LS-ViNus dan DEEP Gelar Kursus Singkat Pemilu dan Demokrasi Untuk Mahasiswa

LS-ViNus dan DEEP Gelar Kursus Singkat Pemilu dan Demokrasi Untuk Mahasiswa
Foto Bersama Pemateri dan Peserta Kursus Singkat Angkatan ke-4, Minggu, (3/3).

MONITORDAY.COM - Lembaga Studi Visi Nusantara (LS-ViNus) bekerjasama dengan Democracy and Electoral Empowerment Partnership (DEEP) gelar Kursus Singkat (KurSi), Pemilu dan Demokrasi angkatan ke-4, pada Minggu, (03/03/2019).

KurSi angkatan ke-4 ini di nilai sangat istimewa. Keistimewaan terletak pada 3 hal. Pertama, seluruh peserta terdiri dari unsur mahasiswa dari berbagai organisasi kemahasiswaan. Kedua, dilaksanakan di Ruang Sidang Paripurna Gedung DPRD Kab. Bogor. Ketiga, disi oleh narasumber yang mempunyai kapasitas dan kapabilitas nasional.

Kegiatan ini diikuti oleh 92 peserta, yang seleuruhnya dari kalangan mahasiswa. Tentu karena pesertanya mahasiswa maka forum KurSi kali ini amat sangat dinamis.

Sujana, S.E., M.M Kasubag Humas Protokol Sekretariat DPRD Kabupaten Bogor. Dalam sambutannya dia sangat memberikan apresiatif terhadap penyelenggaraan KurSi ini.

"Saya sangat berharap semua pihak terutama stakeholder pemilu dan demokrasi di kabupaten bogor memberikan perhatian terhadap isu-isu advokasi dan pendidikan demokrasi, apalagi menjelang pelaksanaan Pemilu 2019, banyak sekali informasi2 yang tidak bisa dipertanggung jawabkan beredar di tengah-tengah masyarakat," ujar Sujana.

Kemudian Sujana berharap juga kepada mahasiswa yang hadir untuk mampu merespon isu-isu yang muncul dengan rasional dan objektif sebelum memberikan informasi ke masyarakat.

Adapun narasumber yang terlibat pada KurSi angkatan ke-4 ini adalah : Yusfitriadi (Direktur DEEP) yang menyampaikan materi Generasi Milenial Merespon Pemilu. Daniel Zukhron (Bawaslu RI Periode 2012-2017) membawakan materi Demokrasi dan Pemilu dan Perspektif Filosofis dan Konseptual. Jeirry Sumampau (Koornas TePi Indonesia) Studi Kasus Pemilu dan Demokrasi bagi Generasi Milenial. dan Yusuf Kurnia (Komisioner Bawaslu Jawa Barat) memberikan materi Praktek Pemilu bagi Generasi Milenial.

Yusfitriadi dalam materinya memaparkan 4 hal yang harus dilakukan oleh generasi milenial untuk merespon permasalahan-permasalahan Pemilu dan potensi yang akan terjadi pada Pemilu 2019, yaitu: membuat simpul2 yang cerdas dan rasional, mengembangkan tradisi ilmiyah dan kritis, menguatkan advokasi dan edukasi dilingkaran simpul, berpartisipasi aktif dalam dinamika dan dialektika demokrasi dan Pemilu 2019.

Adapun Daniel Zuhron dalam materinya banyak menekankan pada hal-hal yang bersifat filosofis dan konseptual, seperti mengapa harus ada pemilu, esensi Pemilu dan demokrasi, orientasi Pemilu dan demokrasi serta tujuan demokrasi dan Pemilu.

Berbeda dengan Yusuf Kurnia, yang mengawali materinya dengan kasus viralnya video 3 emak-emak yang melakukan kampanye hitam di Kab. karawang Jawa Barat, dan meminta peserta untuk menyampaikan respon dan tanggapannya terhadap video tersebut. Dial juga menyampaikan kerangka hukum dari kejadian tersebut serta meminta peserra untuk melaporkan kepada bawaslu ketika menemukan berbagai pelanggaran Pemilu.

Kemudia Jeirry Sumampau, dalam materinya lebih menekankan kepada kedewasaan masyarakat dalam merespon isu-isu politik, termasuk politik uang dan politik transaksional. Dia juga banyak menyampaikan pentingnya pendidikan politik, demokrasi dan Pemilu sebagai upaya mempersiapkan generasi yang cerdas dan bertanggung jawab dalam menentukan pemimpin negeri ini.