Empat Tahun Pemerintahan Jokowi, Masyarakat Yakin Kondisi Ekonomi Semakin Baik

Empat Tahun Pemerintahan Jokowi, Masyarakat Yakin Kondisi Ekonomi Semakin Baik
Ilustrasi foto/Net

MONITORDAY.COM – Hasil Survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang dirilis beberapa waktu lalu menarik untuk kita telaah. Survei ini berhasil mengungkap bahwa 70,3 persen responden menilai ekonomi dalam keadaan baik-baik saja. Optimisme tersebut cenderung menguat dibanding survei serupa yang pada bulan Agustus. Saat itu, situasi ekonomi dalam keadaan baik sebanyak 62,5 persen.

Direktur Eksekutif Tali Foundation dan Praktisi Ekonomi Digital, Jusman Dalle menyatakan, bahwa perekonomian Indonesia relatif punya daya tahan yang ampuh meredam berbagai gejolak yang terjadi bila dibanding negara lain di lingkup Asia Tenggara atau bahkan Asia. Dia mencontohkan, pergerakan nilai tukar Rupiah direspons cepat oleh otoritas moneter dan pemerintah. "Mata uang Garuda kembali perkasa beranjak meninggalkan nilai psikologis Rp15.000/USD. Situasi ekonomi yang terkendali seperti ini yang menguatkan optimisme terhadap ekonomi Indonesia," ujar Jusman dalam keterangannya, Senin (3/12).

Menurut Jusman optimisme rakyat dan pemerintah merupakan kekuatan untuk mengarungi tahun politik. Pasalnya, agenda politik lima tahunan tersebut menjadi pijakan untuk melanjutkan pembangunan ekonomi dengan kompleksitas problem yang menumpuk. "Persoalan ekonomi yang bukan semata soal menaikkan gaji pegawai, memotong pajak kendaraan atau menyediakan sembako dengan harga terjangkau," ucapnya.

Jusman menuturkan bahwa kompleksitas masalah ekonomi yang dihadapi saat ini jauh lebih dalam. Mulai dari gap pembangunan antar wilayah, ketimpangan pendapatan, konektivitas, infrastruktur hingga pengelolaan sumber daya alam dan sumber daya manusia. Berbagai persoalan tersebut , kata dia tengah berupaya diurai satu persatu dan ditemukan pangkal masalah dan solusinya. "Kita optimis bahwa kapasitas pemerintah dan energi rakyat jauh lebih besar dari tumpukan problem tersebut," tandasnya.

Sebagai negara yang menyandang predikat pasar berkembang, kata Jusman Indonesia sangat membutuhkan pembangunan infrastruktur untuk membuka potensi pertumbuhan ekonomi. Infrastruktur merupakan aspek vital untuk mengakselerasi orkestra pembangunan, menebarkan pemerataan dan menjalin konektivitas antar wilayah. "Intinya infrastruktur menjadi fondasi untuk scale up ekonomi Indonesia ke level negara maju," tandasnya.

Optimisme semakin besar, kata dia ketika melihat upaya pemerintah memacu gerak laju pembangunan infrastruktur empat tahun terakhir. Sebab, Infrastruktur menjadi program andalan pemerintah untuk memecahkan simpul-simpul problem ekonomi seperti masalah konektivitas hingga logistik.

Hasilnya, kata dia, Bank Dunia mencatat Logistic Performance Index (LPI) Indonesia merangsek ke posisi 46 secara global. Padahal, tahun 2010 LPI Indonesia masih berada di posisi 79. Dalam rentang waktu delapan tahun, Indonesia naik 29 peringkat. "Pencapaian tersebut selaras dengan peningkatan anggaran infrastuktur dari Rp 86 triliun pada tahun fiskal 2010, menjadi Rp 410,4 triliun pada APBN 2018," sebut dia.

Namun demikian, dia berharap agar agenda politik lima tahunan jangan sampai memadamkan api optimisme bangsa. "Sebaliknya, dinamika sengit memperebutkan dukungan rakyat, harus jadi ajang konsolidasi energi anak negeri agar Indonesia melompat lebih tinggi," pungkasnya.