Soal ‘Indonesia Barokah’, Sandi: Saatnya Kita Jangan Saling Menyalahkan

Soal ‘Indonesia Barokah’, Sandi: Saatnya Kita Jangan Saling Menyalahkan
Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno/foto: istimewa

MONITORDAY.COM - Calon wakil presiden nomor urut 02, Sandiaga Uno mengatakan, tersebarnya tabloid ‘Indonesia Barokah, di berbagai daerah harus dijadikan momen untuk intropeksi dan tidak saling menyalahkan.

Diketahui, Tabloid Indonesia Barokah berisi tulisan berupa artikel yang diduga menyudutkan Paslon 02. Di tabloid tersebut terdapat dua artikel yang dianggap kontroversial, dan dinilai merugikan Prabowo-Sandi.

"Saatnya kita jangan saling menyalahkan, tetapi kita introspeksi dan perbaiki agar ke depan tidak saling menjatuhkan menggunakan pola-pola yang sebetulnya tidak bisa diterima masyarakat," tutur Sandi, di Jakarta, Kamis (24/1).

Manntan Wakil Gubernur DKI Jakarta mengatakan bahwa dirinya prihatin beredarnya tabloid tersebut,serta Ia mengajak semua pihak tidak menggunakan cara-cara yang menjatuhkan dalam gelaran pesta demokrasi.

Karena itu, Sandi menyerahkan peredaran ribuan eksemplar tabloid Indonesia Barokah di masjid beberapa daerah di Indonesia kepada polisi karena diduga merupakan kampanye hitam terhadap Paslon 02.

"Itu saya serahkan kepada aparat hukum, itu adalah bagian black campaign yang sudah kami sama-sama sepakati untuk tidak lakukan, tetapi ternyata seperti 2014, versi 2019 keluar," ungkapnya.

Meski begitu, sebelumnya, Direktur Materi dan Debat  Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Sudirman Said mengaku tak khawatir dengan tersebarnya tabloid tersebut. hal tersebut dikarenakan cara yang digunakan untuk menyudutkan Paslon 02 itu dinilai sangat primitif, di tengah masyarakat yang saat ini banyak yang telah mengerti.

“Penyebaran tabloid berisi fitnah yang menyudutkan paslon tertentu merupakan cara primitif dan bertentangan dengan prinsip Prabowo-Sandi. Khususnya yang menganggap pesta demokrasi sebagai ajang memberikan pendidikan politik bagi rakyat,” tutur Said,

Dia mengatakan, biarlah masyarakat yang menilai mana berita yang dianggap hoaks dan menyudutkan dan mana yang benar. Karena menurutnya, masyarakat saat ini sudah cerdas dan mengerti mana Capres yang baik dan mementingkan program dan gagasan.

“Insya Allah masyarakat kita sudah cukup cerdas. Kan tabloid bukan satu-satunya sumber bacaan. Mereka nonton tv, punya medsos, punya akses kepada jejaring internet, jadi kami tidak terlalu khawatir dengan yang begituan," ungkapnya.