Opini

Suara Pembaca

Kepincangan Pendidikan (Educational Disequilibrium)

Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) Muhadjir Effendy, Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
MONITORDAY.com, Jakarta - Mengapa bangsa Indonesia hingga sekarang ini dirundung banyak persoalan yang kronis. Mulai perilaku amuk dan kekerasan, miskin tenggang rasa, radikalisme buta, dan korupsi meraja lela?

Akar masalahnya adalah pada pendidikan kita. Kita telah mewarisi sistem pendidikan yang sesat. Bermula dari gerakan pemberantasan buta huruf atau PBH di awal kemerdekaan. PBH pun kemudian mengalami metamorfosis menjadi sistem pendidikan yang sangat menekankan pada mengasah kemampuan Calistung: baca, tulis, hitung (right, write, and arithmetic),  dengan segala implikasinya.

Kita lupa ada belahan lain yang tidak kalah penting yaitu: etika, estetika dan kinestetika. Padahal kalau kita ingin membentuk manusia Indonesia yang utuh kedua belahan itu harus tumbuh seimbang. Sistem pendidikan yang terlalu peduli pada sebelah dan terlalu abai pada sebelah yang lain inilah yang menimbulkan kepincangan pendidikan (Educational Disequilibrium).

Etika adalah muatan utama pendidikan agama, estetika muatan pokok pendidikan seni, sedangkan kinestetika adalah terkandung dalam pendidikan olahraga. Adalah sudah menjadi rahasia umum, di sekolah, mata pelajaran yang menggarap tiga kawasan tersebut telah dipandang sebelah mata. Kasta rendah. Tidak sederajat dengan mata pelajaran matematika, IPA dan bahasa Inggeris, yang merupakan derifat dari Calistung.

Di sekolah, khususnya di tingkat pendidikan dasar (basic education) tidak ada guru olah raga tidak apa-apa. Tidak ada guru seni biasa. Guru agama penting tapi sekedar mengajar pengetahuan agama. Tetapi kalau tidak ada guru matematika yang mumpuni, guru IPA yang cakap, tidak ada guru bahasa (Inggris) yang lihai, sekolah akan kalang kabut mencarinya.

Cara pandang orang tua tidak kalah sesatnya. Mereka biasa saja kalau anaknya tertinggal mata pelajaran olah raga atau seni bahkan agama. Jangankan mencarikan tenaga les privat anaknya untuk mengejar ketertinggalan mata pelajaran itu, mereka kadang bangga bahwa anaknya tidak bisa berseni atau berolahraga tapi hebat matematikanya. Akan tetapi akan serasa habis masa depan anaknya kalau tertinggal mata pelajaran matematika dan bahasa Inggeris. Bila perlu akan membayar lima tenaga les privat anaknya  demi mengejar ketertinggalan mata pelajaran itu. Kenapa demikian? Orang tua orang tua itu telah mewarisi keyakinan pendidikan yang sesat secara turun temurun.

Mereka pikir, pendidikan olah raga itu dimaksudkan untuk membentuk orang menjadi atlet, pendidikan seni untuk menjadi seniman, pendidikan agama untuk menjadi rohaniwan. Mereka tidak faham bahwa di balik pendidikan agama, olahraga dan seni itu ada bahan dasar yang sangat vital untuk membentuk kepribadian, karakter dan sikap mental baik seseorang. Di dalam pendidik olahraga terbentuk kejujuran, sportifitas, menghargai prestasi, persaingan sehat, disiplin, sadar aturan dll. Dengan pendidikan seni, naluri keindahan yang ada dalam diri setiap orang akan terasah. Ia akan mahir mengekspresikan kehalusan budinya dalam kehidupan sehari hari serta mampu mengapresiasi kehalusan budi yang terpancar dari diri orang lain. Begitu pula, pendidikan etika, dia mampu menghayati dan mengamalkan nilai-nilai keutamaan dan menjauhi nilai nilai  yang tidak terpuji.

Singkat kata, melalui refleksi akhir tahun: saatnya budayawan, seniman dan olah rawan berbicara, kita berteriak agar membawa sistem pendidikan yang sesat ini ke sistem pendidikan yang benar. Dari sistem pendidikan yang pincang menjadi pendidikan yang berkeseimbangan. Antara baca-tulis-hitung dengan Etika-estetika-kinestetika.

Bagaimanapun, revolusi mental harus dimulai dari sini !

TAG BERITA

Comment

TERPOPULER
01
Kamis 01 Desember 2016 | 20:37 WIB
Mengganti Wakil, Bisakah?
COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga