Berkarya dan Bermitra, Kiat Mahasiswa Wujudkan Demokrasi Pancasila

Berkarya dan Bermitra, Kiat Mahasiswa Wujudkan Demokrasi Pancasila
Mahasiswa. (c) Google

MONITORDAY.COMSebagai negara penganut paham demokrasi, yakni demokrasi Pancasila, sistem pemerintahan Indonesia tidak dapat luput dari campur tangan rakyat. Sebab, demokrasi Pancasila merupakan cerminan kepribadian dan filsafat hidup bangsa Indonesia. Paham inilah yang menjadi poros kemajuan bangsa karena dijunjung tinggi oleh rakyatnya.

Mahasiswa, selaku calon pemimpin-pemimpin bangsa, sudah sepatutnya memahami dan mengamalkan demokrasi Pancasila. Mengingat Indonesia akan mengalami bonus demografi pada tahun 2020 hingga 2030, di mana jumlah angkatan kerja akan mencapai 70 persen, mahasiswa harus bisa mengoptimalkan fenomena tersebut untuk mewujudkan demokrasi Pancasila. Karena, jika angkatan kerja yang mengalami bonus demografi tidak meningkatkan kualitas mereka, bonus demografi hanya akan menambah beban masyarakat. Untuk itu, kaum muda, khususnya mahasiswa, bisa menjadi agen perubahan dengan cara berkarya dan bermitra. Tetapi, sebelum melakukan kedua hal tersebut, mahasiswa harus memahami terlebih dahulu tentang demokrasi Pancasila; apa saja yang ingin dicapai melalui paham tersebut dan bagaimana cara mengimplementasikannya dalam diri.

Berkarya adalah salah satu kiat efektif mahasiswa dalam merealisasikan demokrasi Pancasila. Hal ini dikarenakan berkarya dapat dilakukan di mana saja, kapan saja, dan dalam bidang yang beragam. Karya adalah sebuah pekerjaan atau hasil ciptaan yang berbentuk fisik atau psikis. Tiap individu memiliki minat dan kegemaran yang bervariasi, sehingga, dengan mengembangkan diri di bidang pilihannya, seseorang bisa menciptakan perubahan di masyarakat.

Mahasiswa memiliki keleluasaan karena bidang mereka bersentuhan langsung dengan objek manusia sebagai makhluk sosial. Karya yang digarap mahasiswa dapat berupa penelitian masalah sosial, menyuarakan isu kepada pemerintah, baik secara individu atau organisasi, maupun melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Bukan berarti mahasiswa tidak dapat berkarya dalam bidang lain. Seni menjadi cara favorit kaum muda dalam menyampaikan pandangan mereka terhadap permasalahan di masyarakat. Apalagi pada era Revolusi Industri 4.0, ketika teknologi sudah menyatu dengan kehidupan bermasyarakat dan kaum muda memiliki banyak akses ke dunia maya, karya bisa semakin mudah disebarluaskan melalui media.

Para pemimpin, pembuat kebijakan, unsur organisasi dan komunitas, serta masyarakat harus bermitra untuk mewujudkan demokrasi Pancasila. Kecakapan berdiplomasi mahasiswa dibutuhkan dalam menyelaraskan visi dan misi dengan lembaga lain. Menyampaikan maksud dan tujuan bekerja sama adalah langkah awal menjalin relasi. Bentuk relasinya pun bermacam-macam; membuat kegiatan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat, khususnya kaum muda, tentang demokrasi Pancasila, atau bersama-sama memberi bantuan untuk masyarakat yang membutuhkan. Selain itu, mahasiswa dapat menjadi perantara suara masyarakat untuk mengadvokasikan permasalahan yang ada kepada pihak yang berwenang atau pembuat kebijakan.

Kaum muda berpendidikan Indonesia adalah sistem penggerak bangsa untuk maju. Melalui pemahaman yang benar, dilanjutkan dengan berkarya dan bermitra, mahasiswa dapat menjadi pelopor demokrasi Pancasila yang membawa pengaruh baik bagi masyarakat Indonesia.