Review

Laporan:

Inikah Sandyakalaning Politik Kebangsaan?

Ilustrasi Ilustrasi
MONITORDAY.com, Jakarta - Bayangkan bila seandainya saat ini bangsa kita dipimpin oleh rezim kesejahteraan otoriter-konservatif yang mereduksi partisipasi politik warganya sehingga tidak menimbulkan bahaya, atau negara fasis-otoriter yang mencengkram rakyatnya pada tingkat mobilisasi permanen yang cukup tinggi tanpa harus menjelaskannya dengan ukuran-ukuran negara-kesejahteraan (welfare state).

Memori-memori tersebut niscaya muncul dalam setiap diri bangsa yang melankolis ini, terutama realitas yang membuktikan bahwa China (newly industrializing countries) mampu mensejahterakan rakyatnya tanpa demokrasi massa.

Di dunia komunis, kebebasan dan demokrasi telah kandas dan malah menjelma menjadi sistem birokratis, sedang nama yang serupa di barat dan tampaknya negara kita juga telah berubah menjadi sistem kepartaian yang ambigu dan mandul.

Namun kedua varian tersebut juga belum tentu akan membuat bangsa kita menjadi lebih baik. Begitupun dengan demokrasi massa ala barat yang terbukti juga tidak lebih baik daripada kedua varian tadi. Alih-alih energi bangsa ini malah diporsir untuk menjalankan prosedur dan administrasi demokrasi yang tak pernah sepi dari manufer dan intrik para elite politik dan pemerintahan (gaduh).

Bayangkan, Pemilu 2019 yang masih cukup lama saja persiapannya sudah sejak jauh-jauh hari, belum lagi dengan jadwal pilkada yang seakan menjadi penjaga ritme dan nuansa politis dalam hari demi hari kehidupan bangsa kita. Sementara upaya untuk meraih tahapan kesejahteraan nyaris tak terpikirkan (unthinkable).

TAG BERITA

Comment

TERPOPULER

Senin 25 Januari 2016 | 09:35 WIB

Jumat 22 Januari 2016 | 08:58 WIB

Senin 11 Januari 2016 | 09:12 WIB

COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga