Opini

Oleh:

Mengganti Wakil, Bisakah?

Mulyadi Permana (Foto: istimewa) Mulyadi Permana (Foto: istimewa)
"Bisa jadi buat menghindar dari sidang beraroma istimewa yang buat Gus Dur terpingkal tempo hari," kata Akbar. Kala itu, massa dikoordinir untuk menuntut presiden mundur, TNI baris-berbaris unjuk senjata ke istana, partai beramai-ramai cabut mandat karena kadernya dicopot dari kabinet.

Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Yusril Ihza Mahendara didepak karena tegas meminta Gus Dur mundur, Menteri Kehutanan Nur Mahmudi Ismail dicopot karena tak mampu mengendalikan massa partainya yang demo memakzulkan presiden, juga Menteri Koordinator Politik, Sosial dan Keamanan Susilo Bambang Yudhoyono diberhentikan lantaran menolak permintaan presiden menyatakan keadaan darurat. Yang istimewa adalah wakil presiden dikawal ketat oleh tentara sebagai calon pengganti presiden yang bakal terguling.  

Itulah untungnya jadi wakil. Presiden yang mau digulingkan, wakilnya kipas-kipas, sambil angkat kaki, tak perlu bicara, tinggal tunggu hasil. Beda soal sama wakil rakyat, kata "wakil" hilang, jadilah dia rakyat jelata. Tapi, tiba masa di mana ketua wakil rakyat maju, mundur, maju lagi ibarat bola bilyar tak pernah kapok disodok-sodok. 

Selain perkara di Senayan, wakil selalu untung. Begini kata Ahyat yang paham Islamnya nasionalis fundamentalis, "Kalau nanti Ahok menang di Pilkada DKI, terus proses hukumnya berjalan dan ia divonis bersalah, malah bagus, Djarot yang muslim yang jadi gubernur kita." Ahyat melihat banyak perkara di mana gubernur masuk bui, wakilnya tertawa terbahak-bahak, sampai isi perut melintir, sampai air mata melompat ke luar, boro-boro mau belain. Lain soal kalau wakil kena masalah, kepalanya ikut sengsara. Wakil Presiden Boediono hampir terbawa arus Century, Presiden SBY ikut pening, entah ada bendungan atau genangan sampah, arus itu terhenti. Tak heran, saat itu, alat berat pengeruk belum ada.

Rupanya ada masalah konstitusi di mana presiden atau gubernur, bupati dan walikota seantero negeri sering lengser diganti oleh wakil-wakilnya. Bisa jadi wakilnya yang berbuat, tapi sembunyi tangan. Bisa jadi ada percikan api, wakilnya yang kipas-kipas sambil tiup-tiup biar jadi bara yang membakar. Bisa jadi wakilnya yang buat makar, presiden atau gubernurnya yang kena lengser. Soalnya, presiden atau gubernur dan semacamnya tidak boleh seenak jidat mengganti wakilnya, hanya wakil yang boleh menggantikan mereka. Lain cerita apabila wakilnya kena KPK, bisa jungkir balik tak tertolong. Padahal, namanya wakil buat membantu kepalanya, nah kalau wakil sudah tak sudi membantu, malah bikin pening kepala, seharusnya boleh diganti, kepala punya urusan.

Comment

TERPOPULER

Senin 13 Februari 2017 | 08:49 WIB

Senin 23 Januari 2017 | 09:24 WIB

Opini

Rabu 18 Januari 2017 | 11:12 WIB

Kamis 01 Desember 2016 | 20:37 WIB

COPYRIGHT © MONITORDAY.COM 2016 ALL RIGHTS RESERVED
Back to Top
counter hit xanga