Garap Isu Pasar Tradisional, Jokowi Diuntungkan Strategi Lawan

Garap Isu Pasar Tradisional, Jokowi Diuntungkan Strategi Lawan
Presiden Joko Widodo saat blusukan pe pasar tradisional

MONITORDAY.COM - Masa kampanye Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 sudah berjalan dua bulan. Kedua pasangan calon (paslon) Joko Widodo Maruf dan Prabowo- Sandi mulai menyasar isu Populis soal pasar tradisional yang paling dekat dengan mayoritas kehidupan masyarakat di Indonesia.

Direktur Eksekutif Tali Foundation, Jusman Dalle menilai, rivalitas Presiden Jokowi dan cawapres Sandiaga Uno dengan saling balas berkunjung ke pasar tradisional merupakan sesuatu yang baru. Sebab, hal itu tak pernah ditemukan dalam pilpres-pilpres sebelumnya. "Pasar rakyat menjadi arena bagi Jokowi dan Sandiaga merebut suara masyarakat bawah. Pasar tradisional yang identik sebagai sentra ekonomi rakyat menjelma jadi gelanggang perang guna merebut kuasa," ujar Jusman dalam keteranganya, Minggu (9/12).

Menurut Jusman berbagai isu ekonomi diolah. Seperti daya beli, stabilitas harga pangan dan sembako, infrastruktur pasar hingga isu keberpihakan kepada pedangan kaki lima. Isu-isu tersebut, kata dia merupakan santapan harian masyarakat di bawah. "Pasar adalah pusat pergumulan rakyat yang kerap luput dari para pemangku jabatan di Ibu Kota," kata dia.

Jusman berpendapat, kehadiran kontestan Pilpres di pasar tradisional berdampak positif karena simbol ekonomi dasar rakyat menuai sorotan masif. Dampak pemberitaan tersebut tentu saja membuka tabir dinamika ekonomi masyarakat di kampung-kampung dan menjadi input berharga dan pijakan kuat bagi calon pemimpin Indonesia dalam meramu kebijakan yang konstruktif.

Dengan kondisi itu, kata Jusman genderang perang pasar tradisional yang ditabuh Sandiaga selaku penantang, sebetulnya menguntungkan bagi Presiden Jokowi. Sebab, hal itu semakin mengokohkan branding mantan Wali Kota Surakarta itu sebagai pemimpin yang selalu turun ke bawah. "Meski terkesan terbawa irama permainan lawan," kata dia.

Namun yang patut diingat, kata Jusman Jokowi muncul di kancah kepemimpinan nasional berkat gaya ikoniknya, blusukan. Dengan memancing Jokowi agar terus-menerus turun ke bawah bisa jadi membangkitkan memori publik akan resistensi terhadap gaya kepemimpinan elitis. "Kesan yang harus diakui lebih dekat pada sosok Prabowo Subianto dengan latar belakang militernya yang disiplin dengan stratifikasi atasan-bawahan. Juga Identifikasi yang tampak dari gaya pakaian formal," jelasnya.

Intensitas blusukan ke pasar-pasar, kata Jusman tentu berdampak ganda bagi Jokowi sebagai petahana. Sebab, mantan Gubernur DKI Jakarta itu semakin memahami situasi riil kehidupan ekonomi masyarakat, sehinggaTak cuma menerima dan membaca dari secarik laporan para pembantunya yang bisa jadi tidak akurat. "Insight-insight yang dikumpulkan dari gelanggang perang pasar tradisional, malah bisa berbalik jadi senjata bagi petahana," kata dia.

Hal itu kata Jusman menjadi alarm pertanda bahaya, bahwa kompetisi mengejar elektabilitas Jokowi-Maruf bakal semakin terjal bagi Prabowo-Sandiaga. Apalagi Jokowi telah ancang-ancang bakal mengintensifkan program-program populis  pada tahun 2019 dengan privilese yang diampu sebagai petahana. "Lagipula  Jokowi tengah berupaya untuk keluar dari perangkap elektabilitas yang cenderung bergerak lamban," kata dia

Merujuk pada survei terbaru LSI Denny JA, elektabilitas Jokowi-Maruf bertengger di angka 53,2%. Sementara Prabowo-Sandiaga sebesar 31,2%.

Dengan hasil itu, Jusman memprediksi Tahun 2019 bakal dibuka dengan tensi yang semakin sengit. Alasannya, Jokowi-Maruf berupaya mengamankan posisi elektabilitas di atas 60%. Sementara Prabowo-Sandiaga mendapat angin dengan besarnya angka swing voters. "Dengan gambaran situasi yang mulai menegangkan tersebut, kita berharap, empat bulan tersisa diwarnai dengan kampanye bertabur narasi sarat esensi. Terutama soal isu-isu ekonomi," pungkasnya.