Kemendikbud Gelar Pertunjukan Wayang Kulit bersama Ki Warseno Slank

UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah menetapkan tradisi dan pertunjukan wayang Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

Kemendikbud Gelar Pertunjukan Wayang Kulit bersama Ki Warseno Slank
Pertunjukan wayang kulit Ki Warseno Slank  dengan lakon "Wisanggeni Lahir" di halaman Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat (15/11/19)/Foto: Humas Kemdikbud

MONITORDAY.COM - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit bersama Ki Warseno Slank  dengan lakon "Wisanggeni Lahir" di halaman Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat (15/11/19).

Acara tersebut dibuka oleh Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Dirjen Belmawa) Prof lsmunandar. Dalam sambutannya, Ismunandar mengatakan, bahwa acara pagelaran wayang kulit digelar dalam rangka memperingati hari wayang nasional yang jatuh pada tanggal 7 November kemarin dan sekaligus memperingati hari pahlawan.

"Kemendikbud mengucapkan selamat hari wayang nasional sekaligus hari pahlawan," katanya.

Ismunandar kemudian menyampaikan salam untuk penonton dan tamu undangan dari Mendikbud Nadhiem Makarim atau yang biasa disapa Mas Menteri yang pada kesempatan itu berhalangan hadir. Ia kemudian mengaku didaulat untuk menyampaikan beberapa pesan untuk mewakili Dirjen Kebudayan, Hilmar Farid yang juga tak bisa hadir.

"Karena Pak hilmar yan seharusnya memberikan sambutan mewakili Mas Menteri, karena sekarang sedang ada rapat, maka saya akan mencoba menyampaikan beberapa hal yang disiapkan oleh Pak Hilmar," ujarnya.

Ismunadar mengingatkan, bahwa UNESCO pada tanggal 7 November 2003 telah menetapkan tradisi dan pertunjukan wayang Indonesia sebagai warisan budaya dunia.

"Pengakuan wayang ini, berdampak besar menjadi citra positif Indonesia di mata dunia," pungkasnya.

Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa wayang sejatinya adalah refleksi kehidupan. Nilai-nilai wayang, yang memuat tatanan jiwa yang damai, ksatria, harmonis, dan gotong-royong sesungguhnya adalah falsafah timur untuk mengimplementasikan falsafah pancasila.

"Karena itu, penetapan hari wayang menjadi momen puncak kesadaran kecintaan wayang dalam melestarikan, mengembangkan, dan  mengkaji wayang dalam sumbangsihnya untuk mewujudkan kebudayaan yang humanis dan modern," ujarnya.

Ia kemudian berharap, pertunjukan tersebut berlangsung sukses dan menjadi cerminan bagi masyarakat Indonesia untuk terus berkarya.

"Pertunjukan "Wisanggeni Lahir" ini, katanya sedang menafsirkan Mas Menteri yang baru. Yang saat ini sedang menjadi kawah candradimuka untuk menyelesaikan tugas beliau," tandasnya.