Haji Yang Merdeka

Haji Yang Merdeka
M. Muchlas Rowie/Ketua Umum Balad Jokowi
Kemerdekaan dan ibadah haji sejatinya menyempurnakan perubahan sosial atau teknologi apapun di masa depan.

ADA perasaan berbeda dalam perayaan kemerdekaan Indonesia kali ini. Terutama karena berbarengan dengan momentum pelaksanaan ibadah haji di tanah suci. Sedih, atas apa yang terjadi pada bangsa kita. Ringkih, karena serasa tak berdaya.

Kedua momentum penuh makna sejarah tersebut, pada akhirnya sama-sama mengingatkan kita pada sosok para pejuang teladan. Baik dalam konteks perjuangan bangsa Indonesia, maupun agama Islam. Terutama sang pejuang sejati, Muhammad. Tak mengenal lelah untuk mencerahkan dan memajukan umat dan bangsanya.

Tanpa mengecualikan peran penting para pejuang kemerdekaan bangsa, saya ingin mengajak kita semua untuk menelisik apa yang disampaikan sang pejuang sejati, dalam khutbah terakhirnya pada haji wada atau haji terakhir tahun ke-9 hijrah.

Khutbah terakhir tersebut niscaya dapat memantik kita untuk memaknai ibadah haji sekaligus kemerdekaan bangsa Indonesia ke-74 lebih dalam. Tak sekadar mampu melahirkan SDM yang unggul. Negara yang lebih maju. Tapi juga peradaban yang luhur. 

Kenapa demikian. Karena apa yang disampaikan Rasululah dalam wukuf di ‘Arofah, waktu itu sama sekali tidak menunjukan pada keajegan tanda, kode dan makna (meaning) sosial dalam ibadah haji.

Sebaliknya khutbah itu, seperti tercantum dalam Shahih Bukhari, menyangkut prinsip-prinsip dasar bagi kehidupan umat manusia. Pesan tersebut, misalnya; jaminan keamanan terhadap jiwa dan harta, menjaga amanat, penghapusan riba, hak dan kewajiban suami-istri, dan solidaritas.

Inilah makna-makna multiple scenarios, interpretasi alternatif terhadap ritual masa kini sebagai upaya menciptakan narasi-narasi, realitas dan masa depan yang berkemajuan. Muhammad memberikan interpretasi alternatif dalam khutbahnya di padang ‘Arofah sebagai quick respons terhadap kondisi kejahiliyahan saat itu, demikian pula untuk menciptakan smart society di masa depan.

Interpretasi alternatif tersebut kemudian menjadi derivasi dari misi profetis yang secara umum memiliki tiga tujuan: pertama, untuk menyatakan kebenaran, amar ma’ruf (humanisasi). Kedua, untuk berperang melawan kepalsuan, bathil dan penindasan, dzulm (liberasi) dan ketiga, membangun sebuah komunitas atau ummat yang berdasarkan atas kesetaran sosial, kasih sayang dan keimanan.

Tiga elemen dasar inilah yang sejatinya berlaku secara universal dalam seluruh babakan sejarah peradaban manusia. Tiga prinsip yang melekat pada diri Muhammad sang pembawa misi kebenaran, dus juga seharusnya dimiliki oleh umat lainnya dalam melakukan perubahan sosial menuju puncak peradabannya.

Sebagai wujud keyakinan tauhid, kita atau siapa pun juga harus menyangsikan setiap upaya pemahaman realitas yang hanya bersandar pada kaidah-kaidah humanisme, dan efisiensi teknologis, upaya penafsiran yang hanya akan melahirkan kepalsuan-kepalsuan pandangan hidup.

Pandangan dunia (manhaj) mekanistis yang mendistorsi dan membatasi cakupan jalan hidup (minhaj) kualitatif yang sangat menentukan bagi pemahaman dimensi-dimensi ekologis, sosial dan psikologis dari aktivitas hidup. Hal ini berarti bahwa masyarakat Indonesia harus semakin respek dan kritis terhadap realitas sosial. Sementara sebagai komitmen keberadaanya mereka harus melakukan perubahan sosial menuju tatanan masyarakat yang berkeadilan, dari suatu masyarakat terbelakang menuju masyarakat yang ultrakompleks, modern dan tentu saja smart—minadzulumaati ilannuur.

Disinilah pentingnya interpretasi alternatif dari sebuah ritual, symbol, mitos, tradisi, bahasa bahkan sejarah untuk menghadapi gejolak sosial, ketimpangan, dan ketidak beraturan. Seperti gelombang revolusi industri 4.0 yang terkadang memunculkan kegelisahan. Interpretasi alternatif niscaya akan menghasilkan inovasi dan solusi kritis untuk menghadapi realitas terkini.

Terakhir, kita diingatkan oleh Allah dalam al-Qur’an surah Ar-Ra’du ayat 11. Soal pentingnya melakukan perubahan (change). Bahwa Allah tidak akan mengubah suatu kaum hingga ia mengubah dirinya sendiri. Dengan apa? Jujur, ikhlas memberi, hemat, peduli, dan berjamaah (gotong royong).

Kemerdekaan dan ibadah haji sejatinya menyempurnakan perubahan digital yang saat ini santer. Dengan hati, rasa, dan bahkan spiritual. Ya, inilah momentum hijrah sebenarnya. Bukan tampilan semata, tapi juga jiwa. Jika sudah begitu, maka bangsa Indonesia terutama yang pulang dari tanah suci akan menjadi haji yang betul-betul merdeka. Dirgahayu Indonesia ke-74!