Opini

Adu Domba Freeport: Quo Vadis Elit Legislatif dan Eksekutif

Salah satu lokasi pertambangan PT Freeport Indonesia. Sumber foto: geoenergi.co.id Salah satu lokasi pertambangan PT Freeport Indonesia. Sumber foto: geoenergi.co.id
MONITORDAY com, Jakarta - Elit politik di Indonesia mulai terkoyak habis oleh perusahaan asing asal Phoenix, AS, Freeport. Karena ulah perusahaan tersebut, elit politik yang ada di eksekutif dan legislatif saling tunjuk-menunjuk. Tak hanya itu, friksi antar koalisi nampaknya akan semakin menguat, setelah sebelumnya mulai cair.

Ya, kasus pencatutan nama Presiden dan Wakil Presiden atas perpanjangan kontrak Freeport di Indonesia-lah yang menjadi biang keladi permasalahannya. Dugaan Ketua DPR RI Setya Novanto sebagai seorang "politisi kuat" yang memalaki perusahaan tambang itu disebut-sebut oleh Menteri ESDM Sudirman Said.

Bola panas terus bergulir, hingga pada titik puncaknya, Mas Dirman-sapaan akrab Menteri ESDM itu, melaporkan Ketua DPR Setya Novanto ke Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) atas tuduhan telah "mencatut" nama Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, setelah sebelumnya Mas Dirman mengatakan di media massa bahwa ada "politisi kuat" yang bermain bahkan mencatut nama pimpinan tertinggi di Republik di Indonesia ini dalam proses renegosiasi kontrak Freeport di Indonesia yang dijadwalkan habis pada tahun 2021.

Bukti-bukti telah disiapkan oleh Mas Dirman, hingga akhirnya pria berkumis itu menyambangi gedung DPR RI dengan trik yang hebat hingga para wartawan sempat "kecolongan" sosok Mas Dirman yang sudah ditunggu-tunggu tersebut.

Walhasil setelah melaporkan ke MKD, Mas Dirman pun memberi kabar telah memberikan bukti yang dianggapnya kuat, yakni transkrip pembicaraan antara Setya Novanto bersama pengusaha minyak asal Jakarta Reza Chalid dengan pimpinan Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin.

Comment

TERPOPULER
COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga