Pola Pikir Start Up dan Masa Depan Kemajuan

Pola Pikir Start Up dan Masa Depan Kemajuan
Sumber Gambar: id.techinasia.com

SALAH satu pendiri perusahaan jasa transfer online PayPal, Peter Thiel pernah menuliskan kata-kata menarik dalam pengantar bukunya Zero to One. Kata dia, “Every moment in business happens only once. The next Bill Gates will not build an operating system. The Next Larry Page or Sergey Brin won’t make a search engine. And the next Mark Zuckerberg won’t create a social network. If you are copiying these guys, you aren’t learning from them.”

Menurut Peter Thiel, jika kita hanya meneruskan dan mereflikasi Microsoft, Facebook, Google, dan startup besar lainnya, maka kita tidak akan bisa sebesar mereka. Karena momentum bisnisnya sudah lewat. Sebaliknya, jika kita melakukannya maka itu hanya akan mengukuhkan kebesaran mereka. Sementara yang lain hanya menjadi followers saja. 

Oleh karena itu, saran Peter, untuk menciptakan sesuatu yang baru, kita harus bergerak dari 0 ke 1. Kata dia, harus ada yang mampu menciptakan sesuatu yang belum ada, unik, dan cepat.
Harus diakui, jika kemajuan yang kita rasakan hari ini merupakan buah dari upaya keras James Watt. Seorang insinyur asal Skotlandia yang menemukan mesin uap sekitar awal abad ke-18. Sejak saat itu, hampir semua alat produksi berubah. Proses produksi yang sebelumnya sangat tergantung pada tenaga manusia, lalu berganti dengan mesin-mesin yang digerakan oleh tenaga uap.

Penemuan James Watt juga mampu mengubah wajah transportasi dunia saat itu yang masih sangat bergantung pada tenaga angin dan manusia. Sebuah kapal mampu digerakan dengan tenaga uap yang menggerakkan baling-baling ataupun roda kayuh.

Yang tak kalah penting, penemuan James Watt ternyata mampu mendorong perekonomian negara-negara di dunia terutama Inggris saat itu. Pendapatan perkapita mereka setelah perubahan itu naik enam kali lipat.

Persoalannya, penemuan-penemuan baru pasca James Watt tidak cukup kuat untuk mendorong perubahan ke tahap selanjutnya. Alhasil, baru dua abad setelah itu muncul penemuan baru berupa pembangkit tenaga listrik dan motor pembakaran dalam combustion chamber. Sekaligus mengantarkan umat manusia menuju revolusi industri 2.0.

Penemuan Baru di Era Digital
Barulah seabad kemudian, saat ditemukan teknologi digital dan internet, atau era revolusi industri 3.0, perubahan menjadi lebih cepat dan komprehensif. Mesin-mesin produksi berubah drastis dan makin canggih. Pendapatan perkapita negara-negara juga makin naik bekali-kali lipat jumlahnya. 

Tak butuh waktu lama, kita mun masuk dalam era revolusi industri 4.0 yang terjadi awal abad ke-21. Era dimana manusia telah menemukan pola baru dengan adanya kemajuan teknologi yang terjadi begitu cepat sehingga mengancam berbagai perusahaan yang lebih konvensional. Untuk menjadi besar di era ini, kita sebetunya hanya butuh menggunakan akal untuk berpikir.

Di titik ini, maka satu-satunya orang yang mampu membuktikan perkataan Peter Thiel di atas adalah temannya sendiri saat mendirikan PayPal, yaitu Elon Musk. Karena tak lama setelah mendirikan PayPal, Elon mendirikan Space X, Tesla, SolarCity, Hyperloop, Open AI, dan Neuralink. Start up-start up baru yang mampu melampau atau setidaknya menyamai kebesaran facebook, google, maupun Microsoft.

Salah satu kunci Elon Musk mampu merealisasikan bukan saja hanya satu ide, namun banyak ide revolusioner adalah karena ketika bekerja dia mulai dengan prinsip utamanya, atau konsep ‘First Principle’. Menurut Elon, first principle adalah meninggakkan kebiasaan lama dan memecahkan masalah dari akarnya terlebih dulu.

‘First principle’ sebenarnya merupakan konsep cara berpikir yang pertamakali diperkenalkan oleh Aristoteles dalam bukunya Physic. Di buku itu, Aristoteles mengajak orang untuk mencari hal sampai dasar sampai mentok dan tidak bisa dipecahkan (causa prima).

Cara berpikir seperti ini mirip dengan cara anak kecil menanyakan sesuatu secara terus menerus, hingga orangtua tidak nyaman dan memilih untuk mengalihkan perhatian atau jawabannya kepada sesuatu yang berbau tahayul, atau pamali. Ini persis seperti yang dikatakan George Shaw, bahwa hanya 2 persen orang berpikir, lalu 3 persen orang berpikir bahwa mereka berpikir, dan sisanya 95 persen orang memilih mati ketimbang berpikir. Banyak orang menganggap, berpikir itu sulit.

