FISIP UMJ Kampus Pertama di Indonesia yang Rayakan World Social Work Day

FISIP UMJ Kampus Pertama di Indonesia yang Rayakan World Social Work Day
Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Adi Fahrudin, Jakarta (21/3)/Foto: Alfan

MONITORDAY.COM - Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Prof. Adi Fahrudin, Ph.D, mengungkap asal mula ditetapkannya perayaan Hari Pekerja Sosial Sedunia.

Hal tersebut diungkapkan pada acara puncak semarak perayaan World Social Work Day (WSWD) yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Kesejahteraan Sosial (HMKS), FISIP, UMJ, pada Kamis (21/3) malam, Adi Fahrudin mengatakan bahwa UMJ adalah yang pertama kali merayakan hari pekerja sosial sedunia ini.

"Dilihat dari jejak digitalnya, bahwa kita Perguruan Tinggi pertama yang merayakan hari pekerja sosial ini, ketika itu ditahun 2012 kalau tidak salah. Bahkan Kementrian Sosialpun tidak merayakannya," tutur Adi.

"Kalau saya bohong, kalian boleh lihat jejak digital nya, ada di website International Federation of Social Workers," tegasnya.

Kemudian Adi menyampaikan bahwa tema WSWD tahun ini "Promoting the Importance of Human Relationship", dan tema ini akan dipakai juga pada perayaan tahun 2020. Karena tema WSWD dipakai setiap dua tahun.

"Tahun ini dan tahun depan, perayaan WSWD bertemakan 'Promoting the Importance of Human Relationship'. Jadi sebenarnya tema ini setiap dua tahun, dan tema ini merupakan tema ke empat dalam Global Agenda of Social Work," ungkapnya.

Kemudian Adi juga menjelaskan bahwa tidak ada penetapan tanggal untuk perayaan WSWD, setiap tahun pasti berubah-ubah, tetapi yang pasti perayaan itu dirayakan di bulan Maret.

"Supaya kalian tidak salah kaprah, bahwa tidak ada tanggal pasti mengenai hari pekerjaan sosial. Karena sebenarnya lebih ditekankan pada bulan, bulan Perkerjaan Sosial," ujarnya.

"Coba kalian perhatikan tahun ini dan tahun depan tanggalnya berbeda tetapi tetap bulan maret. Tahun ini dirayakan pada 19 Maret, tahun depan 17 Maret, tahun 2021 16 Maret, tahun 2022 15 Maret dan tahun 2023 yaitu 21 Maret," papar Adi.

Tanggal tersebut diambil Karena mengambil peluang supaya Persyarikatan Bangsa Bangsa (PBB) bisa ikut merayakan.

"Tanggal itu diambil untuk mengambil kesempatan atau mengambil peluang, dimana PBB pada bulan maret itu mempunyai ruang untuk ikut merayakan perayaan hari pekerja sosial," jelas Guru Besar Ilmu Kesejahteraan Sosial itu.

"Jadi perlu kalian ketahui bahwa, hanya profesi pekerja sosial yang perayaannya dirayakan di markas besar PBB," tegasnya.

Diakhir Adi Fahrudin berharap kepada mahasiswa untuk menekuni profesi ini, karena orang-orang dibelahan dunia yang lainpun menekuni bidang ini secara serius.

"Harapan saya, mahasisa ilmu kesejahteraan sosial dapat menekuni profesi ini. Orang-orang dibelahan dunia yang lainpun menekuni bidang ini secara serius. Karena kalau nanti sudah ada UU pekerja sosial, kedudukan profesi pekerja sosial akan sangat kuat," tutupnya.