Harkitnas, Projo Serukan Kembali pada Cita-cita Besar Bangsa

Harkitnas, Projo Serukan Kembali pada Cita-cita Besar Bangsa
Ketua umum Projo, Budi Arie Setiadi.

MONITORDAY.COM - Dalam memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Ketua Umum organisasi militan pendukung Jokowi, ProJo, Budi Arie Setiadi mengingatkan bahwa sudah saatnya bangsa Indonesia kembali kepada jalurnya, yakni pengemban amanat cita-cita yang berlandaskan nilai dasar “gagasan bernegara”.

"Suatu cita-cita bagi Indonesia yang menjadi rumah bagi semua warga Indonesia, rumah yang nyaman untuk didiami, rumah yang menghidupi. Bukan yang menyingkirkan. Bukan yang mematikan," ujarnya, dalam keterangan tertulis, Senin (20/5). 

Budi Arie menjelaskan, bahwa Soekarno adalah yang merumuskan "gagasan bernegara". rumusan dari apa yang menjadi diskursus para “embrio bangsa”, suatu rumusan yang merupakan pensejajaran modernitas dan nilai-nilai ke-Indonesiaan. 

Dalam rumusannya, Soekarno – salah seorang “embrio bangsa” – menolak feodalisme, rasialisme, fanatisme keagamaan, dan monarki dengan mengedepankan nilai-nilai modernitas, yakni humanisme, demokrasi, keadilan, nasionalisme sejajar dengan pola-laku khas Indonesia yakni permusyawaratan. 

Masing-masing nilai yang dirumuskan Soekarno bersifat sama pentingnya, dan tidak ada satu kepentingannya melebihi atau mengatasi yang lain. Para “embrio bangsa” ini telah meletakkan gagasan dasar bernegara, suatu pembayangan bagaimana menjadi Indonesia.

Budi Arie mengatakan bahwa sejarah diperlukan bukan karena sensasi politiknya. Juga bukan sebagai sumber keteladanan nilai semata-mata. Tetapi pada percakapan terus menerus tentang kemanusiaan. 

Keteladanan tidak harus diikatkan pada masa lalu. Ia dapat berada di masa depan, yaitu pada ide-ide yang membuka ruang imajinasi peradaban. Cita-cita politik yang menimbulkan toleransi kemanusiaan adalah “sejarah sebagai proses terus-menerus untuk menjadi”.

Selain itu, Budi Arie menambahkan, bahwa apa yang menjadi ancaman bagi politik adalah ketika nilai-nilai dasar dikompromikan dengan kepentingan satu golongan. Artinya nilai-nilai dasar diletakkan di bawah kompromi, yang bahayanya, lama-kelamaan hasil-hasil kompromi kepada satu golongan jadi lebih menentukan dari nilai dasar. 

"Kalau terus-menerus demikian, maka upaya menuju Indonesia yang menjadi lebih baik tidak akan pernah tercapai, karena nilai-nilai dasar diinjak-injak kompromi kepentingan," ujarnya. 

Lebih lanjut, Budi Arie mengatakan bahwa proses Indonesia-yang-menjadi suatu tatanan kenegaraan dan kebangsaan demokratis, yang sekarang ini terus-menerus harus kita upayakan.

"Salah satu upaya kita adalah dengan mencari pemimpin yang bisa menjadi teladan untuk membawa Indonesia ke arah kemajuan dan kesejahteraan," ungkapnya. 

Yang pasti, Lanjut Budi, pemimpin bangsa bukan tipe manajer perusahaan, yang dikendalikan seorang investor yang menghitung politik dalam rumus efisiensi untung-rugi. Ia juga bukan bermental spekulan saham, yang mengejar margin keuntungan pada sebuah situasi ekonomi kritis, untuk kemudian hengkang mencari pasar jangka pendek lain. Pemimpin juga bukan pengecer ayat-ayat suci yang menjanjikan surga eksklusif sambil menebar kebencian pada sesama manusia. 

"Pemimpin adalah pemberi arah hidup sebuah bangsa. Ia menanam nilai untuk dituai orang lain, dalam jangka panjang. Pemimpin tidak berkelahi demi dendam politik, melainkan guru yang sabar mengajarkan keadilan dan kemerdekaan," tutupnya.