Opini

Dramaturgi Politik Jokowi

dramaturgi politik Jokowi dramaturgi politik Jokowi
Monitorday -- Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini, ada banyak hal yang awalnya dimaksudkan untuk menghantarkan Indonesia kepada pemahaman demokrasi yang sesungguhnya, namun di tahap akhir malah menjadi lucu-lucuan belaka. Hal ini karena adanya perbedaan peran yang dimainkan para elite negeri terutama Jokowi sebagai Presiden antara peran di depan publik dengan peran sesungguhnya di belakang panggung.

Bila kita urutkan, upaya tersebut bahkan sebetulnya dapat kita identifikasi sejak awal munculnya wacana Jokowi, dimana kehadirannya telah mengaburkan tradisi demokrasi dalam internal PDIP sebagai partai modern. Tradisi berdemokrasi yang telah lama dibangun tersebut tentu saja tak sekadar mengedepankan citra dalam berpolitik, melainkan juga megedepankan ideologi dan kapasitas. Singkatnya untuk menentukan siapa yang layak diusung oleh sebuh partai yang mengedepankan tradisi berdemokrasi adalah orang yang memiliki kapasitas memadai, citra yang baik dan tentu saja konsisten terhadap ideologi partainya.

Begitu pula dalam pelaksanaan kampanye pasangan Jokowi-JK, yang ternyata kurang elegan dalam melakukan kampanye politik. Padahal, faktor selanjutnya yang seharusnya juga melekat dalam sebuah partai modern adalah melakukan cara-cara kreatif dalam kampanye politik. Alih-alih melakukan cara-cara kreatif dalam melakukan kampanye politik, Jokowi dan orang-orang di sekelilingnya malah terjebak dalam isu seputar black campaign maupun negative campaign.

Salah satu contoh kampanye yang dianggap kurang elegan mungkin adalah kampanye yang dilakukan oleh Wimar Witoelar. Foto yang diunggah Wimar tersebut bejudul ‘Gallery of Rogues, Kebangkitan Bad Guys. Dimana terdapat foto Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Keduanya diapit oleh sejumlah tokoh seperti Lutfi Hasan Ishaaq, Ahmad Heryawan, Tifatul Sembiring, Abubakar Baasyir, dan Habib Rizieq di sebelah kiri. Sementara sebelah kanan, terdapat foto Suryadharma Ali, Aburizal Bakrie, Anis Matta, dan AA Gym. Di bawah foto Prabowo Cs tersebut, terdapat lambang ormas seperti Muhammadiyah, MUI, FPI, Hizbut Tahris Indonesia, dan lainnya. Sedangkan tampak foto Ali Imron, Imam Samudra, Amrozi, osama Bin Laden dan Soeharto sebagai Background.

Aksi Wimar tersebut dinilai pengamat sudah keterlaluan, bukan hanya kampanye hitam saja, melainkan sudah mengarah pada propaganda dengan menggubakan media gambar. Atas nama apa pun kampanya politik atau bukan, aksi Wimar tersebut memang tidak layak dilakukan.

TAG BERITA

Comment

TERPOPULER

Senin 13 Februari 2017 | 08:49 WIB

Senin 23 Januari 2017 | 09:24 WIB

Opini

Rabu 18 Januari 2017 | 11:12 WIB

Kamis 01 Desember 2016 | 20:37 WIB

COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga