Pemimpin Sejati

Pemimpin Sejati
Ilustrasi foto/Net
Pemimpin harus memiliki watak istimewa agar bisa disebut pemimpin sejati. Abaikan kulit. Utamakan jiwa. Hadapi setiap kritik dan tuntutan formal.

DI DALAM masyarakat kita, makna pemimpin selalu dipahami secara dikotomis. Ada pemimpin formal, ada pemimpin informal. Di tingkat desa, lurah, atau camat, disebut pemimpin formal. Kiyai atau ketua adat, disebut pemimpin informal.

Dikotomi formal dan tidak formal itu ditandai oleh posisi kepemimpinan tersebut. Pemimpin yang posisi kepemimpinannya berada dalam struktur kekuasaan pemerintahan, disebut pemimpin formal. Tampaknya formalitas itu berhubungan dengan sistem pemilihan yang ruwet dan penuh prosedur resmi yang ditetapkan oleh pemerintah. Dan mereka disebut pejabat negara.

Di sini lahir dikotomi lagi: pemimpin formal, pejabat negara, memimpin orang-orang yang memiliki status politik sebagai rakyat. Di desa maupun di kota, di daerah maupun di pusat, mereka memimpin rakyat Indonesia.

Kiyai dan ketua adat tak dipilih oleh siapa pun dan tak memiliki hubungan resmi dengan pemerintah. Mereka menjalankan peran kepemimpinan, ‘take the lead’ dalam setiap situasi, termasuk dalam situasi kritis ketika banyak pihak tak mampu berbuat apa pun, Ini tanda utama kepemimpinan mereka.

Selebihnya, ketika dibutuhkan, mereka selalu ada, hadir dan menemani warga masyarakat untuk memecahkan masalah yang merisaukan mereka. Tak perlu dicari dan dengan sendirinya selalu hadir menemani mereka yang dipimpin macam inilah tanda kepemimpinan sejati mereka. Status politik orang-orang yang mereka pimpin bukan rakyat, melainkan warga masyarakat.

Di sini muncul lagi dikotomi baru: pemimpin formal, pejabat negara, digaji oleh pemerintah, dan pemimpin informal, pemimpin masyarakat, tak digaji dan tak pernah memperoleh fasilitas apapun dari pemerintah. Di sini muncul ironi: pemimpin formal yang digaji dengan uang rakyat itu sering dicari-cari ketika dibutuhkan rakyat, tapi mereka tidak ada dan tak hadir di saat dibutuhkan.

Pemimpin ini tidak mengambil sikap sebagai pemimpin. Pakaian seragam dan symbol-simbol kenegaraan yang melekat padanya membuat jarak psikologis dari rakyat.Pemimpin masyarakat tak punya jarak apapun dengan orang-orang yang mereka pimpin. Mereka hadir setiap saat seperti seorang ayah yang melindungi anak-anaknya.

Pemimpin formal, pejabat negara, tak selalu tampil sebagai pemimpin. Mereka sibuk menjaga kewibawaan diri mereka karena sebenarnya mereka tak punya wibawa apa pun. Orang boleh menjadi Bupati, Gubernur atau jabatan lain, tapi apa tanda kepemimpinannya ketika terbukti mereka tak tahu apa pun tentang cara memimpin? Apa arti gubernur kalau dia tak mampu menimbulkan perubahan yang menyejahterakan rakyatnya?

Banyak pemimpin formal yang dulu, ketika pemilihan berlangsung, berusaha mati-matian memenangkan pemilihan jabatannya semata asal menang. Banyak orang yang berhasil memenangkan suatu jabatan tapi tak memiliki kemampuan yang dibutuhkan oleh jabatannya itu untuk membuat rakyatnya makmur. Tak semua pemimpin formal layak disebut pemimpin. Oh, apa lagi pemimpin sejati. Mungkin ini zaman ketika kita miskin, betul betul miskin pemimpin sejati.

