Mengikat Makna Haji di Tengah Enigmatika Bangsa

Mengikat Makna Haji di Tengah Enigmatika Bangsa
M. Muchlas Rowie saat di Masjidil Haram/FB Muchlas Rowie.
Sebagai puncak ibadah, haji tak sekadar berlari-lari kecil (sya’i) atau wukuf di Arafah, namun ada makna terdalam di balik rangkaian ritualnya.

ADA banyak kisah yang dapat dituliskan dan inspirasi yang dapat dipetik ketika kita bicara tentang sejumlah orang yang memutuskan untuk meraih mimpinya ke luar negeri (migrasi). Ia tak melulu didominasi kisah pilu yang seringkali kita dengar dari para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang diperlakukan secara tidak manusiawi di luar negeri.

Baik yang bermaksud melanjutkan studi, ekspansi usaha, atau untuk melaksanakan ibadah haji di tanah suci. Untuk ibadah haji, banyak makna yang bisa kita ikat dan sejatinya dijadikan inspirasi dalam kehidupan di tanah air. Mulai dari bagaimana mereka melakukan persiapan untuk pergi haji, pelaksanaan rangkaian ibadah haji, maupun lika-liku pemulangan jamaah. Selalu ada secercah harap dan kisah menyejukkan yang dapat kita petik dari perjalanan hidup mereka di seberang sana.

Ada kisah Jefry Zain, yang diundang menunaikan haji dua kali tanpa harus membayar. Atau kisah Choiron Nasichin yang nekat pergi haji dengan cara nebeng pesawat rombongan ibadah haji. Hingga kisah Radiudin, seorang pemungut sampah yang tekun menabung dan berhasil sampai ke tanah suci.

Kisah-kisah mereka tidak kalah dramatis dan menginspirasi seumpama kisah Habibie dan Ainun, yang meneguhkan kita tentang cinta kepada pasangan dan tanah air. Atau juga kisah Andrea Herata dan saudaranya Arai, putera-putera Belitong, yang membuat kita makin percaya akan kekuatan mimpi dan pengorbanan.

Kisah-kisah mereka ini, bagai oase di tengah padang pasir yang tandus. Bagaimana tidak, disaat jagat media sosial kita diramaikan oleh sekumpulan narasi dan informasi soal konflik dan ancaman disintegrasi bangsa akibat ulah sekelompok massa, kita justru dikejutkan oleh cerita hebat ketertiban dan kebersamaan para Jemaah haji asal Indonesia.

Di saat sekelompok orang lebih senang mencibir pemerintah dan mengatakan; pertanian tak berdaulat, utang yang menggunung, pendidikan yang salah kaprah, dominasi asing-aseng, drama produksi mobil esemka, dan lain sebagainya, para jamaah haji kita terbukti bisa menunjukkan kesantunan dan citra positif bangsa Indonesia di tanah suci.

Padahal, bisa dibayangkan sesak dan rumitnya pengaturan jamaah haji asal Indonesia yang mencapai 215.377 orang jamaah. Namun nyatanya, jamaah asal Indonesia bisa sangat tertib beribadah dan memberi kesan positif di mata masyarakat dunia terutama arab Saudi selaku tuan rumah dalam penyelenggaraan ibadah haji.

Ini terlihat misalnya, dari keberadaan sejumlah toko perlengkapan ataupun pernak-pernih musim haji di Arab Saudi. Untuk menghormati dan melayani jamaah haji asal Indonesia, mereka sampai harus belajar bahasa Indonesia.

Jamaah haji Indonesia yang mereka kenal, sangat santun dan ramah ketika bertransaksi di toko atau pasar-pasar di Arab Saudi. Dan mereka tahu betul, bila apa yang dibeli jamaah haji asal Indonesia bukan semata untuk dirinya sendiri, namun untuk dibagikan kepada sanak saudara di kampung halamannya.

Seperti ditunjukkan dalam video seorang jamaah perempuan yang viral di media sosial lantaran membawa bawaan yang amat banyak beberapa saat lalu di bandara. Yang ada di benak sang jamaah haji hanya bagaimana cara membawa buah tangan ke kampung halamannya. Ia ingin berbagi kapada sanak saudaranya.

Selain sebagai titian terakhir ibadah mahdah ummat Islam, haji juga merupakan upaya meningkatkan keparipurnaan ibadah secara syar’i. Sebagai puncak ibadah, haji tak sekadar berlari-lari kecil (sya’i) atau wukuf di Arafah, namun ada makna terdalam di balik rangkaian ritualnya.

Keparipurnaan haji, yang meniscayakan adanya ’kemampuan’ (manistatho’a mencakup dimensi keuangan, ilmu, dan akhlak. Ketiga dimensi tersebut menjadi prasyarat awal dan akhir dari pelaksanaan ibadah haji.

Baik secara keuangan, ilmu dan akhlak seorang calon haji mesti mumpuni, pun demikian bila sang pelaku haji telah kembali, ia juga mesti mampu menunjukkan keparipurnaan tersebut. Bila prasyarat tersebut tak dapat dipenuhi, maka ibadah haji tak ubahnya hanya perjalanan sufistik semata. Sebuah upaya merasakan perjalanan aktivitas spiritual, the taste of spiritiual, tanpa menghiraukan kenyataan hidup yang sedang mengalami ketakteraturan.

Baik Radiudin atau jamaah haji awal Indonesia lainnya, tentu saja telah melewati dan memenuhi syarat masnistatho’a itu. Yang tentu saja membutuhkan kedisiplinan untuk meraihnya. Jika dalam konteks pelaksanaan ibadah haji, jamaah asal Indonesia mampu untuk disiplin maka, begitu pula seharusnya dalam menjalankan kehidupan sehari-hari di tanah air.

Karena seperti seringkali disinggung oleh Presiden Jokowi bahwa perubahan sikap mental terutama kedisiplinan adalah kunsi kesuksesan Indonesian menghadapi era revolusi industri 4.0 dan society 5.0.

Sebagai madrasah penuh berkah, ibadah haji sejatinya adalah media pembelajaran untuk melatih jiwa, menyucikan hati, dan memperkuat iman. Kaum muslimin akan menjumpai berbagai pelajaran dan faedah yang terkait dengan akidah, ibadah, dan akhlak di tengah pelaksanaan haji mereka.

Artinya, para jamaah yang telah melewati perjalanan spiritual tersebut, semestinya juga meninggalkan bekas (atsar) yang baik, minimal di tempat mereka menjalankan ibadah, Mekkah Almukarammah. Dan itu sudah dilakukan oleh banyak jamaah haji asal Indonesia.

Kelebihan warga Indonesia lain di luar negeri yang juga dimiliki jamaah haji asal Indonesia adalah kemampuan adaptasi yang luar biasa. bangsa Indonesia dikenal taat aturan dimana pun dia berada. Ini tergambar dari petitih lama ‘dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Bahwa kita harus menghormati aturan yang ada dimanapun tempat kita tinggal, hatta di luar negeri sekalipun.

Dengan keistimewaan tersebut, maka layaklah kiranya kita optimis akan masa depan bangsa Indonesia. Karena di tengah pergaulan masyarakat dunia secara internasional tentu diperlukan pula etika yang bersifat universal. [  ]