Akhlak Bermedsos di Tahun Politik

Akhlak Bermedsos di Tahun Politik
Muchlas Rowie saat mengisi kuliah umum di Universitas Muhammadiyah Cirebon

Di era teknolgi informasi yang tengah berkembang sangat pesat seperti saat ini, komunikasi antarpersonal semakin mudah dilakukan. Dengan memanfaatkan media internet, maka hambatan komunikasi seperti jarak dan waktu sudah tak lagi dikhawatirkan.

Menariknya, dari beberapa penelitian yang dilakukan, ada tiga alasan utama orang Idonesia dalam menggunakan internet; pertama untuk mengakses sarana sosial/komunikasi, kedua sebagai sumber informasi harian, dan mengikuti perkembangan zaman. Hebatnya, tiga alasan utama tersebut dipraktekkan melalui kegiatan utama, yaitu menggunakan jejaring sosial, browsing, instant messaging, dan video streaming.

Betapa jejaring sosial, dijadikan tumpuan utama masyaakat kita untuk mengakses informasi. Itulah kenapa, media sosial pun tak ubahnya menjadi seperti senjata yang tajam. Satu sisi, medsos dapat digunakan untuk tujuan dan sarana kebaikan. Seperti informasi kegiatan, mengabarkan segala kejadian, menyambung silaturrahim dan media smart learning.

Namun medsos juga bisa menjadi senjata pembunuh massal. Kohesi sosial yang ratusan bahkan ribuan tahun dibangun, dengan singkat bisa hancur lebur. Akhlak generasi muda yang saban hari kita jaga juga dengan sekejap rusak. Dan yang kita saksikan saat ini, berita bohong dengan sangat mudah bisa mengubah persepsi orang. Informasi bohong banyak digunakan untuk kepentingan politik. Untuk meraih hasrat politik, apa pun menjadi halal, termasuk menebar hoax.

Karena itulah, akhlak dalam bermedia sosial sangat penting terutama bagi umat Islam. Ada beberapa ayat yang relevan dengan adab kita dalam menggunakan media ini. Misalkan menyangkut muroqobah (QS. Al-Ahzab [33:54]), bertanggungjawab (Al-Isra’ [17:36]), azas manfaat, dan selektif meneriman informasi (Al-Hujurat [49:6]).

Akhlak bermedsos menjadi penting, terutama karena lemahnya budaya literasi kita. Kita lebih suka dan mudah sekali membagikan postingan tanpa melakukan tabayyun digital terlebih dahulu.

Adanya budaya politik berbasis ketokohan, juga sedikit banyak membuat peta penyebaran informasi bohong menjadi kian luas. Kiranya, dengan memposting tulisan atau informasi dari seorang tokoh sudah menjamin keakuratan dan kebenarannya. Padahal, jangan kan kita masyarakat biasa, dewasa ini, sekelas professor atau bahkan orang yang menyebut dirinya sebagai ulama pun masih sering memposting berita hoax.

Hal penting lainnya agar kita bisa menangkal hoax, adalah menguatkan tradisi berpikir kritits. Perdebatan publik harus lebih cerdas dan menyangkut isu-isu substantial. Jangan kita berdebat hanya di wilayah benar atau salah, surga atau neraka. Karena sesungguhnya hanya Allah lah yang memiliki otoritas untuk menilai benar atau salah, surga atau neraka, bahkan kafir atau bukan.

Jangan sampai kita ribut mempersoalkan kelemahan-kelemahan personal apalagi yang menyangkut privasi. Di tahun politik, isu tentang keislaman dan ibadah kandidat yang akan dipilih dalam pilpres lebih banyak mendapat perhatian publik daripada isu program dan kebijakan.

Politik identitas sering dimanfaatkan untuk kepentingan politik praktis. Ketika pesta demokrasi usai, nasib konstituen pun terbengkalai karena tidak terbangunnya konsolidasi demokrasi yang mengarah pada pencapaian tujuan nasional.

Penting kiranya, kita melakukan apa yang disebut sebagai Social Network Analysis (SNA), salah satu alat dalam menganalisis konten hoax secara scientific. Salah satu sumber yang bisa jadi rujukan adalah situs drone emprit.

Dengan cara ini, hoax dapat dibedah secara komprehensif termasuk memetakan top influencer yang terlibat dalam merespon isu tersebut dan bagaimana rekomendasi bagi khalayak dalam menyikapi konten hoax tertentu.

Pada akhirnya, perlu ada komitmen yang proaktif dalam memerangi hoax, memperkuat tradisi literasi, dan bersinergi dalam membangun jurnalisme positip untuk kepentingan dakwah Islam.