Soal Propaganda Rusia, TKN Sebut Jokowi Menjawab Fitnah Dengan Fakta dan Data

Soal Propaganda Rusia, TKN Sebut Jokowi Menjawab Fitnah Dengan Fakta dan Data
Foto: Istimewa

MONITORDAY.COM  - Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo- Ma'ruf Amin, Erick Thohir menilai apa yang disampaikan oleh Jokowi dalam beberapa hari terakhir ini adalah fakta dan data, bukan bermaksud menyerang seperti yang ditudingkan oleh kubu Paslon 02 Prabowo-Sandi.

Seperti diketahui, Jokowi dalam beberapa hari terakhir ini, saat kampanye di Surabaya dan Karanganyar, membuat sindiran-sindiran kepada kubu Prabowo. Ada dua sindiran yakni 'propaganda Rusia' dan 'konsultan asing'.

"Problemnya adalah ada tim sukses yang menyiapkan propaganda Rusia! Yang setiap saat mengeluarkan semburan-semburan dusta, semburan hoaks, ini yang segera harus diluruskan bapak-ibu sebagai intelektual," kata Jokowi deklarasi Forum Alumni Jawa Timur di Tugu Pahlawan, Kota Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (2/2).

Selain itu, Jokowi kembali berbicara soal propaganda Rusia saat menemui pendukungnya di De Tjolomadoe, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, Minggu (3/2). Selain propaganda Rusia, Jokowi dalam acara tersebut menyinggung soal konsultan asing, namun ia tak menyebut siapa yang memakai konsultan asing itu.

"Yang dipakai konsultan asing. Nggak mikir ini memecah belah rakyat atau tidak, nggak mikir mengganggu ketenangan rakyat atau tidak, ini membuat rakyat khawatir atau tidak, membuat rakyat takut, nggak peduli. Konsultannya konsultan asing. Terus yang antek asing siapa?. Jangan sampai kita disuguhi kebohongan yang terus-menerus. Rakyat kita sudah pintar, baik yang di kota atau di desa," ungkap Jokowi.

Erick mengatakan, sebagai orang yang berpengalaman sebagai kepala negara, apa yang disampaikan tersebut sudah melalui pertimbangan matang, dan tidak serta merta. “Beliau hanya menyampaikan data dan fakta. Semuanya dilakukan dengan hitung-hitungan yang cermat.” ujar Erick dalam keterangan tertulis, Rabu (6/2).

Menurut Dia, apa yang disampaikan oleh Jokowi dalam beberapa hari ini dalam rangka menyampaikan isi hatinya dan menjawab isu yang menyerangnya. “Seperti Jokowi dituduh melakukan kriminalisasi, padahal yang terjadi sebenarnya adalah Jokowi dizalimi. Begitu pula dengan dicapnya Jokowi sebagai antek asing, PKI, antek aseng, dan lain-lain,” ungkapnya.

Hal seperti itu, kata Erick justru yang dianggap mulai menyerang atau ofensif jelang Pilpres 2019. Padahal, hal tersebut merupakan hal yang wajar. Justru jika tidak disampaikan seperti itu, akan menjadi fitnah yang terus menerus dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, Erick juga merasa heran ketika dari kubu sebelah menyebut bahwa Jokowi sudah panik. Padahal, apa yang dikatakan Presiden adalah fakta dan data. “Jadi kalau sekarang beliau menjawab, itu lumrah. Sebab kalau tak menjawab, nanti fitnah itu dianggap benar. Anehnya, ketika beliau menjawab, dikatakan beliau panik dan ketakutan. Justru beliau sedang menyampaikan data dan fakta, yang selama ini diputarbalikkan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Juru Bicara TKN Jokowi-Ma’ruf, Tb Ace Hasan Syadzily mengatakan bahwa Jokowi ingin memberi optimisme kepada masyarakat tentang Indonesia ke depan."Selagi kubu sebelah tetap menyerang kami dengan narasi pesimistik dan tanpa data-data yang objektif, tentu kami akan menanggapinya dengan serangan balik yang lebih tajam," tutrnya. 

Ace mangatakan bahwa Jokowi akan terus memberikan narasi positif untuk Indonesia lebih maju kedepannya. Bukan malah menakut-nakuti masyarakat dengan pesimisme, jika bangsa Indonesia ada dalam masalah besar, bahkan diramalkan akan bubar. 

"Pak Jokowi ingin menegaskan bahwa kepemimpinannya ke depan lebih mengedepankan program-program yang konkret dan solutif dalam menyelesaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi bangsa ini. Tidak hanya cukup menebarkan pesimisme dengan mengatakan Indonesia punah, bubar dan lain-lain," ungkap Ace. 

Politisi Partai Golkar ini menambahkan, bahwa Jokowi, dengan melontarkan ungkapan ofensif itu ingin menyampaikan ke Prabowo bahwa berkampanye hendaknya jangan seperti memercik air di dulang, terkena muka sendiri. Salah satunya, dengan menuduh orang lain pro asing, sementara selama ini justru Prabowo yang pro asing. Menurut Ace, kubu Prabowo tak menyerang tanpa data dan fakta.

"Jangan karena ingin mendapatkan dukungan elektoral tapi menutupi prestasi yang telah diraih dari kerja keras orang lain. Rakyat harus diberikan pencerahan secara objektif, jangan disuguhi oleh informasi hoaks dan kebohongan," pungkas Ace.