Dualisme Presiden Venezuela dan Intervensi Trump

MONITORDAY.COM - Pemimpin muda ini masih berusia 35 tahun. Ia karismatik. Pemuda ini bukan pemain baru dalam perpolitikan Venezuela. Sebagai aktivis mahasiswa, Juan Guaido memimpin teman-temannya dalam menyuarakan kehendak rakyat. Kepemimpinannya jelas otentik dan menjanjikan.

Pemimpin oposisi Guaido terlibat dalam gerakan politik yang dipimpin mahasiswa menentang presiden Hugo Chavez yang mengkonsolidasi kekuasannya pada tahun 2007. Di negeri kaya minyak itu politiknya tak menentu hingga kini. Lepas dari kekuasaan rezim Chavez, Venezuela berada dalam genggaman Nicholas Maduro.  

Namanya belumlah dikenal dunia hingga krisis politik yang runyam menyeret negeri itu dalam dualisme kepemimpinan. Guaido mendeklarasikan diri sebagai presiden interim atau sementara Venezeula. Negara Amerika Latin ini memiliki dua presiden karena Nicolas Maduro sudah lebih dulu dilantik sebagai presiden yang sah berdasarkan konstitusi di negara tersebut.

Krisis politik di negara Amerika Latin ini jadi sorotan masyarakat internasional setelah Amerika Serikat (AS) dan Brasil mengakui Guaido sebagai presiden interim Venezuela dan tidak mengakui Maduro sebagai pemimpin negara tersebut.

Menanggapi pengakuan Trump terhadap pemimpin oposisi, Maduro kemudian memberi waktu 72 jam kepada semua staf diplomat AS di Venezuela agar meninggalkan negara itu.

Dualisme kepemimpinan ini telah direspons militer setempat. Menteri Pertahanan Vladimir Padrino mengatakan militer negaranya akan terus mempertahankan konstitusi dan kedaulatan nasional. Dia menegaskan bahwa militer tidak akan menerima "presiden yang dipaksakan".

Guaido bersama mentor politiknya, Leopoldo López, mendirikan partai Popular Will pada 2009. Ia memimpin koalisi partai di Majelis Nasional yang mulai menjalankan mandatnya pada 5 Januari 2019.

Ayah satu anak ini  memimpin penyelidikan kasus korupsi pemerintahan Maduro di Majelis Nasional. Kepercayaan rakyat Venezuela agaknya telah runtuh seiring krisis ekonomi yang melanda beberapa tahun terakhir. Tak ayal kepemimpinan yang korup menjadi sasaran kemarahan publik yang cemas dengan ekonomi yang morat-marit.