Pantai Selatan yang Kini Sunyi, Tiada Pengunjung

Pantai Selatan yang Kini Sunyi, Tiada Pengunjung
Pelabuhan Ratu/Mrf

MONITORDAY.COM – Aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau dan gempa beruntun yang terjadi di Selat Sunda dalam 2 hari terakhir, meski tak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut, namun dampaknya sangat luar biasa bagi aktivitas masyarakat sekitar.

Redaksi Monitorday berkesempatan menyisir pantai-pantai di Selatan Jawa Barat pada Sabtu (12/1), hasilnya hampir semua kawasan wisata pantai di Selatan Jawa Barat sepi pengunjung. Hanya satu dua pengunjung yang berhenti sejenak, mengambil foto, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Dampak paling besar, adalah bagi para pedagang. Berita tentang aktivitas vulkanik Anak Gunung Krakatau dan gempa beruntun di Selat Sunda, membuat pendapatan mereka menurun drastis. Bila biasanya dalam sehari mereka bisa meraih 1 juta rupiah, kini, dalam sehari mereka hanya mendapat 10.000 rupiah.

“Luar biasa pak dampaknya, bila biasanya kami bisa dapat 1 juta, kini paling kami dapat 10.000 rupiah. Para pengunjung ketakutan, pantai jadi sepi, kami tak bisa lagi mengais rezeki,” ujar Eni, salah satu pedagang yang mangkal di Pantai Karang Hawu, Cisolok, Pelabuhan Ratu.

Seperti diketahui, pada 10 dan 11 Januari 2019, BMKG merekam adanya gempa beruntun di Selat Sunda.

Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhammad Sadly mengatakan gempa tersebut tidak mengakibatkan kenaikan permukaan air laut. Namun, soal potensi tsunami, Sadly mengatakan itu masih ada.

Ia menerangkan, sedikitnya terdapat tiga sumber tsunami di Selat Sunda, yakni Kompleks Gunung Anak Krakatau (GAK), Zona Graben, dan Zona Megathrust. Sadly menjelaskan, Kompleks GAK terdiri dari Gunung Anak Krakatau, Pulau Sertung, Pulau Rakata, dan Pulau Panjang. Gunung serta ketiga pulau tersebut tersusun dari batuan yang retak-retak secara sistemik akibat aktivitas vulkano-tektonik.

Akibatnya, kompleks tersebut rentan mengalami runtuhan lereng batuan (longsor) ke dalam laut, dan berpotensi kembali membangkitkan tsunami.