Perjuangkan Semangat Multikulturalisme, PDIP Dinilai Berpotensi Raih Dukungan dari Basis Massa Baru

Perjuangkan Semangat Multikulturalisme, PDIP Dinilai Berpotensi Raih Dukungan dari Basis Massa Baru
Ilustrasi foto/Net

MONITORDAY.COM - Pakar politik dari Universitas Airlangga (Unair), Surabaya, Bagong Suyanto menilai pilihan sikap politik PDI-P yang konsisten mendukung dan mendorong semangat multikulturalisme merupakan nilai lebih partai ini bagi konstituennya.

“Pilihan sikap politik yang memperjuangkan semangat multikulturalisme yang mengedepankan NKRI dan kebhinekaaan membuat partai tersebut menjadi berjarak dengan konstituen Islam, terutama kelompok Islam kanan,” ujar Bagong dalam keterangannya, Kamis (14/12).

Menurut Bagong sebagai partai politik yang dikenal luas masyarakat memiliki ideologi dan sikap politik yang memperjuangkan multikulturalisme, ada sejumlah hal yang mesti ditimbang PDI-P dalam menentukan sikap dan mencari perluasan dukungan konstituen.

“Tetap mempertahankan citra sebagai partai nasionalis, sementara di saat yang sama juga harus memperluas basis dukungan massa dari berbagai kelompok lain, tentu membutuhkan strategi dan kerja keras para pekerja partai”, saran dia.

Bagong menyebut ada dua hal yang perlu menjadi fokus perhatian PDI-P ke depan. Pertama, sejauh mana PDI-P menentukan batas demarkasi perluasan dukungan dari basis massa baru, terutama dari kelompok umat Islam. Dengan menjalin koalisi dengan Ma’ruf Amin yang dikenal sebagai sesepuh NU yang dihormati masyarakat, kata dia jelas ada banyak hal positif akan diperoleh Jokowi yang merupakan kandidat presiden yang diusung PDI-P dan partai koalisinya.

“Strategi menggandeng Ma’ruf Amin adalah langkah taktis yang menjadi pilihan PDIP untuk memperluas basis dukungan massa kepada kandidat presiden yang diusung partai tersebut dan partai koalisinya,” ucapnya.

Selama ini, kata Bagong basis kuat massa pendukung PDI-P dan Jokowi adalah pada kelompok nasionalis, kaum abangan, dan masyarakat marginal yang untuk sebagian kerap berseberangan dengan kelompok Islam kanan.

Dengan kondisi tersebut, lanjut dia, terlalu mengejar dukungan dari Islam kanan, tetapi melupakan kondisi psikologis konetituen yang memiliki sikap politik dan ideologi yang berbeda, tentu juga bisa berdampak merugikan.

“Membatasi meraih dukungan dari basis massa baru, lebih realistis jika diharapkan dari simpatisan Ma’ruf Amin,” kata dia.

Kedua, kata Bagong sejauh mana PDI-P mampu merevitalisasi diri dan mengembangkan basis dukungan dari kelompok yang ditengarai bakal menjadi penentu kuat dalam memberikan suara kepada calon anggota legislatif maupun Presiden.

“Kelompok suara anak muda milenial dan kaum ibu adalah dua kelompok strategis yang perlu menjadi fokus perhatian tim sukses Jokowi-Ma’ruf Amin,” ucapnya.

Untuk meraih simpati dan dukungan suara dari kelompok anak muda milenial dan kaum perempuan, Bagong menyarankan sudah tentu yang dibutuhkan bukan hanya terminologi yang sesuai dengan karakteristik dan subkultur kedua kelompok ini, tetapi juga maskot program yang benar-benar relevan.

“Kepedulian kepada nasib perempuan yang masih tertinggal, perempuan miskin, perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual, serta kepedulian kepada kebutuhan anak muda milenial untuk beraktualisasi, tentu perlu segera diakomodasi dan dirumuskan dalam program unggulan yang jelas arahnya” pungkasnya.