Rekontekstualisasi Semangat Sumpah Pemuda

Rekontekstualisasi Semangat Sumpah Pemuda
Presiden Joko Widodo (tengah) berswafoto dengan peserta saat peringatan ke-89 Hari Sumpah Pemuda di halaman Istana Bogor, Jawa Barat tahun 2017. Peringatan bernuansa anak muda. -- BIRO PERS/SETPRES

MATAHARI sudah di penghujung petang, namun beberapa anak muda di sebuah kedai kopi dengan sajian khas nusantara di bilangan Gandaria, masih sibuk bersama gawai canggih mereka. Beberapa diantaranya malah ada yang sejak pagi duduk sambil menumpahkan kepingan ide dalam gadget canggih mereka.

Ya, seperti itulah potret anak muda milenial sekarang. Memang ada banyak kawan-kawan mereka yang masih setia mengantri di bursa-bursa kerja, atau tes pegawai negeri di kementrian maupun perusahaan pelat merah, namun anak-anak muda yang mulai mantap dengan profesi mandiri juga mulai banyak.

Selain karena pendapatan yang mereka dapat bisa jauh lebih besar dibandingkan dengan menjadi pegawai negeri, juga karena lingkungan kerja yang lebih rileks dan mengasyikan. Mereka lah para pemuda kekinian yang piawai mengumpulkan pundi-pundi materi melalui jalur kreativitas.

Dunia politik juga menjadi dunia yang tak tabu lagi bagi mereka, ada begitu banyak pengurus teras partai politik yang mulai ditempati oleh sosok-sosok dari kalangan generasi milenial. Mereka juga tak segan-segan untuk beradu ide, hingga unjuk kebolehan di ajang pemilihan legislative.

Selain rasa optimis yang kian membuncah, ada pula rasa cemas yang menggelayut di wajah ketika melihat perkembangan para generasi milenial. Karena secara diam-diam ada sebagian mereka yang mulai mengagumi rasio pragmatis, lalu tanpa sadar membuka peluang secara besar-besaran bagi munculnya tindakan-tindakan dehumanistik, karena dalam bingkai degradasi rasio reflektif itu, tempat untuk nilai-nilai kemanusiaan menjadi semakin sempit.

Kulminasinya, mereka pun melakukan pencapaian tujuan atau solusi, tanpa memperhatikan nilai dari cara pencapaian tujuan atau solusi yang diberlakukan terhadap sisi moral-kemanusiaan. Praksisnya adalah apa yang saat ini sering kita lihat dan baca di sejumlah media massa; praktik korupsi, kolusi dan nepotisme yang seakan menjadi jalan untuk meraih karir politik tertinggi. Atau tindakan kekerasan yang dilakukan oleh sejumlah pelajar, mahasiswa dan pemuda kita.

Dalam konteks keberagamaan, kita juga patut khawatir. Karena ada kecenderungan sikap intoleran yang tiba-tiba saja melekat dalam benak mereka seperti terungkap dalam penelitian yang dilakukan oleh PPIM UIN Jakarta beberapa saat lalu.

Ada kesan, emosi keberagamaan kaum muda milenal sekarang amat mudah diaduk-aduk lalu menjadi lebih reaktif tanpa melakukan proses klarifikasi terlebih dahulu. Kasus pembakaran bendera di sela perayaan Hari Santri kemarin menjadi bukti nyata.

Hal lain, yang juga menjadi kekhawatiran banyak pihak adalah bahwa rasio pragmatis ternyata ikut melahirkan apa yang selama ini paling kita khawatirkan, yaitu memudarnya semangat nasionalisme. Sebuah penemuan sosial menakjubkan yang mengawal sejarah agar sesuai dengan tujuan dan berjalan secara lurus.

Berakhirnya perang dingin dan munculnya gagasan dan budaya globalisme (internasionalisme) pada dekade 1990-an hingga saat ini ketika kita telah masuk ke era revolusi industri 4.0, atau revolusi digital. Khususnya dengan adanya kemajuan di bidang teknologi komunikasi dan informasi ternyata ikut mendendangkan lagu kematian bagi nasionalisme itu sendiri. Narasi-narasi nasionalisme menjadi semakin kabur, meluruh lalu lari ke lain arah menjadi sekadar interaksi dan transaksi sosial, politik dan ekonomi para aristokrat dan elite penguasa.

Semoga saja ini hanya gejala dan kekhawatiran kecil, yang muncul karena proses penyesuaian terhadap perubahan cara berkehidupan kita saat ini. Hingga pada waktunya nanti, akan ada sekelompok anak muda, mencomot istilahnya Arnold Toynbee, merekalah yang disebut creative minority, bukan sebaliknya destructive minority. Kaum yang mampu memberi harapan. Tingginya harapan kepada kaum ini adalah bukti bahwa masih besarnya kepercayaan kepada mereka, yaitu kaum yang dianggap lepas dari kepentingan-kepentingan. Kaum muda sejatinya adalah kaum yang luhur dan bersih pemikiran maupun tindakannya.

Dalam sejarah perjuangan bangsa, kita juga tidak bisa memungkiri peran kaum muda sangatlah signifikan. Hampir tak satupun peristiwa yang luput dari kehadiran peran kaum muda, Sebut saja peristiwa Sumpah Pemuda, Proklamasi, jatuhnya Orde Lama, bahkan Reformasi merupakan goresan sejarah yang ditorehkan kaum muda di negeri ini. Realitas sejarah yang membuat mereka mampu menulis catatan perubahan bangsa ini dengan tinta emas.  

Sejarah kaum muda juga mengguratkan bahwa, kreativitas kaum mudalah yang menjadikan suatu bangsa mampu mengurai benang kusut permasalahan bangsa untuk kemudian menjadi bangsa yang unggul. Maka apa yang diungkapkan Benedict Anderson bahwa sejarah suatu bangsa adalah sejarah kaum mudanya mendapatkan legitimasinya. Seandainya bukan karena kaum muda, bangsa Spanyol mungkin saja masih berada dalam cengkraman kediktatoran Jendral Franco di tahun 60-an. Pun demikian dengan sejumlah gelombang revolusi yang melanda Italia, Belgia dan Perancis.

Di era mutakhir, peran pemuda dalam lintasan sejarah dunia seakan tak pernah memudar, menjadi pioneer dan creative minority dalam setiap momentum perubahan zaman. Di Timur Tengah misalnya, yang secara tradisional masih menempatkan generasi tuanya sebagai sosok yang paling dihormati, ternyata menyimpan bara revolusi kaum muda. Yang bila disulut, api revolusi tersebut dapat dengan cepat membakar jiwa-jiwa pemuda yang haus akan kebebasan dan kreativitas.

Karena kreativitaslah Steve Job, mampu mengubah perusahaan Apple Computer menjadi raksasa besar di bidang teknologi komunikasi. Saat handphone masih kita kenal dengan tampilannya yang tebal, berat dan rumit digunakan, ia sudah mulai merancang apa yang saat ini kita kenal dengan Iphone dengan tampilan yang tipis, namun dengan aflikasi yang lebih canggih.

Disinilah pentingnya kita melakukan rekontekstualisasi semangat 'Sumpah Pemuda', untuk melahirkan bara revolusi kaum muda yang lebih kekinian. Tentu saja maksudnya adalah bara kreativitas, bukan pemberontakan. Inilah yang semestinya dimiliki dan diaplikasikan oleh kaum muda Indonesia, sehingga mereka tidak perlu hanya bersifat defensif menghadapi serbuan teknologi negara lain atau pengaruh pemikiran dan idiologi asing, sehingga mengaburkan api nasionalisme yang telah dinyalakan oleh para pemuda pembangkit kesadaran berbangsa dan bernegara.

Untunglah, Pemerintah cepat merespons gelombang pergeseran cara pandang dan model kreativitas generasi milenial. Salah satunya misalnya adalah mendukung perkembangan ekonomi ke arah digitalisasi. Ini dapat terlihat dari kebijakan dan program-program Pemerintah Jokowi untuk menyokong industri digital. Bulan Agustus tahun 2017 misalnya, Pemerintah merilis Peraturan Presiden tentang Road Map Ecommerce Indonesia tahun 2017-2019. Hebat.