BPN Prabowo-Sandi Dilaporkan Projo ke Bawaslu

BPN Prabowo-Sandi Dilaporkan Projo ke Bawaslu
Ilustrasi foto/ISTIMEWA

MONITORDAY - Relawan militan Joko Widodo (Jokowi) Projo melaporkan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ke Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) terkait adanya dugaan pelanggaran pemilu, Kamis (4/10).

Ketua Bidang Hukum DPP Projo, Silas Dutu mengatakan bahwa BPN Prabowo-Sandi telah melakukan pelanggaran karena telah menyebarkan berita bohong yang dilakukan oleh anggotanya Ratna Sarumpaet yang mengaku dianiaya oleh oknum di Bandung.

"Capres Nomor Urut 02 Prabowo Subianto dan politisi-politisi yang tergabung dalam Badan Pemenangan Prabowo-Sandi telah menyebarkan dan menyampaikan berita bohong tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet secara sistematis, terstruktur dan masif," kata Silas dalam keterangan tertulisnya, Kamis (4/10).

Menurut Silas, mereka pantas dilaporkan karena dengan disebarnya berita bohong tersebut, maka mengarahkan dan membentuk opini publik untuk bahwa pemerintahan Jokowi adalah pemerintahan yang represif, melanggar HAM, pemerintahan yang tidak perduli perempuan, orang miskin, mengabaikan keadilan dan pemerintahan yang merusak demokrasi.

"Akibat dari pernyataan-pernyataan bohong capres Prabowo Nomor Urut 02 dan politisi-politisi yang tergabung dalam Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandi, Jokowi selaku Capres Nomor Urut 01 dan selaku incumbent mendapatkan sentimen negatif publik dan pemilih sehingga merugikan elektoral Jokowi," terangnya.

Dalam pelaporan itu, Projo melampirkan berkas berupa print out media online, dan 4 file video dengan format MP4 dengan menampilkan Fadli Zon, Fahri Hamzah, Hanum Rais dan Prabowo Subianto. Silas mengatakan, BPN Prabowo-Sandiaga telah menyebarkan dan menyampaikan berita bohong atau hoaks tentang penganiayaan Ratna Sarumpaet.

Seperti diketahui, Sebelumnya, beredar kabar aktivis Ratna Sarumpaet menjadi korban pengeroyokan sejumlah orang tidak dikenal di sekitar Bandara Husein Sastranegara Bandung Jawa Barat pada (21/9). Ia mengaku dianiaya sejumlah orang usai menghadiri pertemuan internasional bersama dua rekannya warga negara asing saat menuju Bandara Husein Sastranegara.

Usai aparat kepolisian menyatakan tidak menemukan fakta, saksi maupun informasi terkait penganiayaan yang dialami Ratna Sarumpaet, kemudian Ia memohon maaf lantaran telah menyampaikan kebohongan terkait dengan informasi pengeroyokan tersebut.