Perang Yang Lebih Besar

Kita semua saksi sejarah mengenai siapa yang paling banyak mengabaikan semangat untuk berpolitik secara damai itu, dan siapa yang penuh rasa hormat menjunjung tinggi citarasa hidup damai. Satu pihak menyerang secara agresif pihak lain. Dan yang diserang masih kalem, dengan sikap ‘tunggu dulu’ untuk melihat efek penghancurannya seperti apa.

Perang Yang Lebih Besar
Ilustrasi foto/Net

BUNG KARNO memekikkan semangat perjuangan membangun bangsa dengan satu idiom klasik: jasmerah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Dalam sejarah ada cermin tempat kita berkaca. Cermin itu disebut ‘kaca bengggala’, yang begitu jujur menampilkan wajah kita apa adanya. Wajah baik memantul baik, wajah buruk memantul buruk. Dan yang culas pun direkam menjadi wujud keculasan sebagaimana adanya. Cermin tak bisa mengurangi. Pun tak bisa menambah yang bukan-bukan.

Ini bukan karena pengaruh pihak lain. Sejarah, yang bagaikan cermin itu, tak pernah memihak ‘sana’ tak memihak ‘sini’. Dia hanya memihak dirinya sendiri. Dia kekuatan mandiri—otonom--, yang membuat kita agak malu: kita sering menjadi budak hawa nafsu. Sejarah bukan budak siapa-siapa. Kapan kita bisa semerdeka itu?

Seperti Bung Karno, sejarawan pun berpesan agar kita belajar dari sejarah. Kita diminta memetik kearifan masa lalu untuk menjadi guru kita hari ini dan pandu kita untuk menyeberangi samudera masa depan yang masih serba gelap. Pandu kita itu menerangi titik-titik gelap di sekitar kita. Dan kita lalu berjalan meninggalkan kegelapan menuju cahaya. “Dari gelap terbitlah terang”, itu ungkapan jiwa yang sudah memetik dengan baik pelajaran sejarah.

Dan kita pun tak melupakan sejarah. Pengalaman “pilkada” DKI tahun lalu itu disebut perang Badar oleh calon gubernur dengan rasa bangga. Sebelumnya seorang politisi tua menganggap demo yang mereka selenggarakan di lapangan Monas itu sama dengan perang Badar pula. Tapi mereka tak pernah menyerukan salawat Badar dengan penuh cinta. Salawat agung itu  hingga hari ini hanya diserukan oleh kaum nahdiyin dengan cinta dan kekaguman  mendalam pada para pejuang dalam Perang Badar itu.

Mengagung-agungkan kembali Perang Badar tanpa kerinduan yang tersimpan dalam salawatnya, mungkin  ibarat gelora cinta tanpa memahami apa artinya. Cinta pada Rasulullah SAW itu pengabdian. Dan kita selalu siap memetik teladan dari beliau.

Perang besar---dan terbesar dalam ‘tarikh’ Nabi itu--- oleh beliau disebut perang kecil. “Kita kembali dari perang kecil menuju perang yang lebih besar,” Sabda Rasulullah dan para sahabat heran setengah mati dan bertanya, loh, masih ada perang lagi yang lebih besar dari perang terbesar ini? Dan beliau menjawab ada, yaitu perang melawan hawa nafsu kita sendiri.

Dan kita pun terpana. Jadi, Perang Badar tak bisa dipahami secara terpisah dari perang selanjutnya. Sesudah menang “pilkada”, menang dengan dukungan kekuatan agamawan yang bersemangat mengumandangkan dalil-dalil dari kitab suci dan dukungan sarjana yang mengajarkan penggunaan politik masjid, apa kelanjutannya? Jiwa Snouck Horgronje itu terbungkam. Dia sudah puas dengan kemenangan jenis itu.

Ada perang yang lebih besar sesudah itu di dalam hati sang pejabat? Ada perang yang menggambarkan kebutuhan untuk lurus, jujur, amanah dan keinginan bekerja lebih baik? Kelihatannya tidak ada. Mereka sudah mencapai kenikmatan tertinggi dalam apa yang kita sebut  sekedar menang untuk menang itu. Ini politik duniawi biasa.  Moralitas tidak ada di dalamnya. Dan ini bukan hasil perjuangan yang disama-samakan dengan Perang Badar itu.   Di Jakarta tak pernah ada Perang Badar kecuali dalam benak orang yang sedang mengigau.

