Guru Muhammadiyah Cilacap Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

Guru Muhammadiyah Cilacap Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0
Guru Muhammadiyah Cilacap Siap Hadapi Revolusi Industri 4.0

MONITORDAY - Guru-guru Muhammadiyah di Kabupaten Cilacap terus berbenah mempersiapkan diri dalam agar sekolah-sekolah Muhammadiyah dapat terus memberikan kontrubusinya bagi kemaslahatan umat dan bangsa,” ujar Ketua Majelis Dikdasmen PDM Cilacap Risdiyanto, S.Pd., M.M. saat memberikan sambutan pada kegiatan pembinaan guru-guru Muhammadiyah se-Kabupaten Cilacap yang diselenggarakan di SD Muhammadiyah 7 Cilacap, Rabu, 26 September 2018.

 

“Karena itu Majelis Dikdasmen berkomitmen untuk selalu melakukan pembinaan kepada guru-guru kami agar juga siap menghadapi Revolusi Industri 4.0,” ujar Risdiyanto.

 

Pada giat pembinaan ini hadir sebagai pembicara tunggal Sekretaris Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah H. R. Alpha Amirrachman, M.Phil., Ph.D.

 

“Sekolah Muhammadiyah tidak akan bisa terhindarkan dari gelombang digitalisasi yang hanya baru sebagian kecil dari awal revolusi industri ini.  Karena itu Majelis Dikdasmen PP Muhammadiyah menawarkan program digitalisasi EduMu (Edukasi Digital Muhammadiyah) yang akan membantu proses belajar dan akan membuat sekolah-sekolah Muhammadiyah terkoneksi satu sama lain dalam bentuk data besar yang akan sangat bermanfaat dalam memetakan mutu sekolah-sekolah Muhammadiyah,” ujar Alpha saat memberikan paparannya di hadapan kurang lebih 200 guru se-Kabupaten Cilacap.

 

Menurut Alpha, EduMu akan memunculkan ISMUBA (Al Islam, Kemuhammadiyahan dan Bahasa Arab) sebagai fitur unggulannya karena ini merupakan identitas sekolah Muhammadiyah yang membedakannya dari sekolah yang lain.

 

Alpha menambahkan agar guru siap menghadapi era baru ini maka perlu memperkuat basis etika guru Muhammadiyah yang mengacu pada Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah Ketiga Tahun 1921, di mana disebutkan orang Islam hendaknya memiliki dua sifat, yaitu sebagai ‘guru’ dan ‘murid’, artinya orang Islam harus selalu berbagi pengetahuan dengan mengajar tapi juga harus selalu mau belajar dari orang lain.

 

“Dari 48.501 guru sekolah Muhammadiyah di seluruh penjuru tanah air saat ini, Alhamdulillah sebagian besar sudah S-1. Namun ini tidak cukup, guru harus terus meningkatkan kompetensi dan profesionalitasnya. Guru harus selalu merasa ‘haus’ untuk terus belajar. Namun kita tidak bisa mengandalkan terus menerus pada pelatihan dari pemerintah. Kita harus lebih mandiri, karena itu UIS (Uang Iuran Siswa), UIG (Uang Iuran Guru) dan UIK (Uang Iuran Karyawan) perlu lebih diintensifkan agar Majelis Dikdasmen memiliki cukup daya untuk memberikan pembinaan bagi guru-guru,” ujar Alpha.

 

Menurut Alpha Ini penting agar guru kita selalu siap dengan berbagai perkembangan baru di dunia pedagogi, termasuk saat ini adalah HOTS (High Order Thinking Skills) atau berpikir aras tinggi.

 

“Guru sekolah Muhammadiyah juga perlu mempersiapkan diri memastikan siswa-siswa kita menguasai HOTS, di mana level 4, 5, dan 6 yaitu analyzing (menganalisis), evaluating (mengevaluasi) dan creating (mencipta) dikuasai oleh siswa, bukan hanya Low Order Thingking Skills (berpikir aras rendah) level 1 remembering (mengingat/menghapal), level 2 understanding (memahami) dan level 3 applying (mengaplikasikannya) sebagamana masih lumrah kita temukan di sekolah-sekolah kita,” pungkas Alpha di akhir paparannya.**