Padahal, seperti dikatakan banyak ilmuwan, bahwa ‘first principle’ merupakan informasi yang didapat berdasarkan ilmu pengetahuan bukan berdasarkan pengalaman. Cara lain untuk berargumen dengan tidak memakai premis berdasarkan asumsi, namun fakta ilmiah.

Membangun Ekosistem Kemajuan
Lewat pola berpikir ini, manusia bisa belajar lebih baik jika mengetahui dasar dari apa yang dia pelajari. Cara berpikir ‘first principle’ mengajak kita untuk memahami makna paling mendasar dari bisnis yang kita jalani.

Dengan prinsip itu, kata Elon Musk, kita diajarkan agar tidak beranalogi berdasarkan pengalaman pribadi ataupun pemikiran umum, melainkan kita diajarkan untuk kembali pada prinsip yang kita percayai. Karena itu, kata dia, setelah menganalisa masalah secara mendetail kita harus memecahkan masalah tersebut dari akarnya, karena disanalah terdapat solusi yang lebih baik.

Ketika pertama kali membangun Tesla, orang-orang di sekitar Elon Musk sempat meragukan bisnis mobil listriknya itu akan terlaksana dengan baik. Karena komponen utama mobil listrik saat itu, yaitu baterai sangat mahal harganya.

Namun dari situ, Elon Musk justeru menemukan pangkal persoalannya, yaitu ketergantungan baterai pada baja, karbon, nikel dan aluminium. Dengan mengganti beberapa komponen, Elon Musk pun berhasil menciptakan baterai yang lebih murah.

Untuk menjadi besar di era sekarang dan masa depan, ternyata kita perlu menggunakan akal untuk berpikir. Sebuah tradisi yang dapat kita temui di dunia yang kadung mendapat sterotype, yakni filsafat. Karena dianggap aneh, nyeleneh, tidak berfaedah, atau bahkan melupakan ‘Sang Prima Causa’.

Meski kita juga tahu, jika kesan kurang sedap itu juga muncul karena seringkali filsafat memandang disiplin ilmu lain sebagai receh dan tidak memberi kemajuan berarti dalam hidup. Beda dengan filsasat yang tidak saja bisa menghasilkan revolusi, namun juga ‘ledakan’ dalam hidup.

Orang yang belajar filsafat memang seyogyanya menjadi tokoh pencetus ide dan perumus kebijakan. Namun bukan berarti juga menjauhi kerja teknis yang katanya memandekkan kemampuan kritis dan analisa mendalam.

Orang yang mendalami filsafat juga perlu terjun dalam dunia bisnis. Agar bisa memberi masukan konstruktif dari sisi esensinya. Filsafat bisa membantu kita mengiris bisnis secara substantif untuk melahirkan bisnis-bisnis baru.

Peter Thiel yang penulis kutip di awal tulisan ini, ada satu dari sekian lulusan filsafat yang sukses mengembangkan bisnis yang lebih besar atau setidaknya setara Google, Facebook, dan Microsoft. Thiel merupakan lulusan dari Stanford University.

Pun demikian juga mantan CEO Hewlett-Packard Carly Fiorina yang ternyata seorang sarjana filsafat. Atau pendiri start up Slack yang bernilai 2 miliar dolar, Stewart Butterfiled juga ternyata alumnus filsafat dari University of Victoria dan Cambridge. Last, ada pula pendiri situs Linkedln Reid Hoffman, milyuner yang ternyata meraih gelar master filsafat dari Oxford University.
Kendatipun saat ini nilai ekonomi digital Indonesia meroket ratusan persen, berkat kemunculan startup-startup dengan status decacorn, namun ujung-ujungnya lebih banyak yang memilih untuk mengcopy startup-startup yang sudah ada. Tidak merealiasikan ide revolosunioner lainnya.

Perlu diingat, selain seringkali tidak merealisasikan ide revolusioner ainnya, perubahan dan penemuan-penemuan baru dalam perjalanan sejarah juga kerap melahirkan momen-momen yang justeru tidak mendukung kemajuan melainkan kerusakan, seperti terjadinya perang dunia.

Di titik inilah filsafat perlu turun ke bumi dan bersama-sama membangun sebuah ekosistem yang mendukung kemajuan. Bukan saja untuk membantu kita mengetahui pertanyaan mendasar tentang bisnis yang kita jalani, tapi juga bagaimana mengetahui pertanyaan mendasar akan makna dari hidup, bagaimana caranya hidup, asal mula alam semesta, munculnya manusia dan tujuan keberadaan manusia.
*