Elektabilitas PDI-P dan Peluang Jokowi-Ma’ruf Amin

Elektabilitas PDI-P dan Peluang Jokowi-Ma’ruf Amin
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri mendeklarasikan Joko Widodo sebagai calon presiden yang akan diusung dalam Pemilu Presiden 2019.

SEBAGAI incumbent, peluang Jokowi-Ma’ruf Amin yang diusung koalisi sejumlah partai politik yang dimotori PDI-Perjuangan (PDI-P) relatif lebih besar daripada pasangan Prabowo-Sandiaga Uno. Dalam berbagai survey, elektabilitas Jokowi-Ma’ruf Amin sering dilaporkan di atas pasangan Prabowo-Sandiaga Uno.

Survei terbaru yang dilakukan LSI Denny JA, misalnya yang memotret elektabilitas partai-partai politik di 10 provinsi melaporkan PDI-P menjadi juara dengan elektabilitas teratas. Bersama dengan partai-partai yang menjadi rekan koalisinya,  maka total dukungan partai koalisi Jokowi-Maruf diprediksi unggul di atas dua digit di Provinsi Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, dan Lampung. Sedangkan di Provinsi Jawa Barat, Banten, DKI, dan Sumatera Selatan, meski total dukungan partai koalisi Jokowi lebih unggul, tetapi keunggulan hanya di bawah dua digit.

Survey yang telah mewawancarai 6 ribu responden di 10 provinsi terbesar yang dlakukan LSI Denny JA tentu belum bisa digeneralisasi mewakili kekuatan partai politik secara nasional. Namun demikian, indikasi PDI-P bakal berhasil mendulang suara yang besar di berbagai daerah bukan hal yang mustahil.

Sebagai partai politik besar yang Pemilu lalu sukses meraih suara terbanyak, wajar jika PDI-P dan koalisi partai lain yang mendukung Jokowi-Ma’ruf Amin optimis. Apa sebetulnya yang menjadi pilar penopang dan strategi yang dikembangkan PDI-P untuk terus mendulang suara dalam Pileg maupun Pilpres nanti?

 

Sejumlah Keunggulan

Dalam peta demokrasi, semua kontestan berhak melakukan berbagai hal untuk mendulang suara simpatisan mereka. Partai Gerindra, yang menjadi motor koalisi yang mengusung Prabowo-Sandiaga Uno diprediksi bakal menjadi partai terbesar nomor dua setelah PDI-P. Lonjakan suara Gerindra ini tentu tidak lepas dari figur Prabowo dan Sandiga Uno yang merupakan kandidat pesaing Jokowi-Ma’ruf Amin dalam Pilpres 2019.

Sebagai partai yang lebih lama berdiri dan memiliki akar kultural di tingkat massa, PDI-P diprediksi masih belum bisa disusul Gerindra. Dibandingkan partai politik lain, PDI-P hingga saat ini memiliki sejumlah keunggulan yang membuat partai pengusung Jokowi-Ma’ruf Amin ini diprediksi memiliki elektabilitas tertinggi. Sejumlah keunggulan PDI-P yang senantiasa dirawat dan menjadi andalan untuk meraup dukungan kontituen adalah:

Pertama, sebagai partai yang dikenal memiliki kepedulian terhadap nasib wong cilik, PDI-P memiliki pendukung tersendiri yang sebagian besar berasal dari kelas masyarakat menengah ke bawah. Berbagai program dan jargon yang selama ini dikembangkan Jokowi sebagai kader PDI-P, seperti program blusukan ke berbagai pasar rakyat, dengan ditambah lagi citra Jokowi yang dikenal bersahaja, diakui atau tidak menjadi nilai plus tersendiri. Menggaet simpati para pemilih dari golongan menengah ke bawah menjadi lebih mudah bagi Jokowi dan PDI-P, sebab konstruksi masyarakat yang merasa memiliki kesamaan nasib, tentu lebih mudah untuk ditarik menjadi konstituen mereka.

