Potensi dan Peran Milenial Dalam Pemilu 2019

Potensi dan Peran Milenial Dalam Pemilu 2019
Djoni Gunanto

MONITORDAY.COM - Dunia sedang berubah, generasi muda milenial sedang memainkan perannya. Seperti yang dikatakan Pramodeya Ananta Toer bahwa pemuda harus memiliki keberanian,  Kalian pemuda, kalau kalian tidak punya keberanian, sama saja dengan ternak karena fungsi hidupnya hanya beternak diri.” Maka dengan keberanian, generasi masa depan menjadi sosok yang diperhitungkan dalam segala sektor, pendidikan, ekonomi dan teknologi.  Bidang politik juga tidak luput dari bidikan generasi yang biasa juga disebut generasi Y ini.

Terkait dengan politik Pemilu 2019, generasi yang terlahir di era kisaran 1980-2000an menjadi daya tarik utama serta perebutan partai politik dalam mendulang suara sebanyak-banyaknya. Secara usia, generasi Y ini memiliki potensial sebagai suara produktif karena dengan kisaran 17-37 tahun sudah dipastikan mereka memiliki hak suara dalam pemilihan lima tahunan itu.

Hal ini diungkap oleh pengamat politik Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) Djoni Gunanto saat diwawacara terkait potensi suara milenial dalam kontestasi Pemilu 2019.

Apalagi, Djoni mengatakan dari data yang diperolehnya bahwa sebanyak 255 juta penduduk Indonesia yang telah tercatat terdapat 81 juta merupakan generasi milenial atau berusia 17-37 tahun.

“Kalau kita kalkulasikan dari 185an juta DPT maka sekitar 40% adalah pemilih milenial. Ini  tentu jumlah yang sangat fantastis," ujar Djoni saat dihubungi Monitorday.com, Kamis (11/10)

Dengan potensi itu, maka suara milenial tidak bisa dipandang sebelah mata. Djoni juga menerangkan bahwa karakter milenial sangat berbeda dalam memandang pilihan politiknya. Setidaknya dia mencatat ada dua karakter generasi milenial memahami dalam memahami politik.

Karakter generasi milenial, pertama mereka melek teknologi tetapi cenderung apolitis terhadap politik.

“Mereka tidak loyal terhadap partai, sulit tunduk dan patuh instruksi. Cenderung tdk mudah percaya pada elite politik,” imbuh Sekretaris Fokal IMM DKI Jakarta.

Selanjutnya, generasi milenial cenderung berubah-ubah  dalam memberikan hak politiknya, mereka cenderung lebih rasional menyukai perubahan dan antikemapanan. Mereka cenderung menyalurkan hak politiknya kepada partai yang menyentuh kepentingan dan aspirasi mereka sebagai generasi muda.

Maka dengan karakter dan jumlah tersebut, Aktivis Muda Muhammadiyah ini menyebutkan tidak mudah untuk partai politik dan kedua pasangan Capres-Cawapres serta calon legislatif untuk mendapatkan suara mereka. Diperlukan strategi yang mengena bagi mereka sehingga pada akhirnya menentukan pilihan politik.

“ Tidak cukup hanya menampilkan gaya berpakaian, gaya hidup, hobby dari masing-masing calon, baik Capres-Cawapres maupun Caleg melalui ruang publik, media sosial atau media mainstream lainnya,” tutur Dosen FISIP UMJ.

Tetapi, lebih jauh dia menyebutkan generasi ini perlu diajak untuk memahami politik secara baik dengan cara pandang mereka. Semisal, menawarkan visi dan misi program yang bersentuhan langsung dengan generasi muda. Karena generasi inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

“Pasangan Capres-Cawapres  maupun Caleg jangan hanya sosialisasi atau melakukan branding dimedia saja sehingga bagi anak muda itu dianggap sebagai pencitraan. Tetapi turun langsung dan berdialog serta berdiskusi merangkul anak muda sebagai generasi yang harus di ajak berpikir bersama tentang bangsa dan negara,

Bagi generasi milenial, Djoni mengingatkan momentum Pemilu 2019 ini tidak boleh diacuhkan begitu saja. Secara idealnya mereka juga harus menggunakan media sebagai ruang pembelajaran politik bukan hanya mengakses kebutuhan hiburan atau informasi.

“Mari menggunakan medsos dengan bijak dan kritis. Banyak melakukan literasi politik agar kita melek politik dan menjadi pemilih yang cerdas. Dan menyadari pentingnya posisi generasi milenial dalam berkontribusi di pemilu sebagai upaya membangun demokrasi yang berkualitas,” pungkasnya.