SMK MUSABA, Antara Tradisi dan Wawasan Industri

SMK MUSABA, Antara Tradisi dan Wawasan Industri
Ilustrasi foto/Net
Selain mendorong para siswa untuk memiliki wawasan industri, Musaba juga mendorong mereka untuk tetap menjaga akhlak serta tradisi budaya.

RABU SIANG, di penghujung Desember 2018, SMK Muhammadiyah Satu Bantul (Musaba) nampak basah setelah diguyur hujan. Tak lama setelah hujan reda, para siswa berjalan teratur di halaman sekolah yang terletak di Jalan Prangtritis, Jalan manding Kidul, Area Sawah Trirenggo, Bantul Yogyakarta. Tak seperti sekolah-sekolah lainnya, yang berhamburan bila jam sekolah menunjukkan waktu istirahat atau pulang. Sekilas pintas, sekolah ini nampak seperti lingkungan industri di kawasan industri sunter atau Jababeka. Teratur nan rapi.ada garis hijau yang menuntun mereka berjalan dari maupun ke luar sekolah.

“Sekolah ini kami bangun dengan konsep yang menyerupai dunia industri, tujuannya supaya mereka terbiasa disiplin dan tertib seperti di dunia industri sebenarnya,” kata Kepala Sekolah, Harimawan S.Pd. T., lirih.

Sementara di sudut lain, siswi berhijab tampak lihai mewiru satu demi satu lipatan, dari sisi luar kanan-kiri menuju tengah kain. Ia begitu lancar, tak tampak bergetar tangannya. Sekolah ini semakin menarik perhatian, terutama dengan nilai-nilai yang diterapkan terhadap para siswa didik.

“Itu salah satu materi pelajaran bahasa jawa, yang kami ajarkan kepada siswa didik di Musaba, tujuannya agar para siswa didik tahu dan paham dengan warisan budaya nenek moyangnya,” kembali Sang Kepala Sekolah menerangkan.

Itulah Musabba, sekolah menengah kejuruan (SMK) yang menerapkan budaya indutri, namun tak lupa untuk menjaga warisan budaya para leluhur. ‘Mendidik sumber daya manusia dengan spirit MUSABA’, demikian motto SMK MUSABA yang mampu menggambarkan kebijakan mutunya. Bagi Musaba, sekolah merupakan lembaga pendidikan menengah kejuruan yang diharapkan oleh pemerintah, persyarikatan dan masyarakat, mampu menghasilkan tenaga kerja terampil pada tingkat menengah. Dikhususkan untuk masuk di dunia kerja maupun melanjutkan karier pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, baik skala regional maupun nasional. SMK Muhammadiyah 1 bantul akan mewujudkan tamatan yang berakhlak mulia, mandiri dan berdaya saing.

Para siswa memang didorong untuk memiliki wawasan industri, namun Musaba juga mendorong mereka untuk tetap menjaga akhlak serta tradisi budaya. Itulah yang tergambar dari tradisi mewiru yang diajarkan di sekolah. Tradisi wiru, menggambarkan betapa Musaba sadar akan pentingnya menjaga warisan para leluhur. Wiru Jarik atau kain dikenakan selalu dengan cara mewiru (meripel) pinggiran yang vertikal atau sisi saja sedemikian rupa. Wiru atau wiron (rimple) diperoleh dengan cara melipat-lipat (mewiru). Ini mengandung pengertian bahwa jarik tidak bisa lepas dari wiru, dimaksudkan wiwiren aja nganti kleru, kerjakan segala hal jangan sampai keliru agar bisa menumbuhkan suasana yang menyenangkan dan harmonis.

Ya, harmonis, itulah kiranya yang diupayakan Musaba untuk dapat tercipta. Ada keseimbangan antara kebutuhan kerja, namun juga kebutuhan spiritual para siswanya. Itulah kenapa selain diajarkan mewiru dan bahasa jawa secara keseluruhan, para siswa juga diajarkan materi keagamaan.

Sejarah pendirian

SMK Muhammaidyah 1 Bantul pada awal berdirinya bernama STM Muhammadiyah Bantul. STM Muhammadiyah Bantul didirikan atas prakarsa Bapak Mursidi yang kemudian membentuk panitia pendirian STM Muhammadiyah Bantul. Pada bulan November 1969 Panitia menghadap Pimpinan Muhammaidyah Daerah, dilanjutkan kepada ketua majelis pendidikan dan kebudayaan daerah Kabupaten Bantul untuk mendapatkan pendirian STM Muhamadiyah Bantul. Sehingga pada tanggal 1 Januari 1970 berhasil mendapatkan piagam pendirian nomor: E-45/MPPM/SK/1970 dari Majelis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan, tentang persetujuan berdirinya STM Muhammadiyah Bantul dengan 2 jurusan; mesin kontstruksi dan bangunan gedung.

Berturut-turut kemudian memperoleh Piagam Pendirian dari Pimpinan Pusat Majelis Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan pada tanggal : 1 September 1977 dengan nomor : 2985/N.572/DIY.70/77. Kemudian memperoleh status terdaftar dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi DIY pada tanggal : 24 Mei 1975, dengan nomor SK : C.396/Set.III.a/Kppt/75.

Dan memperoleh status: DIAKUI dengan piagam nomor: 001/C/KEP/I.86 tanggal 06 Januari 1986 dan disusul pula tahun berikutnya memperoleh Nomor Data Sekolah (NDS) yakni nomor: D.01.01 4301 berdasarkan Keputusan Direktur Jendral Pendidikan Dasar dan Menengah tanggal: 23 Februari 1983 nomor: 018/C/Kep/I.83.

Pada perkembangannya STM Muhammadiyah Bantul kemudian menyesuaikan dengan regulasi pemerintah dan mengubah namanya menjadi SMK Muhammadiyah 1 Bantul yang hingga saat ini mempunyai 4 Program Keahlian yaitu: Teknik Pemesinan, Teknik Kendaraan Ringan, Teknik Audio Video, Rekayasa Perangkat Lunak.

Semua program keahlian tersebut telah melaksanakan akreditasi, yang terbaru pada bulan Nopember 2010 dengan nilai “A” di masing-masing program keahlian.

Seiring dengan perkembangan dunia pendidikan, sekolah dituntut untuk selalu meningkatkan pelayanan serta penataan sistem pengelolaan agar dapat memberikan pelayanan pendidikan yang berkualitas dan lebih baik, maka pada tahun 2011 SMK Muhammadiyah 1 Bantul mulai mengimplementasikan Penjaminan Mutu ISO 9001:2008 serta telah mendapatkan sertifikat dari PT TUV Reinland Indonesia Nomor : 824 100 12061. ADV