Pemimpin harus memiliki watak istimewa agar bisa disebut pemimpin sejati. Abaikan kulit. Utamakan jiwa. Hadapi setiap kritik dan tuntutan formal agar begini dan begitu, seragam ini dan itu, jaga gengsi ini dan itu. Kemapanan aturan harus dilabrak. Tampilkan sesuatu yang baru, dan buang kemapanan yang penuh basa basi tanpa isi. Aturan baku protokoler tak mendekatkan pelayanan pada rakyat. Pakaian seragam tak membuat rakyat makmur.

Ada pemimpin yang memutlakkan seragam, siang malam seragam. Di rumah pun seragam hingga hidup ini terasa begitu kaku dan resmi. Tapi dia terlalu sibuk menjaga keharusan serba seragam itu lupa memimpin. Segenap kebijakan resmi yang diambilnya hanya untuk menjaga agar masa jabatannya tak diganggu orang. Ia hanya sibuk menyelamatkan jabatannya. Jadi dia tidak memimpin. Dia jelas bukan pemimpin.

Situasi macam ini melahirkan perasaan frustrasi dan mungkin membuat kita, para ‘committed citizens’  merasa bahwa agaknya kita tak boleh berharap terlalu banyak pada dunia politik dan para pemimpin yang tak layak disebut pemimpin macam itu. Tapi tiba-tiba, seperti turun dari ‘langit’ kita memiliki pemimpin formal yang tak pernah doyan formal-formalan dalam segenap tingkah lakunya.

Terlatih sejak masa jabatan sebelumnya, pemimpin ini tampil bersahaja. Dia bersahaja dalam ucapan, bersahaja dalam sikap dan dalam segenap tindakannya tapi cekatan dalam artikulasi kebahasaannya ketika merespons fenomena global yang bukan hanya sama sekali tidak ramah, melainkan mengancam keselamatan negara-negara kecil, miskin dan lemah. Dia menyampaikan gagasan memberi proteksi global terhadap ancaman global itu. ‘Never ending war’ dianggap musuh bersama. Dan para pemimpin dunia kagum kepadanya.

Saya menggarisbawahi kekaguman itu demi kebenaran dan keadilan, dan bukan demi kampanye politik yang sudah terlanjur kotor dan penuh fitnah. Kelihatannya dia tak mau melawan fitnah dengan fitnah. Dia lebih suka melanjutkan kegemarannya untuk ‘blusukan’ ke sana ke mari. ‘Blusukan’ itu hidupnya. Jadi bukan demi mencari nama dan citra yang tak perlu karena ‘blusukan’ itu usaha mencari kebenaran mengenai hidup rakyatnya.

‘Blusukan’ menjadi usaha untuk mendengar apa yang tak terdengar, dan itu hanya bisa dilakukan oleh pemimpin yang sudah siap untuk memimpin. Di masa lalu, jauh sebelum dunia ini mengenal demokrasi, kita dengar ada pemimpin yang diam-diam, secara ‘incoqnito’, pergi ke daerah-daerah untuk memahami kehidupan rakyat. Beliau ingin mendekatkan rakyat dengan kebutuhannya untuk menjadi manusia merdeka dan makmur serta sejahtera.

Di zaman modern ini ‘blusukan’  boleh diberi makna super ideal, mirip dengan dongeng Leo Tolstoy, tentang Simon, si Tukang Sepatu dan Orang Bercahaya, Malaikat, yang ditugaskan oleh Pemimpin Langit untuk ‘blusukan’ di bumi, hingga di belakang sebuah Gereja di sebuah  kota di Rusia  agar bisa menemukan rahasia hidup manusia. ‘Blusukan’ yang dirintis sejak memimpin  Solo dulu, mungkin memanggul tugas langit untuk membuka tabir rahasia tentang mengapa rakyat Indonesia belum makmur dan belum pula adil.

Benarkah mandat langit itu mewajibkan pemimpin untuk tampil sebagai pemimpin yang tak peduli bagaimana wajahnya ketika hadir di tengah rakyat yang menuntut haknya untuk menjadi raja: minta dilayani dan dimakmurkan? Adakah yang bisa melakukan ini selain pemimpin sejati, yang siap tidur di tenda ketika rakyatnya dihantam gempa?