Singgung Prabowo, TKN Sebut Pemimpin Emosional Timbulkan Banyak Masalah

Singgung Prabowo, TKN Sebut Pemimpin Emosional Timbulkan Banyak Masalah

MONITORDAY.COM - Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin menyinggung pidato emosional Prabowo saat kampanye Akbar di GBK, serta kampanye di Solo Senin, (8/4). Kepemimpinan seperti Prabowo dinilai tidak akan dapat menyelesaikan masalah, justru akan banyak menimbulkan permasalahan besar. 

"Pemimpin yang emosional bukannya memecahkan masalah tapi akan menciptakan masalah besar," Wakil Ketua TKN, Abdul Kadir Karding dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/3).

Menurut Karding, orang seperti Prabowo akan menimbulkan suatu bahaya jika diberikan tampuk kepemimpinan. Ia membayangkan akan ada banyak orang yang menjadi korban dari sikapnya yang emosional. 

"Pemimpin yang emosinya tidak stabil seperti itu akan sangat berbahaya saat memegang tampuk kekuasaan negara. Sebab rakyat akan terancam dan jadi korban dari pemimpin yang emosinya tidak stabil," ujarnya. 

Karding menjabarkan hasil survei terhadap psikologi kedua capres menunjukkan kepribadian Jokowi dinilai lebih tenang dibanding Prabowo. Jika diukur dengan angka 1 sampai 10, poin untuk stabilitas emosi Prabowo berada pada angka 5,16. Sedangkan Jokowi 7,60 dalam hal ketenangan dalam menghadapi persoalan yang berat.

Sementara tentang sikap otoriter dan demokratis, Jokowi hanya 13% memiliki kemungkinan otoriter sedangkan Prabowo 76%. Soal demokratis, Jokowi memiliki angka 87 persen dan Prabowo hanya 24 persen.

Ukuran analisis psikologis itu, menurut politisi Partai Kebangkitan Bangsa ini menilai, akan menjadi bukti sahih bagi pemilih agar memilih pemimpin yang stabil. 

"Berbahaya sekali apabila bangsa ini diserahkan pada pemimpin yang tidak stabil. Taruhannya adalah nasib 260 juta rakyat yang terancam menjadi korban," tegasnya. 

Sementara itu, kata Karding, Jokowi merupakan cermin pemimpin yang punya psikis yang baik. Jokowi mampu bersikap tenang dan tidak mengedepankan emosi saat mengambil keputusan. Hasilnya bisa terlihat dengan semakin baiknya iklim bernegara dan demokrasi di Indonesia.

Menurut dia, dalam menangani negara besar seperti Indonesia, diperlukan pemimpin yang tenang, tidak otoriter, dan pandai dalam memecahkan masalah.

"Jokowi adalah contoh bagaimana seorang pemimpin mampu berpikir jernih. Dia mampu menguasai emosinya. Dan yang terpenting dia adalah pemimpin yang stabil secara psikis," ungkapnya.