Lindungi Warisan Kita, Lindungi Jiwa Kita (Bagian 1)

Lindungi Warisan Kita, Lindungi Jiwa Kita (Bagian 1)
Reyog. (C) Google

MONITORDAY.COM Orang bilang tanah kita tanah surga. Ya, itulah Indonesia, negara kepulauan terbesar di dunia, dengan keajaiban-keajaibannya yang memukau. Budaya ramah tamah dan gotong royong yang sejak dari dulu menjadi ciri khas Indonesia, serta letak strategisnya yang dilintasi jalur perdagangan, tak heran jika Indonesia memiliki kebudayaan yang beragam.

Tidak perlu jauh-jauh berwisata ke luar negeri untuk menikmati keindahan alam. Indonesia punya semuanya. Baik itu tempat wisata alam, hingga wisata kebudayaan yang bahkan menarik hati wisatawan mancanegara. Di Indonesia, terdapat empat situs warisan cagar budaya dunia UNESCO, yakni, Candi Borobudur, Candi Prambanan, Situs Prasejarah Sangiran, dan Subak di Bali.

Menurut Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya, Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Ya, berwisata ke cagar budaya, selain sebagai hiburan, juga mengandung nilai-nilai berharga. Itulah mengapa cagar budaya harus dilindungi. Lantas, bagaimana dengan situs-situs budaya di Indonesia?

Cincin Api Pasifik, Bukan Cincin Biasa

Secara geografis, Indonesia terletak di daerah Ring of Fire, atau Cincin Api Pasifik, dimana daerah-daerah yang termasuk di dalamnya adalah daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi. Ada sekitar 127 gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Gunung-gunung tersebut dapat meletus kapan saja, dan situs-situs budaya di Indonesia bisa terkena dampaknya.

Berdasarkan Deklarasi Budapest tentang Warisan Dunia, disebutkan bahwa tiap negara harus bekerja sama dalam melindungi warisannya, dan menyadari bahwa merusak warisan tersebut sama saja merusak jiwa manusia dan warisan milik dunia. Untuk itu, penting bagi masyarakat dunia, khususnya Indonesia, mengetahui kiat-kiat mengurangi Meresiko bencana yang dapat merusak warisan budaya dunia.

Studi Mitigasi Bencana

Solusi yang dapat diajukan adalah studi mitigasi bencana. Seperti yang dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh (BPCB Aceh) pada tahun 2016 silam terhadap Cagar Budaya di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, hal ini bisa menjadi salah satu cara untuk mengantisipasi terjadinya bencana di sekitar cagar-cagar budaya.

Metode yang digunakan oleh tim BCPB Aceh ada enam; studi pustaka, survey lapangan, pengolahan data, pembuatan penilaian resiko bencana, pembuatan konsep mitigasi bencana, serta pembuatan peta rawan bencana dan pemetaan masalah terhadap cagar budaya. Kelak, metode yang digunakan dalam studi mitigasi bencana ini dapat dikembangkan dan pemerintah dapat membuat kebijakan untuk melakukan hal serupa.