Tanggapi Survei LSI Denny JA, TKN: Gaya Komunikasi Sederhana Saat Debat Buat Jokowi Unggul

Tanggapi Survei LSI Denny JA, TKN: Gaya Komunikasi Sederhana Saat Debat Buat Jokowi Unggul
Foto: Istimewa

MONITORDAY.COM - Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma'ruf Amin menilai gaya komunikasi yang baik dari Paslon 01 menjadi faktor yang membuat mereka unggul di arena debat pertama yang digelar pada 17 Januari lalu. 

Hal ini menanggapi hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA yang menyebut bahwa Jokowi-Ma'ruf dinilai lebih unggul dan dominan saat debat berlangsung. 

"Gaya komunikasi sederhana Jokowi dan Ma'ruf tersebut satu frekuensi dengan rakyat banyak. Jokowi masih mendapatkan trust yang tinggi dari publik karena basis debatnya adalah kinerja Jokowi selama beliau menjadi Presiden," Juru Bicara TKN Jokowi-Ma'ruf, TB Ace Hasan Syadzily, dalam keterangan tertulisnya, Rabu (30/1). 

Ace mengatakan, Penampilan Jokowi yang apa adanya, tidak terlalu banyak polesan dan tampil menjadi dirinya sendiri. Soal Kritik terhadap Jokowi yang membaca teks dinilainya oleh publik tidak terlalu dihiraukan, karena di situlah aspek kejujuran Jokowi yang tidak memaksakan diri untuk tidak membaca teks dan tidak harus ditutup-tutupi. 

Karena itu, Ace menilai wajar hasil survei LSI Denny JA yang menunjukkan Jokowi-Ma'ruf lebih dominan ketimbang Prabowo-Sandi. Menurutnya, penguasaan materi oleh Jokowi-Ma'ruf pada debat perdana lalu menjadi keunggulan tersendiri bagi paslon nomor urut 01 itu.

"Saya kira wajar jika dalam survei dikatakan bahwa capres kami jauh lebih unggul dalam berbagai hal. Penguasaan materi, lebih solutif, gaya komunikasi dan fokus pada penyelesaian masalah tergambar jelas seperti yang ditunjukkan pasangan kami. Insya Allah dalam debat-debat ke depannya kami akan tetap unggul," ungkapnya. 

Terkait belum berpengaruhnya hasil debat terhadap naiknya elektabilitas, Ace juga memaklumi. Ia menduga, masyarakat masih menunggu penampilan dua pasangan calon presiden dan wakil presiden pada debat berikutnya yang menyisakan empat edisi.

"Jika dalam debat pertama tidak terlalu memiliki pengaruh besar, tentu itu bisa dipahami karena masih ada empat debat lagi. Yang belum menentukan pilihannya masih ingin melihat konsep visi, misi dan rencana kerja capres selama lima tahun ke depan," ujarnya.