Kedua, sebagai partai yang dikenal mendukung semangat multikultural, bagi sebagian besar masyarakat yang tidak menginginkan Indonesia terlalu konservatif apalagi menjadi negara khilafah,  PDI-P memiliki nilai plus tersendiri. Meski sikap yang dipilih PDI-P ini seringkali beresiko mereka harus bersebrangan dengan kelompok Islam konservatif, dan Islam garis keras, tetapi citra sebagai “partai abangan” memiliki penggemar tersendiri di mata sebagian masyarakat.

Ketiga, sebagai partai yang identik dengan figur Bung Karno, PDI-P umumnya memiliki konstituen loyal, bahkan fanatik. Di sejumlah daerah, sudah bukan rahasia lagi jika PDI-P memiliki pendukung yang fanatik, yang tidak peduli apapun yang terjadi, yang penting mereka adalah orang-orang yang secara ideologis dan kultural merasa menjadi bagian dari keluarga besar Bung Karno. Walaupun belakangan ini, figur keluarga Bung Karno tidak lagi selalu manjur menjadi pendulang suara yang signifikan, tetapi loyalis Bung Karno yang identik dengan PDI-P tetap ada di masyarakat.

Keempat, dalam menghadapi Pilpres 2019, strategi Jokowi menggandeng Ma’ruf Amin adalah amunisi tambahan bagi PDI-P dan partai koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin untuk makin memperluas basis dukungannya. Kehadiran Ma’ruf Amin, jelas akan menjadi nilai plus tersendiri untuk menambah dukungan suara dari kelompok santri NU dan umat Islam lain.

 

Pemilih Milenial

Apakah sejumlah keunggulan PDI-P dan Jokowi di Pilleg maupun Pilpres tahun 2019 akan terbukti efektif mampu meraup suara yang paling banyak, tentu waktu yang akan membuktikan. Pertanyaannya adalah: jika PDI-P kembali menjadi juara bertahan sebagai partai politik terbesar, dari manakah sebenarnya basis dukungan suara konstituen PDI-P dan Jokowi?

Dengan sejumlah keunggulan yang dimiliki, PDI-P kemungkinan memang memiliki pendukung yang fanatik yang sudah dalam berbagai Pemilu selalu memilih partai berlambang banteng dengan moncong putih itu. Tetapi, masalahnya bagaimana peluang PDI-P dan Jakowi menarik simpati dari para pemilih milenial yang jumlahnya diperkirakan mencapai 75 juta suara itu? Bagaimana strategi yang dikembangkan PDI-P dan Jokowi dalam meraih simpati anak muda di era digital seperti sekarang ini?

Sebagai calon Presiden yang diusung PDI-P dan koalisasi partai lain, Jokowi tampaknya sudah menyadari arti penting menggaet simpati anak muda yang notabene adalah pemilih milenial. Berbeda dengan tampilan fisik Jokowi yang bersahaja, dan gesturnya yang tampak nDeso, kejutan penampilan Jokowi dalam sejumlah event internasional ternyata mampu membuktikan sisi-sisi milenial Jokowi yang di luar prediksi masyarakat umum.

Lebih dari sekadar penampilan fisik Jokowi yang dikonstruksi makin muda, seperti memakai jaket yang kemudian viral, melakukan kunjungan dengan mengendarai sepeda motor chopper-nya yang atraktif, dan juga dikenal sebagai Presiden yang kerap ngevlog, pilihan terminologi yang dipergunakan Jokowi dalam berbagai forum internasional, yang merujuk pada produk-produk industri budaya populer yang sedang digandrungi anak muda, seperti film seri televisi Game of Thrones membuktikan bahwa usia ternyata bukan satu-satunya ukuran untuk menjadi dan menarik simpati pemilih milenial.

Di atas kertas, peluang Jokowi-Ma’ruf Amin dan PDI-P untuk menang, sekali lagi memang besar. Tetapi, yang namanya politik tentu tidak semua bisa diprediksi. Bagaimana hasil akhir Pileg dan Pilpres 2019 nanti, semua tentu tergantung pada konsistensi masing-masing kandidat untuk menggaet simpati para pemilihnya. Yang jelas, di era masyarakat yang makin kritis, strategi kampanye yang hanya mengandalkan  hoaks dan caci maki, niscaya tidak lagi efektif.