Opini

Oleh:

Mengganti Wakil, Bisakah?

Mulyadi Permana (Foto: istimewa) Mulyadi Permana (Foto: istimewa)
Jika sudi menghitung, ada banyak sekali "wakil". Wakil komisi, ini biasanya menyangkut bagi-bagi proyek. Wakil rakyat, karena memang ada rakyat biasa. Wakil menteri, selain sudah jarang juga tidak populer sekarang. Wakil ketua, ya kerjanya bantu-bantu ketua lah. Wakil gubernur, sejenis dengan wakil bupati atau wakil walikota, sama-sama tak punya job kalau pimpinannya tak mau kasi. Wakil presiden, sesuai namanya, ini benar-benar prestige. Dia mendampingi presiden sebagai orang nomor dua.

Presiden misalnya, adalah makhluk yang paling banyak kerjanya seantero negeri. Dia kerja ke dalam juga ke luar negeri. Di dalam mengurus semua kebutuhan seluruh makhluk, di luar menjalin hubungan yang menguntungkan negeri. Perlulah beliau ini seorang wakil yang membantu tugas beratnya itu. Wakilnya, tidak punya tupoksi khusus, kecuali membantu semua kegiatan presiden kalau presidennya berhalangan atau atas keterbatasan waktu presiden. Andai saja presiden bisa berbadan dua atau tiga atau banyak seperti jurus Kagebunshin no Jutsu milik Naruto (tokoh kartun Jepang), tak perlu-perlu amat adanya wakil presiden. Kecuali ada perkara genting di mana presiden berhalangan tetap atau dilengserkan dari kursi kekuasaan, ini jadi bagian yang paling enak buat wakil presiden atau turunannya wakil gubernur, wakil bupati dan wakil walikota. Lain perkara dengan wakil camat ke bawah, mau gonta-ganti pimpinan nasib mereka tak mujur buat jadi pengganti.

Presiden juga manusia, ada kalanya beliau was-was, takut, curiga ataupun galau melihat situasi di mana makhluknya mulai garang. Presiden Jokowi pun bersafari, datang ke kandang singa, kandang harimau, kandang gajah, juga kandang rubah supaya beliau tak ditikam sewaktu-waktu. Lebih bahaya kalau para makhluk ganas itu bersatu membuat rencana atau muslihat, habis sudah riwayat kekuasaan beliau. Sekiranya beliau sudah baca buku Il Principe Machiavelli yang bilang soal super bahayanya jika singa dan rubah bersatu. Singa itu ganas, rubah itu licik.

Beliau tiba-tiba keliling markas TNI-Polri yang dikenal pemburu binatang buas itu. Rupanya beliau sadar jika pemburu dengan binatang buruannya sudah main mata, penghuni hutan yang bahaya, lebih-lebih penguasanya. Ada rahasia di balik peristiwa, kata orang tua dulu. Rahasia apakah yang tersembunyi sehingga TNI-Polri yang tak pernah buat majelis dzikir seumur-umur, mendadak pakai peci semua. FPI unjuk gigi, Presiden Jokowi unjuk kaki, jingkrak-jingkrak sama prajurit berbaret itu.

Binatang boleh bermanuver, juga para pemburu, namun penguasa punya banyak mata untuk mengawasi, juga punya wakil-wakil di sana sini. Akhirnya, ketua wakil rakyat diganti-diganti. Salah apa Pak Akom harus diganti, tanya saya. Hal ihwal apa yang buat ketua DPR yang sudah mengundurkan diri kembali unjuk kepala, tanya saya. Saking kagetnya, sahabat saya orang condet menyepak kucingnya sendiri sehingga hewan yang tak ada urusan apa-apa ini memekik dan terheran-heran.

Comment

TERPOPULER
01
Rabu 18 Januari 2017 | 11:12 WIB
Mendidik Anak Berjiwa Entrepreneur
COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga