Ruqyah Kebangsaan

Ruqyah Kebangsaan
Ilustrasi foto

ADA begitu banyak anasir yang muncul ketika rangkaian bencana alam dan persoalan bangsa dalam sebulan terakhir ini datang bertubi-tubi. Mulai dari musibah gempa yang melanda Lombok-NTB, Palu-Sulteng, hingga Situbondo-Jawa Timur. Belum lagi terkuaknya kasus hoaks mega dahsyat yang dilakukan Ratna Sarumpaet dan menyeret sejumlah elite negeri.

Menurut sebagian orang, rangkaian bencana dan persoalan tersebut muncul gegara perilaku menyimpang sebagian kelompok masyarakat. Ada pula anggapan yang menyebutnya sebagai dosa politik, karena para elite negeri gemar menebar kebohongan dan janji-janji politik ansich.

Puncaknya, banyak orang balik berpikir dan bahkan ada pula yang langsung memvonis; bila rangkaian bencana yang dalam satu bulan terakhir terjadi akibat dari ulah sebagian kelompok yang menyimpang dan melakukan kemaksiatan.’

Berbagai mitos, ramalan mistik, hingga alasan teologis pun dihadirkan untuk membaca dan menafsirkan sebab dan akibat dari semua persoalan tersebut. Padahal mereka sama sekali tidak memiliki wewenang ilmiah untuk menjatuhkan vonis serta tafsir tersebut.

Satu-satunya yang alasan ilmiah yang bisa menjelaskan serangkaian musibah dan bencana tersebut salah satunya adalah seperti laporan Intergovermental Panel on Climate Change (IPCC) yang mengungkapkan bukti paling ilmiah soal pemanasan dan perubahan iklim global sebagai akibat dari meningkatnya emisi gas rumah kaca. Pun demikian dengan kerusakan alam lainnya.

Selain dari ulah tangan dan hasrat manusia yang tidak pernah puas secara lebih luas, semua itu merupakan residu peradaban yang tidak mampu direduksi oleh sistem yang kita kenal dengan industrialisasi dan modernisme.

Dan kini, telah sampailah kita pada sebuah puncak peradaban yang paling dramatis dan penuh risiko, saat-saat yang membawa kita pada kekacauan (chaos) dan kebuasan (wildness) peradaban umat manusia pada satu sisi.

Sementara dalam konteks kasus hoaks Ratna Sarumpaet, ini sebetulnya membuka kota Pandora dari perilaku sebagian elite yang memang mengedepankan janji ketimbang realisasi. Dimana kejujuran dalam berpolitik menjadi sesuatu yang mahal harganya.

Sisi lain merupakan sebuah titik balik yang telah melahirkan apa yang kita kenal dewasa ini sebagai kesadaran ekologis. Kesadaran yang menekankan arti penting sebuah keharmonisan kehidupan umat manusia dan alam semesta (tata kosmos).

Andai saja, kita atau siapa pun yang masih memiliki kesadaran bahwa keberadaan manusia di muka bumi tidak lain sebagai pengabdian/ibadah kepada Sang Pencipta, maka sejatinya yakin bila berbagai macam fenomena dan problem yang ada saat ini lahir sebagai akibat dari tidak adanya keharmonisan bukan saja antara ummat manusia dengan bumi yang dipijaknya tapi juga termasuk visi ekologis ke tingkat planet beserta galaksinya.

Meminjam ungkapan Fritjof Capra bahwa, keseimbangan ekologis pada dasarnya memerlukan perubahan-perubahan besar dalam persepsi kita tentang peran manusia di dalam ekosistem planet. Singkatnya, kesadaran ekologis memerlukan suatu kerangka dasar filosofis dan religius yang baru.

Kesadaran ekologis dengan demikian memerlukan sokongan ilmu yang lebih modern, terutama pendekatan sistem yang baru, tetapi berakar pada persepsi realitas yang melampaui kerangka ilmiah hingga mencapai suatu kesadaran intuitif tentang kesatuan semua kehidupan (jiwa kosmis).

Dan kesadaran intuitif tentang kesatuan semua aspek kehidupan hanya mungkin ditemukan dalam sebuah modus kesadaran di mana individu merasa terkait dengan kosmos secara keseluruhan. Maka jelaslah bahwa kesadaran ekologis itu merupakan kesadaran yang bersifat spiritual.

Artinya, ketika serangkaian bencana atau problem muncul kepermukaan, maka sejatinya berpulanglah pada diri masing-masing terlebih dahulu. Lalu melakukan ‘Rukiyah Kebangsan’, agar kita bisa menjaga keseimbangan kehidupan dengan alam semesta (tata kosmos) atau dengan Sang Pemilik alam semesta. [ ]