang saja.

Tak bisa dimungkiri, jika sosok Jokowi atau biasa kami sebut Jaka Winata (orang yang pandai menata) menjadi alasan utama kelahiran kami relawan Balad Jokowi. Ada dorongan amat kuat untuk merajut relasi dukungan personal dalam bentuk gerakan kesukarelawanan yang tak diikat organsiasi partai politik apa pun. Dan itu mulai terajut sejak jauh sebelum Pilpres 2019. Dimana ada gelagat persekutuan lintas batas usia, profesi bahkan agama untuk membawa perubahan, mereorganisasi negara yang korup warisan orde baru.

Relawan Balad Jokowi berketetapan hati untuk menjadi penyambung lidah, sekaligus menjadi mata dan telinga ‘Jokowi’ di akar rumput. Peran yang tentu saja luput dimainkan, karena sebagian besar elite politik kita kadung nyaman duduk di atas kursinya.

Sejak berdiri, Balad Jokowi bukanlah sayap politik parpol tertentu. Balad Jokowi meletakan dirinya dalam menjaga dan mensukseskan Pemerintahan Jokowi dua periode. Kami ini independen, kami mendukung Jokowi karena memiliki cita-cita politik yang sama dengannya.

Balad Jokowi mendorong partisipasi politik akar rumput, sebuah gerakan yang lahir dari bawah, seperti halnya kelahiran Jokowi sendiri. Kami hanya ingin lebih banyak lagi melahirkan bibit-bibit pemimpin demokrasi yang kelak akan merawat dan menjaga kemurnian demokrasi.

Karena itu, soal masa depan kami serahkan pada sejarah. Yang pasti kami ingin konsisten di luar kontestasi perebutan kekuasaan. Balad Jokowi ingin menempatkan dirinya untuk tak menambah persoalan baru di republik ini, sebaliknya ingin memberikan alternatif. Balad Jokowi melihat saat ini, yang lebih penting adalah bagaimana mendorong penyelenggaraan dan program negara dapat hadir di tengah masyarakat dan menjawab tantangan zaman.

Di acara ‘Ngariung’ kami ingin menegaskan, bahwa pertama, soal sejarah masa lalu, raison d’etre munculnya Balad Jokowi seperti disampaikan sebelumnya adalah munculnya sosok Jokowi (Jaka Winata) dalam pentas politik nasional. Lalu menjadi alasan utama kelahiran kami para relawan.

Kedua, terkait saat ini, Balad Jokowi tentu saja sadar betul bila alasan kelahirannya adalah tidak lepas dari Jokowi itu sendiri. Namun, kemudian Balad Jokowi juga mesti ingat bahwa sejarah mencatat, bila Balad Jokowi telah berikrar diri untuk berada di garda terdepan mengawal sekaligus juga menjaga ketulusan Jokowi memimpin negeri. Bila dalam perjalanannya ada onak dan duri, lalu kehendak rakyat pun tercederai, maka tentu Balad Jokowi menjadi yang terdepan untuk mengingatkan.

Dan yang terakhir, terkait masa depan Balad Jokowi, inilah yang terpenting. Perubahan tatanan dunia, kemajuan teknologi informasi, ancaman/peluang bonus demografi, revolusi industri, termasuk kualitas demokrasi yang ada saat ini, tentu menjadi alasan Balad Jokowi untuk terus eksis dan melakukan transformasi.

Balad Jokowi setuju dengan apa yang dikatakan David Held dalam Models of Democracy bahwa agar demokrasi dapat berkembang dan mendapatkan legitimasinya di hadapan rakyat, maka proses demokrasi harus diperluas dalam dua wilayah yang saling bergantung satu sama lain, yaitu proses reformasi di level negara dan restrukturisasi di wilayah civil society. Sebagai bagian dari civil society, Balad Jokowi tentu ingin berperan dalam apa yang disebut Held sebagai ‘process of double democratization’, yaitu transformasi yang saling terkait antara level negara dan civil society.

Untuk meneguhkan peran tersebut, tentu saja para relawan Balad Jokowi meski berbenah diri, baik secara personal maupun komunal. Memperkuat skill maupun pengetahuannya, agar tak termakan zaman. Meski berasal dari akar rumput, relawan Balad Jokowi mesti berkemajuan; melek digital namun tak lupa asal muasal.

Dengan begitu, maka Balad Jokowi pun ke depan tak akan sekadar menjadi kerumunan besar yang tiada arah gerakan, yang muncul lalu berlalu kala tujuan tercapai. Namun sebuah barisan yang kokoh dan tak mudah roboh diterpa zaman. Balad Jokowi akan mampu menyesuaikan diri di tengah perubahan, menempatkan dirinya sebaik mungkin agar konsisten memberi kontribusi untuk negeri. [ ]

Ma’ruf Mutaqin

Sekjen Balad Jokowi