KH Maimoen Zubair Wafat, Haedar Nashir : Beliau Sosok Ulama dan Politisi yang Beretika dan Berukhuwah

KH Maimoen Zubair Wafat, Haedar Nashir :  Beliau Sosok Ulama dan Politisi yang Beretika dan  Berukhuwah
Ucapan Duka Cita Muhammadiyah Untuk KH Maimoen Zubair (Doc.Muhammadiyah.or.id)

MONITORDAY.COM - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya Mustayar PBNU KH Maimoen Zubair atau akrab disapa Mbah Moen.

“Inna lillahi wa innaa ilaihi raji'un telah meninggal dunia Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair,” seperti dilansir laman resmi Muhammadiyah.or.id

Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir mengatakan, Mbah Moen merupakan tokoh Islam yang berkiprah panjang dalam perjuangan politik keumatan untuk kebangsaan.

“Beliau sosok yang gigih sampai usia lanjut, tidak kenal lelah berkonstribusi dalam pergumulan politik nasional,” ucap Haedar.

Haedar mengajak kepada masyarakat untuk bersama-sama mendo'akan agar beliau husnul khatimah.

“Semoga generasi politik kaum muda dapat meneruskan jejak perjuangan politik nasional yang mendepankan etika dan ukhuwah,” pungkas Haedar.

Seperti diberitakan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair atau yang akrab disapa Mbah Moen wafat di Tanah Suci, Makkah, pada Selasa (6/8) waktu setempat.

Dikutip dari keterangan laman wikipedia,  KH. Maimoen Zubair dilahirkan di Rembang Jawa Tengah pada 28 Oktober 1928. Beliau adalah seorang ulama dan politikus. Hingga akhir hayatnya merupakan Pimpinan Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang dan menjabat sebagai Ketua Majelis Syariah Partai Persatuan Pembangunan (PPP)

Dalam bidang politik, ayah dari Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin ini pernah menjadi anggota DPRD Kabupaten Rembang selama 7 tahun. Setelah berakhirnya masa tugas, ia mulai berkonsentrasi mengurus pondok pesantrennya. Tapi rupanya tenaga dan pikiran ia masih dibutuhkan oleh negara sehingga ia diangkat menjadi anggota MPR RI utusan Jawa Tengah selama tiga periode.