Moeldoko: Isu Petugas KPPS Meninggal Karena Diracun Menyesatkan

Moeldoko: Isu Petugas KPPS Meninggal Karena Diracun Menyesatkan
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko/net

MONITORDAY.COM – Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko menegaskan tudingan terkait ratusan petugas KPPS yang meninggal karena diracun merupakan kabar menyesatkan. Ia merujuk pada data Kementerian Kesehatan yang menyebut petugas KPPS yang meningggal kebanyakan disebabkan penyakit jantung.

“Penyebab kematiannya bisa dibuktikan. Bukan karena diracun. Itu sesat dan ngawur, tidak menghormati keluarga korban, ujar Moeldoko, seperti dilansir laman setkab, Rabu (15/5).

Menurut dia, alasan tersebut yang mendasari pemerintah tak akan membentuk tim pencari fakta terkait kasus tersebut. Ia mengatakan, data dari menteri kesehatan sudah jelas bahwa petugas KPPS yang meninggal diakibatkan kelelahan yang memicu timbulnya penyakit kronis.

Meski begitu, Moeldoko menegaskan, bahwa pemerintah melalui Kementerian Kesehatan tetap akan mengkaji sejumlah faktor, baik dari sisi kesehatan maupun beban kerja petugas KPPS yang berat.

Hal lainnya yang perlu dilakukan adalah bagaimana memperbaiki sistem kerja KPU sampai ke jajaran terbawah di Pemilu berikutnya,” tuturnya.

Seperti diketahui, usai Pemilu sertntak 2019 digelar pada 17 April lalu, tercatat ratusan petugas KPPS meninggal dunia. Berdasarkan data KPU per tanggal (10/5), KPPS yang meninggal dunia usai bertugas telah mencapai angka 469 jiwa.

Terkait banyakanya petugas meninggal ini, Dokter spesialis penyakit dalam dari Fakultas Kedokteran UI, dr. Ari Fahrial Syam mengatakan bahwa kelelahan sebagaimana yang dialami para petugas KPPS, bisa memicu kambuhnya berbagai penyakit kronis dan menurunkan daya tahan tubuh. Ia mengatakan, kelelahan menyebabkan proses metabolisme dan hormonal terganggu.

“Kelelahan juga dapat mengganggu masalah pada sistem pencernaan, sistem jantung dan pembuluh darah termasuk pembuluh darah otak. Serta juga berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, sehingga tubuh mudah terinfeksi virus seperti flu, hepatitis dan demam berdarah,” tutur Ari.

Ia menjelaskan, dirinya telah mengkaji soal kelelahan yang dialami petugas pemilu pada 2009 beserta dampak buruknya. Ia menyimpulkan, bahwa pada pemilu tahun ini kondisi serupa kembali terulang karena para petugas ‘dipaksa’ untuk bekerja hingga menyelesaikan tugas.

“Para petugas cenderung bekerja terus-menerus demi menyelesaikan penghitungan suara. Waktu tidur mereka berkurang dan makan menjadi tak teratur,” ucapnya.

Lebih lanjut, Ari menambahkan, kelelahan terjadi karena tubuh secara fisik dan mental dipaksa bekerja tanpa istirahat cukup. Selain itu, lanjut ia, kondisi lingkungan kerja yang tidak sehat seperti bising, suhu ruangan yang panas serta asap rokok di dalam ruangan memperburuk kondisi tubuh yang kelelahan.

Petugas pun tidak bisa berkonsentrasi dan emosinya menjadi tinggi karena kelelahan,” ucapnya.