Sarankan Belajar Ke Masyarakat Tradisional, Aktivis Lingkungan : Mengelola Alam Dengan Hati

Sarankan Belajar Ke Masyarakat Tradisional, Aktivis Lingkungan : Mengelola Alam Dengan Hati

MONITORDAY.COM - Bencana alam taunami yang terjadi, sejak sepekan yang lalu di selat Sunda menjadi pahatan penting bagi masyarakat untuk dapat berlaku bijak terhadap alam dan sekitarnya.Tokoh masyarakat Jawa Barat yang juga aktivis lingkungan, Dedi Mulyadi menilai, bencana alam seperti banjir dan longsor disebabkan manusia yang tidak bisa merawat alam.

Menurut Dedi, semua pemangku kepentingan, termasuk pemerintah dan tokoh masyarakat, diharapkan belajar merawat alam ke warga yang masih memegang teguh tradisi.

Dedi mengatakan, kerangka pemahaman dan pendalaman tentang merawat alam itu justru ada pada kelompok masyarakat yang sangat tradisional.


"Kelompok masyarakat tradisi mengelola alam lingkungan dengan hati. Karena itu, mereka merawatnya dengan seluruh ornamen dialogis antara dia dengan alam. Hanya saja, aksi itu sering dipahami sebagai musyrik dan penyimpangan agama," kata Dedi, Kamis (28/12/2018).

Seringkali, lanjut dia, orang melakukan proses dialogis dengan gunung, sungai dan hutan, masih dianggap sebagai penyimpangan agama.

Tetapi sebaliknya, penebangan pohon, perusakan gunung dan sungai, penebangan pohon di luar batas kaidah kebutuhan manusia itu sendiri bukan dianggap sebagai bentuk penyimpangan.

"Pembabatan bukit. Orang yang merawat bukit dengan tradisi dianggap penyimpangan, tetapi orang yang membabat bukit itu bukan penyimpangan," kata dia.

"Kesadaran kaum tradisi dalam menjaga alam itu adalah menjadikan alam itu leluhurnya, bagian dari dirinya," tandas mantan bupati Purwakarta dua periode ini.

Dedi mengatakan, problem hari ini sering kali banyak tokoh memahami Tuhan namun menapikan kasualitas (sebab akibat).

Menurut Dedi, kerangka pemahaman moral dan akhlak hanya dipahami secara vertikal (manusia kepada Tuhan), tetapi moralitas manusia terhadap alam nyaris tidak pernah mendapat perhatian utama.

"Padahal moralitas manusia dengan Tuhan, bisa dilihat dari moralitas manusia dengan alam," tandas ketua DPD Golkar Jawa Barat ini.

Misalnya, kata Dedi, ketika di Garut terjadi longsor, itu cukup saja orang bilang hindari maksiat kepada Tuhan.

"Padahal maksiat itu bukan hanya persoalan dalam sudut pandang kaidah syari, tetapi menebang pohon di seluruh areal hutan di Garut Selatan, itu maksiat kepada alam. Coba lihat sepanjang lereng di Garut, penambangan di pinggir jalan sangat massif. Itu juga kan maksiat," katanya.

"Terus kemudian hutan yang mulai gundul ke area selatan itu juga ulah manusia dan merupakan maksiat. Penambangan pasir yang mengenyampingkan aspek lingkungan, itu juga maksiat," tandas ketua Tim Kemenangan untuk Jokowi-Ma'ruf Amin daerah Jawa Barat ini.

"Ada satu hal pesan saya, itu subjektif saya, tidak ada orang yang mengalami kaya permanen ketika bisnisnya merusak alam," kata Dedi.