Ratna Sarumpaet dan Mahalnya Kejujuran Berpolitik

Ratna Sarumpaet dan Mahalnya Kejujuran Berpolitik
Foto: Andri M/Monitorday

RABU (3/10) sore, kediaman Ratna Sarumpaet di kawasan Bukit Duri, Jakarta Selatan ramai riuh oleh para pewarta. Puluhan mata kamera, tak henti-hentinya berkilauan menyorot wajah aktivis senior yang populer setelah mementaskan lakon monolog ‘Marsinah Menggugat’ di penghujung pemerintahan Orde Baru itu.

Ratna Sarumpaet berusaha tegar, matanya terlihat berkaca-kaca. Sesekali ia menghela nafas panjang. Tak lama kemudian, ia pun buka suara. “Jadi apa yang saya katakan ini akan menyanggah ada penganiayaan,” kata ibu dari aktris Atiqah Hasiholan ini sambil menangis tersedu.

Tangis Ratna Sarumpaet semakin pecah, ia tak lagi mampu menyembunyikan perasaannya yang campur aduk. Ia tak menyangka, bila perjuangan politiknya di Tim Pemenangan Prabowo-Sandi berakhir lebih cepat dan tragis.

Air mata Ratna Sarumpaet bercucuran saat menyanggah dianiyaya dan terjebak dalam kebodohan. Dia mengungkap cerita fiksi dan meminta maaf kepada semua pihak, termasuk Capres Prabowo Subianto.

Ratna pun blak-blakan bicara tentang pengakuan penganiayaannya yang membuat heboh seantero negeri. Cerita kehebatannya memerankan lakon Marsinah, serta seabreg aktivitas sosialnya selama ini seperti terpampang di dinding-dinding rumahnya lenyap dengan sekejap.

Betullah kiranya, bila ada ungkapan, ‘People don’t want to lie’. Bahwa pada dasarnya orang itu tidak ingin berbohong, karena berbohong itu menghabiskan banyak energi, harus berpikir keras agar tidak ketahuan dalam mencari alasan. Pun demikian dalam konteks politik dan terutama kontestasi Pilpres yang saat ini telah masuk pada tahapan kampanye.

Karena itu, ketika terbukti berita itu bohong, kubu Prabowo pun langsung melakukan pembelaan dan klarifikasi. Koordinator Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak misalnya, menegaskan, kebohongan Ratna Sarumpaet yang sempat mengaku dianiaya oleh orang tak dikenal merupakan inisiatif dan sikap pribadi.

Badan Pemenangan Prabowo – Sandi tak tahu menahu soal kebohongan yang dikarang oleh Jurkamnas Prabowo-Sandi nomor 42 itu. “Pak Prabowo, para tokoh, semuanya menjadi korban kebohongan tersebut,” kata Dahnil.

Sementara itu, Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menyebut, pengakuan Ratna Sarumpaet berada di luar kuasa kubunya. Menurutnya, hal itu menjadi hak Ratna untuk mengungkapkan apa pun yang terjadi.

“Pengakuan Bu Ratna itu di luar kuasa kami. Yang pasti Pak Prabowo sebagai seseorang sudah menunjukan rasa simpatinya yang mendengar dan melihat langsung kondisi Bu Ratna,” ujar Andre, Rabu (3/10/2018).

Bagi Andre, ketika ia mendengar penyampaian Ratna yang disertai isak tangis membuat Prabowo dan rombongan tidak kuasa melihat perlakuan itu.

“Ya bayangin saja perempuan usia 70 tahun menangis dengan menunjukan luka dan perban di mukanya kepada Pak Prabowo, di situ wajar jika Pak Prabowo bersikap untuk langsung minta diusut,” tuturnya.

Yang pasti, lanjut Andre, pimpinannya sudah menunjukan sikap berprasangka baik, terlepas kemudian ternyata Ratna hanya berbohong.

“Kita intinya sudah berprasangka baik kepada Bu Ratna,” pungkasnya.

‘Meski kau kini jauh disana, kita akan memandang langit yang sama, jauh di mata dekat di hati’. Begitu kira-kira kalau meminjam potongan lyrik lagu Grup Band ‘Ran’ yang kini telah dilihat 34,624,820 viewer di situs berbagi video, youtube ini.

Bila sudah dekat di hati, memang sulit rasanya untuk tidak percaya atas kesakitan yang dialami rekan sejawat. Sayangnya, tak banyak orang yang bisa melakukan analisa dini terhadap perkataan atau bahkan janji-janji yang disampaikan di ruang-ruang publik, presuposisi statement analysis. Padahal ini diperlukan agar publik tak mudah percaya dengan apa yang disampaikan juru bicara atau tim kampanye salah satu kandidat. Sementara bagi juru bicara dan tim kampanye sendiri, ini diperlukan agar mereka tak terjebak, dan luluh lantah sebelum ‘peperangan’ dimulai.

Pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno menilai pengakuan kebohongan Anggota Juru Kampanye Nasional Prabowo-Sandi Ratna Sarumpaet, merupakan blunder besar bagi kubu Prabowo-Sandiaga. 

"Kebohongan Ratna blunder besar bagi dirinya dan kubu prabowo. Secara Pribadi Ratna akan dilabeli sebagai aktivis pembohong yang merusak kredibilitasnya. Sementara bagi kubu prabowo akan semakin menebalkan keyakinan publim bahwa kubu ini kerap memproduksi hoax," ujar Adi saat dihubungi di Jakarta, Rabu, (3/10/2018).

Menurut Adi, jika kubu Prabowo tidak mengeluarkan Ratna, hal itu akan berdampak pada calon pemilih Capres-Cawapres Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019.  "Ratna harus dikeluarkan dari tim prabowo sebelum daya rusak kebohongannya itu meluluhlantahkan elektabilitas Prabowo," ucapnya.

"Padahal prabowo susah payah membangun citra positif untuk mengejar defisit elektabilitas dengan Jokowi," imbuh Adi.

Kasus Ratna Sarumpaet ini memang unik, bila biasanya narasi-narasi dari petahana yang penuh gincu, ini malah sang penantang yang penuh gincu. Dalam proses kampanye, sang petahana lah biasanya yang mati-matian mencari cara agar program kerja dan janji politik yang tidak terlaksana sekalipun mendapatkan alasan paling kuat. Tapi dalam kasus Ratna Sarumpaet, ini malah berbalik. Sang Penantang malah terkesan mencari narasi-narasi di luar nalar untuk meraih simpati publik.

Inilah anomali politik di negeri Indonesia, keadaan perpolitikan yang justru jauh dari etika atau norma politik yang berbasis kejujuran. Tidak hanya politisi yang tidak jujur, akan tetapi juga masyarakat secara umum. Memang tidak mudah menghadirkan kejujuran dalam politik karena politisi hari ini umumnya terlanjur memahami politik sebagai wilayah abu-abu. Wilayah yang penuh ketidakjelasan. Kebenaran sejati sulit ditemukan.

Karena itu, harus ada tekad kuat untuk melakukan perubahan. Kejujuran dalam politik adalah peradaban baru yang harus diwujudkan. Karena kejujuran dapat memberikan keselamatan bagi semua. Karena sesungguhnya, kemenangan yang diraih dengan kejujuran akan lebih memberi ketenangan. [ ]