Ketika Buya Syafi'i Berbagi Rindu dan Optimisme di Tanah Kelahiran

Ketika Buya Syafi'i Berbagi Rindu dan Optimisme di Tanah Kelahiran
Buya Syafi'i Maarif saat tiba di Sumpurkudus/Net.

BAGI para pejuang rantau atau perantau, merantau sejatinya tak saja mengajarkan kemandirian namun juga ‘kerinduan’ dan optimisme. Hanya saja, kerinduan terkadang dibilang sesuatu yang absurd. Itu karena rindu tak memiliki tempat untuk diseriusi. Rindu tak pernah terjamah oleh penelitian barbau ilmiah.

Kalaupun ada, kerinduan akan kampung halaman biasanya berkutat pada tradisi mudik atau malah gangguang emosi atau apa yang disebut Josh Klapow sebagai homesick. Rindu dalam konteks ini disebut kebutuhan naluriah lantaran seseorang tak menemukan kasih sayang, perlindungan, dan rasa aman.

Jika sudah begitu, maka banyak orang yang berapologi menggunakan pepatah lama John Donne bahwa no man is an island. Bahwa kerinduan muncul karena sifat dasar manusia yang memang tak bisa hidup sendiri. Selalu merindukan kebersamaan, terutama dengan orang-orang di masa lalu. Itu sebabnya orang suka bernostalgia.

Sekilas pintas, itulah yang terasa ketika saya mengunjungi tanah kelahiran Buya Syafii Maarif, Sumpurkudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Bahwa siapa pun yang lahir di tanah ini, akan merasakan homesick. Rindu karena alam yang begitu indah. Rindu karena kehangatan masyarakatnya.

Sumpurkudus memang luar biasa, selama perjalanan menuju daerah terpencil dan di tengah perbukitan di Sumatera Barat ini, kita bisa melihat pemandangan nan elok sepanjang perjalanan. Tebing-tebing yang tinggi, dengan hamparan batu kars yang berusia ratusan tibu tahun. Serta lembah-lembah yang tak kalah elok dengan Lembah Harau atau Lembah Ngarai Sianok di Bukit Tinggi.

Belum lagi dari sisi budaya, terutama ketika disambut dengan talemping unggan dan tari gelombang. Talempong Unggan sangat unik, terdiri dari talempong terbuat dari kuningan (mirip dengan gamelan di Jawa) yang ditaruh di atas wadah terbuat dari kayu, dengan alat musik pengiring yang lain berupa dua gendang dan satu gong.

Lagu-lagu talempong unggan juga khas, tidak ada di tempat lain. Penamaan beberapa lagu biasanya berasal dari alam, misalnya ramo-ramo tabang tinggi, parakan kunto dan lain-lain. Konon dulunya, talemping unggan memiliki kekuatan gaib, oleh masyarakat disebut dengan ‘pitunang’.

Namun jika diresapi lebih dalam, maka kerinduan yang niscaya dirasakan para perantau dari Sumpurkudus tidaklah sekadar apa yang tadi disebut homesick semata. Melainkan kerinduan bagi mereka menjadi suatu hal yang elementer, bagi kekayaan batinnya, bagi pedalaman manusia itu sendiri.

Dan Buya Syafii Maarif adalah perantau yang menurut saya merasakan kedalaman rindu tersebut. Bagi orang seperti Buya, rindu itu ungkapan spiritual. Perjalanan menuju Sumpurkudus teramat terjal, butuh 5-6 jam perjalanan dari Kota Padang menuju kesana. Tapi itu tak dihiraukannya. Buya tetap antusias, untuk berbuat bagi kampung halamannya. Untuk meresmikan pendirian SMK Negeri 8 Sumpurkudus. Itupun bukan kali pertama ia mendorong bantuan untuk tanah kelahirannya. Pernah pula Buya mengajak direktur PLN ketika itu, untuk menerangi Sumpurkudur hingga ke pelosoknya.

Dan itu ia lakukan bukan untuk dirinya, kerinduan yang ada dalam jiwanya jauh dari egoisme. Itulah kenapa, Sumpurkudus, tanah kelahiran Buya Syafii disebutnya sebagai ‘Makkah Darat’. Frase ini dipungut dari sejarah Minangkabau era Islam yang telah tertimbun debu sejarah selama dua abad. Makkah Darat, tulis Buya dalam otobiografinya, merepresentasikan simbol pusat Islam di pedalaman minang yang memiliki sejarah panjang dalam proses pergumulan Islam dengan kultur Hindu-Buddhis.

Ya, Buya Syafii dalam konteks ini sesungguhnya ingin mengajak kita untuk meneladani para leluhur dalam menjalankan tradisi keberagamaannya. Karena seperti ditulis Karen Amstrong dalam bukunya ‘Awal Sejarah Tuhan’, perjalanan manusia mencari keberadaan penciptaannya itu sudah dimulai sejak dari zaman aksial (900-200 SM). Dan yang terpenting kata Karen, di zaman aksial manusia penuh kerendahan mencari tuhan, tanpa tendensius untuk keperluan pribadinya.

Buya, seperti juga Karen Amstrong, ingin menunjukkan betapa masyarakat zaman aksial pun hidup dalam masa penuh kekerasan seperti sekarang. Tapi agama-agama masa itu merespons dengan mengembangkan sikap berbela rasa, bukan dengan egoisme dan kebencian.

Buya Syafii juga Karen Amstrong, ingin kita berguru kepada para bijak aksial untuk mengembangkan nilai-nilai simpati dan berbela rasa seperti dikembangkan orang-orang bijak zaman aksial. Saat ini kita memang hidup dengan sentuhan teknologi yang super canggih. Kita menyebutnya era revolusi 4.0. Tapi untuk pendidikan spiritual, kita tertinggal dibanding orang-orang bijak zaman aksial.

Meski begitu, bukan berarti kita harus menjauhi kemajuan tekonologi dan larut dalam kerinduan semata. Seperti fitrahnya, manusia adalah entitas yang misterius sekaligus optimis. Bahwa manusia selalu berproses mengada. Dan proses tersebut bersifat trasendental.

Selembar daun hari ini ia berwarna hijau muda. Tapi esok akan menguning jua. Bahkan lusa ia terlepas dari rantingnya, lalu jatuh ke tanah. Semua proses itu bisa jadi tidak disadarinya, tapi sesungguhnya kehadirannya memiliki makna bagi dunia sekitarnya.

Jika proses kehidupan dijalani dengan sadar bahwa ada kehadiran sang maha pemberi kehidupan, maka semakin hari, selubung yang melekat dalam diri akan terkelupas. Manusia pada akhirnya akan sampai pada titik tertingginya. Yaitu manusia seutuhnya.

Seumpama selembar daun, Buya Syafii, kata Wakil Gubernur Sumatera Barat, Nasrul Abit layak untuk diteladani. Kehadirannya telah menginspirasi anak-anak di Sumatera Barat untuk menjadi perantau nan sukes namun tak lupa kampung halaman. 

Mari berguru kepada mereka, mari merindu kepada sikap berbela rasa, bukan dengan egoisme dan kebencian. Mari berguru pada Buya Syafi’i Maarif yang selalu ‘Rindu’ kepada kampung halaman, tapi tetap ‘Optimis’ di negeri orang.