Kedai Kopi, Titik Awal Perubahan

Kedai Kopi, Titik Awal Perubahan

MONITORDAY.COM - Kalau kita ingat, terdapat banyak sastrawan hebat lahir dari kedai-kedai kopi. Termasuk Einstein, Marxim Gorky, Kafka juga besar melalui kedai-kedai kopi di Eropa sana. Kedai Kopi mungkin bagi sebagian orang hanya sekedar tempat nongkrong dan kongkow biasa. Tetapi, bagi sebagian lain warung kopi juga menjadi tempat berdiskusi, membaca, rapat bahkan mungkin saja melakukan perenungan semacam ritual antara dia dan kopi. 

Tapi, setidaknya banyak cara yang bisa dilakukan di kedai-kedai kopi. 

Namun sayang, citra kedai kopi kerap kali dianggap sebagian orang hanya untuk masyarakat kelas menengah keatas, karena mungkin mereka melihat kedai kopi pertama kali muncul di Mall-mall besar dengan logo dan merk yang sama besarnya terpampang jelas di halaman depan Mall.

Dari anggapan seperti itulah mungkin Kedai kopi sempat tidak digandrungi banyak orang khususnya kelas menengah ke bawah. Mereka jauh lebih memilih membeli kopi di warkop (warung kopi) dengan harga yang lebih murah dan sangat merakyat. 

Itu dulu, tapi tidak dengan hari ini, kedai-kedai kopi berjamuran dimana-mana, tak hanya di mall yang secara lokasi saja orang masih bertanya-tanya untuk datang dan membeli. Sekarang kedai-kedai kopi sangat mudah dan dapat kita temui di pinggir-pinggir jalan, ditengah-tengah kehidupan masyarakat, bahkan keberadaannya nyaris sama dengan warkop pada umumnya.

Kendati demikian, kedai kopi tetap berbeda dengan warkop yang umumnya menjual indomie telor, kopi sachet, es teh manis dan makanan minuman warung lainnya. Kedai kopi justru menyajikan kopi-kopi asli (bukan sachet) dari daerah-daerah Indonesia, seperti Kopi Kintamani Bali, Toraja, Kopi Bali Wine, Kopi Aceh Gayo, dan sebagainya. Dengan demikian cara penyajiannya pun berbeda, menggunakan alat-alat khusus disesuaikan tergantung keinginan konsumen.

Kedai-Kedai kopi, bisa kita temui tak terkecuali di sekitaran kampus, yang dianggap sebagian orang sebagai tempat berkumpulnya "agent of change" agen perubahan atau dianggap  sebagai ujung tombak dari sebuah peradaban. 

Kedai kopi memang secara historis sangat dekat kaitannya dengan pengetahuan, dan pendidikan. Maka wajar, jika orang kerapkali menyebut "Revolusi Kedai Kopi", karena seringkali penggerak revolusi datang dari statusnya sebagai mahasiswa atau setidaknya orang orang yang pernah mendapatkan pendidikan secara formal ataupun nonformal. intinya Revolusi dilakukan oleh orang-orang yang punya nalar kritis terhadap sesuatu. 

Kedai Kopi Marjinal Ciputat, "Kami Ada Karena Kalian Berhak Akan Kopi Enak”

Siapa yang tidak mengenal Kopi Marginal ? Berlokasi di daerah Ciputat samping kampus UIN Jakarta, atau orang lebih simple, menunjukkan lokasinya dengan penjelasan "Pas di depan rumah Mantan Rektor UIN Jakarta, Komaruddin Hidayat". Sejak itu orang sudah tidak lagi bingung dan kesasar untuk menuju kedai kopi Marjinal.

Kopi memang bukan hanya soal tempat, tapi juga soal rasa. Kedai Kopi Marjinal sepertinya menjadi solusi, dia menawarkan rasa Kopi berkualitas yang begitu nikmat dengan harga yang tentu saja jauh lebih bersahabat. 

Pembuatnya, juga alumni UIN, namanya Imam. Atau saya kerap kali memanggilnya "Om Imam", maklum dia lebih senior dan jauh beda umurnya. Kopi marjinal berdiri sejak tahun 2012. Buat saya dan sebagian orang, Om Imam termasuk salah satu pembuat kopi andalan di Tangerang Selatan.  Kalau soal tempat mungkin Marjinal tidak sebagus kedai kopi di Mall-mall, tapi soal Rasa Om Imam memang segalanya. Wajar saja Marjinal kerap kali didatangi dan menjadi tempat ritualnya orang-orang dari berbagai kalangan, termasuk Eks Basis Efek Rumah Kaca, Adrian Yunan, juga kerap kali datang menikmati nikmatnya kopi buatan tangan Om Imam, sambil bermain gitar, dan bernyanyi. 

Kopi Marjinal dibuka mulai malam hari, sekitar jam 20.00, dan tutup sampai larut malam, tenang saja, kopinya yang nikmat, ditambah dengan suasana yang tidak bising, menambah kesan khidmat dan serius dalam menjamu kopi buatan Om Imam.

Kopi di Marjinal beragam, yang yang jelas kopi nusantara buatan langsung tangan petani-petani Indonesia. Kalian bisa memesan kopi dengan bertanya langsung ke pembuatnya. Orangnya ramah kok, jadi santai saja. Kalau saya sangat suka kopi Espresso, entah dengan cara apa membuatnya, rasanya beda aja dengan espresso dikedai kopi lainnya. Pahitnya mantap, hitamnya pekat, dan agak kental, rasanya jangan ditanya. Terutama bagi para penjaga malam, mungkin Kopi Espresso bisa jadi salah satu pilihan agar malam lebih terjaga dengan sempurna.

Tak hanya kopi, Marginal juga menyediakan berbagai macam minuman kekinian, ada minuman kopitalis dengan varian rasa berbeda, Rasa Thai tea, Vanilla, bahkan taro. Termasuk makanan berat seperti ayam penyet pun ada. Tenang, Om imam tidak sendiri, dia bersama isterinya, yang siap melayani pesanan konsumen. 

Selain kopi, makanan dan minuman, terdapat juga buku-buku yang tentu saja boleh dibaca oleh siapapun tapi tidak untuk dibawa pulang yah, bahkan ada gitar yang juga siap dimainkan .

Soal harga terbilang cukup terjangkau, untuk dapat menikmati segelas kopi espresso saja, kita hanya cukup mengeluarkan kocek sebesar 14.000 rupiah. Soal rasa jangan ditanya. Seperti istilah "Harga Kali Lima, Rasa Bintang Lima". 

Selera memang tidak pernah bisa diperdebatkan dan pada akhirnya, rasa selalu membawa kemanapun kalian melangkah. 

Seperti sebuah kalimat yang telah lama tersemat pada kedai kopi marjinal "kami ada karena kalian Berhak akan kopi enak".