Pilkada pun berganti pemilu. Dan barangkali karena kita sudah belajar dari sejarah kegetiran pilkada DKI itu, kita lalu butuh cara berpolitik yang diwarnai moral. Kita butuh kedamaian. Kemudian kita bertekad  menyelenggarakan kampanye damai dan pemilu damai itu.  Di sini damai itu artinya tidak menyerang orang lain. Damai tidak memfitnah. Jujur, apa adanya bisa menjadi sarana menciptakan suasana damai. Tak perlu menjelek-jelekkan orang lain bisa menimbulkan atmosfir politik yang membuat rakyat tenteram.

Kampanye damai tak mengandung manipulasi. Juga tidak ada niat menjatuhkan wibawa orang lain. Dan ini boleh disebut perang besar. Mungkin perang tersebsar bukan hanya dalam sejarah Nabi tapi terbesar dalam seluruh perang besar yang pernah terjadi di muka bumi jauh sebelum atau sesudah zaman Nabi.

Pada mulanya, ketika imbauan itu diterima dalam sejenis resepsi politik yang seolah bakal benar-benar membebaskan kita dari rasa cemas dan takut menjalani apa yang disebut tahun politik terkutuk itu, semua pihak yang terlibat dalam pemilu kelihatan semringah. Semua mirip seperti calon pejabat yang sedang membebek mengikuti sumpah jabatan.  Tapi sumpah itu tak punya konsekwensi untuk dijalankan. Jadi sesudah itu, kata damai itu lenyap dari muka bumi.

Satu pihak berkata, persetan dengan kampanye damai. Dan kampanye pun berlangsung penuh fitnah, intimidasi, kepalsuan, dan sumpah serapah pada pihak lain. Selebihnya muncul sejenis ‘political distrust’ dari satu pihak ke pihak lain.  Tujuannya untuk meraih kemenangan. Dan perlu dicatat bahwa ini bukan wajah damai itu. Distrust melahirkan kutukan, pelecehan dan segenap pancaran api kemarahan yang membuat kita takut dan cemas, mengapa tahun politik selalu begitu terkutuk?

Kita semua saksi sejarah mengenai siapa yang paling banyak mengabaikan semangat untuk berpolitik secara damai itu, dan siapa yang penuh rasa hormat menjunjung tinggi citarasa hidup damai. Satu pihak menyerang secara agresif pihak lain. Dan yang diserang masih kalem, dengan sikap ‘tunggu dulu’ untuk melihat efek penghancurannya seperti apa.

Ini potret agresivitas politik Prabowo yang tampaknya selalu gugup, tak terkendali, dan lupa terus menerus menjaga keluhuran jiwa di mata publik Indonesia. Selebihnya, ini juga gambaran wajah politik Jokowi yang ogah konflik frontal. Kebaikan hatinhya membuatnya lupa bahwa kali ini dia ada di medan tempur. Orang bilang, dalam politik ‘baik’ saja tidak cukup. Baik tidak menjanjikan keselamatan.

Tapi Jokowi berpendapat lain. “Siapa yang bilang begitu?” katanya. Orang boleh dikerubungi ulama, tapi apa artinya kalau orang-orang dar I dunia rohani itu lupa menyarankan bersikap baik dan berbuat baik? Boleh saja mereka meremehkan aku, bahwa aku naif dan tak bisa agresif. Tapi aku, yang bukan rohaniwan ini, punya guru ngaji, dan dalam diriku ada rohani yang berfungsi membikin politik lebih lembut, lebih halus dari sutera. Aku juga dibisiki para budayawan dan seniman yang berdatangan ke Istana, agar tak melupakan keluhuran budi. Apa ini tidak cukup?

Jangan salah. Aku menjalani hidup dengan sikap jiwa pasca Perang Badar. Aku pasif karena sengaja menahan diri agar tidak agresif. Aku kelihatan sunyi di luar, tapi gemuruh di dalam. Tiap hari, tiap detik, aku masih berperang terus. Apa ini bukan tanda ‘itibak’ pada Rasul yang agung itu? Aku memetik teladan untuk menempuh perang yang lebih besar seperti pesan Kanjeng Nabi yang Mulia lahir dan batinnya.