Narasi yang Dibangun Prabowo-Sandi di Visi-misi Dinilai Tak Jawab Permasalahan

Narasi yang Dibangun Prabowo-Sandi di Visi-misi Dinilai Tak Jawab Permasalahan
Foto: Istimewa

MONITORDAY.COM – Juru Bicara Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin, Tb Ace Hasan Syadzily memberikan kritik terkait visi-misi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno yang telah diserahkan ke Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurutnya, visi-misi pasangan Capres-Cawapres nomor urut 02 itu tidak kompehensif meliputi berbagai permasalahan mendasar yang harus diperhatikan.

Ace Merinci beberapa program yang ditawarkan Prabowo-Sandi yang dinilainya amat sedikit, yaitu hanya 12 program. Dari keseluruhan program aksi itu pasangan Prabowo-Sandi dinilai tidak memiliki program aksi untuk penataan regulasi, budaya hukum, hingga kelompok rentan seperti perempuan, anak-anak, penyandang disabilitas, dan orang lanjut usia.

"Bahkan yang paling fatal dalam visi misi Prabowo-Sandi tidak ada kata Hak Asasi Manusia. Terlihat pasangan Prabowo-Sandi alergi untuk mengankat isu HAM," kata Ace, dalam keterangan tertulis, Selasa, (8/1).

Kemudian, Ace mempertanyaan soal sikap Prabowo terhadap kebebasan pers. Ia menilai Prabowo beberapa kali melakukan tindakan kasar kepada wartawan, menuding media tidak independen, serta memboikot media. "Ini jelas ancaman terhadap kebebasan pers," ujarnya.

Soal penegakan hukum, Politisi Partai Golkar ini menyinggung soal narasi penindakan hukum tebang pilih yang selalu diulang oleh Prabowo-Sandi. Padahal lembaga penegak hukum bekerja berdasarkan due process of law, yakni berdasarkan bukti, dan persamaan di depan hukum.

"Bahkan pada era Pak Jokowi tidak pandang bulu dalam penegakan hukum, tanpa melihat latar belakangnya apakah menteri, gubernur, bupati. Semua sama di mata hukum," tegasnya.

Terkait pemberantasan korupsi, Ace menilai Ace menilai program yang ditawarkan Prabowo-Sandiaga juga masih normatif. Bahkan, ia menilai program tersebut klise dan hampir semuanya sudah dikerjakan oleh Jokowi.

Salah satu program aksi Prabowo-Sandiaga untuk pemberantasan korupsi yang sudah dikerjakan Jokowi, yakni soal smart government. Kata Ace, program itu sudah dikerjakan Jokowi lewat pembuatan sistem e-government, e-budgeting, e-catalog, e-procurement, dan e-audit.

Bahkan, kata Ace, Jokowi telah melakukan terobosan dalam bidang pemberantasan korupsi lewat penerbitan Perpres Nomor 54 Tahun 2018 tentang Strategi Nasional Pencegahan Korupsi. "Jadi Prabowo masih berjanji tapi Jokowi sudah memberikan bukti," ucapnya.

Selain itu, Ace juga meminta agar tim Prabowo-Sandi membaca hasil survei lembaga-lembaga kredibel, seperti LSI yang menyebut masyarakat merasa pemberantasan korupsi semakin efektif dalam kurun tiga tahun terakhir. Masyarakat, juga menilai tindakan korupsi di sektor pelayanan publik juga semakin menurun.

"Demikian pula data Transparansi Internasional menunjukkan indeks persepsi korupsi Indonesia semakin membaik," sambungnya.

Menurut Ace, program yang ditawarkan oleh calon nomor urut 02 itu berbeda Jauh dengan pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin. Program-program yang dicanangkan oleh pasangan petahana dalam visi-misinya itu dinilai sangat komperhensif dan tepat guna menjawab permasalahan yang ada.

Ace menuturkanada 27 program aksi yang muncul dalam dokumen visi dan misi Jokowi-Ma'ruf. Sejumlah program aksi dalam visi dan misi Jokowi-Ma'ruf, di antaranya terkait dengan penataan regulasi, melanjutkan reformasi sistem dan penegakan hukum. Ada pula tentang penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM.

Kemudian juga tentang pencegahan dan pemberantasan korupsi, pengembangan budaya sadar hukum, hingga reformasi keamanan dan intelijen yang profesional dan terpercaya. "Dibandingkan visi misi dan program kami, apa yang dijanjikan Prabowo-Sandi sangat jomplang," ucapnya.