Kenduri Cinta : Pengajian Tradisional, Banyak Diminati Generasi Millenial.

Kenduri Cinta : Pengajian Tradisional, Banyak Diminati Generasi Millenial.

 

“Kenduri Cinta, majelis ilmu, sumur spiritual, laboratorium sosial, basis gerakan politik bahkan universitas jalanan yang tidak pernah habis pembahasan SKS nya, kurikulum dan mata kuliahnya selalu bertambah, dosennya adalah alam semesta.

 

Generasi millenial itu hadir dengan wajahnya yang berbeda, diikuti dengan minat dan kecenderungan yang berbeda maka wajar kerap kali sebuah produk dan konten mesti menyesuaikan dengan apa yang sedang diminati generasi millenial. Karena kalau tidak produk dan kontennya tidak akan dilahap oeh banyak orang. termasuk politik pun demikian. Seringkali partai politik atau bahkan politisi mengklaim bahwa partainya sangat millenial atau tokoh tertentu mewakili generasi millenial. Walaupun sebenarnya partai tersebut banyak didominasi oleh generasi bapak-bapak dan ibu-ibu. Ini menujukkan bahwa generasi millenial sangat dipertimbangkan oleh banyak pihak.

Namun ada hal yang unik dan menarik, ditengah  banyak pihak yang mencoba menyesuaikan diri dengan karakter millenial, Komunitas kenduri cinta di taman ismail marzuki tidak pernah kehilangan penonton millenialnya, bahkan mungkin hampir seluruh yang hadir adalah millenial, atau paling tidak orang yang masih menganggap dirinya punya semangat yang sama dengan millenial. Kendati demikian komunitas kenduri cinta telah 18 tahun konsisten mengadakan semacam pengajian, kajian atau diskusi dengan konsep yang sangat tradisional. Meski digelar ditengah-tengah kota metropolitan DKI Jakarta.

Terbukti, Semua yang berkaitan dengan millenial tidak melulu berkaitan dengan yang terbarukan dan modern. Nyatanya generasi millenial juga suka dengan nuansa yang tradisional seperti Kenduri Cinta.

Sebagaimana dalam forum-forum pada  umumnya yang memiliki seorang yang dituakan atau dianggap guru, di KC sosok yang kerap kali dituakan, digurukan itu adalah Emha Ainun Najib atau akrab disapa Caknun. Meskipun Caknun tidak pernah mau dianggap dirinya sebagai guru, karena dia hanya mau berteman dengan seluruh jamaah yang hadir.

Orang-orang yang hadir disana, seringkali disebut dengan “Jamaah Ma’iyah”. Terminologi itu hadir sesuai artinya Ma’iyah (bersama/kebersamaan), juga terinspirasi pada kebersamaannya sahabat Abu Bakar As-Shiddiq dengan Rasulullah SAW. Singkatnya, Caknun selalu berharap Jamaah ma’iyah dapat selalu bersama dalam suka dan duka, bersama dalam semua lini kehidupan, bersama senasib sepenanggungan.

Terdapat beberapa hal yang mambuat KC tetap eksis dan banyak digandrungi oleh generasi millenial sampai saat ini. Meskipun banyak kalangan tua, dosen, pengamat, bahkan aktris, pejabat publik yang hadir sebagai pembicara ataupun sebagai audien.

Pertama, sebagaimana karakternya, millenial tidak pernah mau didikte, diselaraskan atau disamakan pemikirannya, simplenya millenial enggan digurui. Dan KC dalam hal ini Caknun dalam memberi ceramahnya tidak pernah menggurui, apa yang disampaikannya adalah diskusi, dan terpenting Caknun selalu memberikan beberapa alternatif dan pilihan sehingga jamaah maiyah dapat bebas menggunakan pilihannya secara otoritatif sebagai makhluk yang merdeka. Tentu dengan konsekuensinya masing-masing. millenial lebih suka model atau cara-cara seperti itu, mereka cukup diarahkan dan diberikan pertimbangan pada setiap keputusan yang mereka lakukan, bukan sebaliknya, dipaksa dan diintervensi.

Kedua, bahasa yang digunakan dalam menyampaikan sesuatu sangat bervariasi, umumnya Caknun menggunakan bahasa dan istilah-istilah yang sederhana, kontekstual dan kontemporer namun sarat dengan makna dan hikmah yang bisa menjadi bekal spiritual kita untuk dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, KC selalu menghadirkan penampilan musik, sebagai selingan atau jeda antara materi satu dengan materi lain. narasumbernya juga bermacam-macam, budayawan, agamawan, pengamat, pejabat, aktris dan lain sebagainya. mungkin ini juga yang diminati generasi millenial, selain bisa mengaji, dan berdiskusi juga bisa bernyanyi dan menikmati penampilan yang telah disuguhkan.

Masih banyak hal unik dan menarik dari komunitas kenduri cinta. Apapun itu, karena acaranya yang tidak formal, memungkinkan semuanya dapat mengambil perannya masing-masing. ada yang berperan menjadi penonton, penjaga parkir, pembicara, petugas event, bahkan sampai pedagang rokok dan penjual kopi sepeda, kesemuanya menambah keseruan dan kesan khidmat, tidak ada yang lebih tinggi mana perannya semuanya sama. Sama-sama Jama’ah Ma’iyah, dan sama di Mata Allah SWT.

Untuk itu, siapapun bisa hadir dalam acara ini, dari yang muda sampai yang sudah berumur. Khususnya Generasi Millenial, tentu saja sangat bermanfaat mengikuti acara ini, selain karena menambah ilmu, wawasan, cakrawala berfikir, juga menjaga kewarasan, dan kultur diskusi yang kian lenyap dari bumi perkotaan seperti DKI Jakarta.

Pengajian Kenduri Cinta biasa diadakan sekali dalam sebulan, pada minggu kedua.dihalaman  TIM (Taman Ismail Marzuki), Cikini, Jakarta Pusat. Acaranya dimulai pukul 08.00 malam sampai tengah malam. pada minggu kedua kali ini, 12 Oktober 2018 KC juga akan hadir dengan tema “Bumi dan Manusia”. See You Millenia.