Idul Fitri Momentum 'Rekonsiliasi Nasional'

Idul Fitri, merupakan titik puncak perjalanan spiritual ibadah puasa. Yang menandai kembalinya orang-orang yang berpuasa kepada fitrahnya sebagai makhluk Tuhan yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Idul Fitri Momentum 'Rekonsiliasi Nasional'
CEO Monday Media Group/Deni.

IDUL FITRI, merupakan titik puncak perjalanan spiritual ibadah puasa. Yang menandai kembalinya orang-orang yang berpuasa kepada fitrahnya sebagai makhluk Tuhan yang memiliki tingkat kesadaran tertinggi dibanding makhluk-makhluk lainnya.

Kesadaran yang membuat manusia berhasil masuk nominasi sebagai khalifah di muka bumi. Dan pada akhirnya, kesadaran ini pulalah yang membuat manusia tetap saja dipilih Sang Maha Pencipta untuk dijadikan khalifah, meski protes keras sempat dilontarkan oleh makhluk-makhluk lainnya, terutama malaikat yang mengatakan bahwa kesadaran dan hawa nafsu manusia amat tipis tingkatannya. Artinya manusia bisa “sadar”, tapi bisa juga kebablasan dan bahkan menjadi hina.

Idul fitri dengan demikian semestinya memiliki makna yang lebih dibandingkan dengan apa yang selama ini lebih banyak kita pahami sebagai “kembali ke kampung”, atau akrab di telinga dengan istilah mudik.

Dalam konteks ke-Indonesiaan, Idul fitri seperti diungkap Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir merupakan momentum untuk menjadikan Indonesia sebagai rumah milik bersama untuk maju menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Karena itu Indonesia bukan menjadi milik pendukung 01 atau pun 02, melainkan milik bersama yang mesti dijaga dan dirawat bersama pula. Tak boleh ada pihak-pihak yang berusaha merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang selama ini dibangun.

Seumpama rumah kita sendiri, ketika atap mengalami kebocoran dengan segera kita pun mengambil tangga dan memperbaiki kebocorannya. Saat rumah mulai tampak kusam, dengan sendiri pula kita ambil kuas dan cat untuk mempercantik kembali rumah kita.

Seperti rumah kita, seisi rumah sebisa mungkin dapat merasakan kenyamanan, kemerdekaan, perut yang sama-sama kenyang. Semua dipersiapkan, termasuk soal pendidikan. Itu dilakukan agar seisi rumah bisa merasakan kesejahteraan dan kemakmuran.  

Kedua, kembali mengutip Haedar Nashir, idul fitri juga merupakan momentum untuk memperluas rongga hati, saling memaafkan dan merekatkan kembali tali persaudaraan sebagai umat dan bangsa.

Ketegangan yang dilahirkan selama Pilpres 2019 sudah semestinya kembali mengendur. Keretakan silaturrahim yang terjadi akhibat perbedaan pilihan politik dalam pileg maupun pilpres 2019 bisa dapat rekat kembali.

Idul Fitri harus melahirkan manusia-manusia Indonesia yang baru. Bukan pendukung 01 atau pun 02. Yang bisa menerima perbedaan, terlebih yang bisa menghormati kemenangan orang lain, menerima kekalahan diri sendiri. Atau sebaliknya.

Karena baru saja kita melewat Pemilu dan Ramadhan 2019 yang hampir bersamaan, maka seyogyanya kita juga berharap bila politik tak melulu soal kekuasaan, kepentingan, dan konflik. Lebih dari itu, politik juga soal kepedulian. Peduli terhadap kondisi sosial masyarakat, bukan hanya simpati dan empati.

Tak heranlah bila terkadang politik disebut sebagai kepala dari segala urusan (ro’sul umur). Karena sifatnya yang melibatkan kepentingan orang banak. Ibnu Taimiyah pernah mengatakan, bahwa wilayah kekuasaan manusia (wilayatul amri nas) adalah kewajiban agama yang paling agung (a’dzomu wajibatu ad-din).

Pasca Pemilu dan Idul Fitri 2019 Indonesia membutuhkan politisi yang bisa tampil sebagai ‘masyarakat alternatif’ atau semacam advocate diabolic. Mereka mesti jadi penggagas politik kemanusiaan dan menjadi kelompok yang secara kritis berteriak terhadap kekhilafan sosial.

Paling terpenting, politisi pasca Pemilu dan Ramadhan 2019 harus memiliki etika kepedulian. Yang mampu mengajak orang lain untuk memperbaiki situasi dan struktur secara lebih komprehensif berdasarkan nilai khas Indonesia; silih asih, asilih asah, dan silih asuh dengan orang lain.

Pemilu 2019 sejatinya dapat meningkatkan kualitas demokrasi manusia Indonesia, sementara Ramadhan 2019 sejatinya melahirkan manusia Indoensia dengan kecerdasan spiritual dan sosial. Jadi tepatlah bila Idul Fitri kali ini kita jadikan sebagai momentum untuk ‘Rekonsiliasi’. Dengan begitu, maka pragmatisme dan hasrat kekuasaan semata dalam berpolitik ataupun menjalankan ibadah dapat terkubur secara dalam. [ ]