Laporan Muller : Akhir Drama Dugaan Selingkuh Trump dengan Rusia?

Selingkuh atau isu perempuan bukan hal baru bagi Trump. Namun perselingkuhan politis dalam pembentukan opini dan mengintip kelemahan kubu Hillary di pilpres lalu memasuki babak baru. Publik AS tidak bisa menerima begitu saja keterlibatan asing. Apalagi Rusia yang notabene meruapakan pesaing terkuatnya dalam konstelasi politik, militer, dan ekonomi dunia.

MONITORDAY.COM – Selingkuh atau isu perempuan bukan hal baru bagi Trump. Namun perselingkuhan politis dalam pembentukan opini dan mengintip kelemahan kubu Hillary di pilpres lalu memasuki babak baru. Publik AS tidak bisa menerima begitu saja keterlibatan asing. Apalagi Rusia yang notabene meruapakan pesaing terkuatnya dalam konstelasi politik, militer, dan ekonomi dunia.

Hampir setengah warga negara Amerika masih percaya bahwa Presiden Donald Trump bekerja sama dengan Rusia untuk ikut campur dalam pemilihan presiden 2016. Penasihat Khusus Robert Mueller membersihkan Trump dari tuduhan itu. Namun menurut jajak pendapat Reuters / Ipsos terbaru memperlihatkan hal yang berbeda.

Penyelidikan yang dikomandoi Muller mungkin akan meredakan gejolok bara dalam sekam dalam politik AS. Namun isu ini menjadi duri dalam daging bila Trump kembali mencalonkan diri kembali dalam Pilpres untuk masa jabatan keduanya kelak. Tak hanya itu, isu ini juga akan mendelegitimasi visinya untuk menjadikan AS kembali menjadi ‘yang terkuat’ di segala lini dalam percaturan kekuatan antar negara.

Orang Amerika merasa sedikit lebih positif tentang Trump setelah mempelajari temuan investigasi 22 bulan terhadap campur tangan Rusia dalam pemilu. Demikian menurut hasil jajak pendapat nasional yang dirilis pada hari Selasa itu.

Trump tetap menjadi tokoh kontroversial. Namun, apakah kontroversi seputar kasus ini merugikan baginya? Belum tentu. Trump dikenal justru bisa menangguk untuk dari setiap pemberitaan dan sorotan publik.

Tetapi ringkasan empat halaman investigasi Mueller dari Jaksa Agung AS William Barr tidak banyak mengubah opini publik tentang dugaan hubungan presiden dengan Rusia atau memuaskan keinginan publik untuk mempelajari dan mencermatinya lebih lanjut. Tak serta merta publik percaya. Akan banyak penelitian dan kajian yang berusaha membongkar dugaan skandal itu. Tentu dengan energi yang tidak sedikit.

Menurut ringkasan Barr yang dirilis pada hari Minggu, Mueller tidak menemukan bukti bahwa kampanye Trump bersekongkol dengan Rusia dalam pemilu 2016, tetapi tidak membebaskan presiden pada pertanyaan menghalangi penyelidikan.

Ketika ditanya secara khusus tentang tuduhan kolusi dan penghalang keadilan, 48 persen responden jajak pendapat mengatakan mereka percaya "Trump atau seseorang dari kampanyenya bekerja dengan Rusia untuk mempengaruhi pemilu 2016," turun 6 poin persentase dari minggu lalu.

Lima puluh tiga persen mengatakan "Trump mencoba menghentikan penyelidikan pengaruh Rusia pada pemerintahannya," turun 2 poin dari minggu lalu. Demikian dilaporkan Reuters.

Opini publik terpecah secara tajam di sepanjang garis partai, dengan Demokrat jauh lebih mungkin daripada Republik untuk percaya bahwa Trump berkolusi dengan Rusia dan menghalangi keadilan.

Jajak pendapat Reuters / Ipsos mengukur reaksi publik di Amerika Serikat pada hari Senin dan Selasa, setelah ringkasan laporan dirilis, mengumpulkan tanggapan online dari 1.003 orang dewasa, termasuk 948 yang mengatakan bahwa mereka setidaknya telah mendengar tentang temuan ringkasan.