PSSI Diminta Lapor ke FIFA Soal Insiden Penusukan Suporter

Insiden ini telah mencoreng sportifitas olahraga dan berpotensi menggangu hubungan negara serumpun.

PSSI Diminta Lapor ke FIFA Soal Insiden Penusukan Suporter
Ilustrasi foto

MONITORDAY.COM - Anggota DPR RI Fraksi PPP Achmad Baidowi mendesak Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) agar melaporkan insiden penusukan suporter Indonesia di Malaysia kepada FIFA. Hal ini dinilai harus dilakukan sebagai bukti dukungan Federasi terhadap perlindungan para suporter timnas Indonesia.

"PSSI harus membawa kasus pengeroyokan ini ke FIFA dan mengawal pengusutan kasus ini sebagai bukti keseriusan federasi melindungi suporter," ujar Awiek, sapaan Baidowi, dalam keterangan tertulisnya, Minggu (24/11).

Awiek pun menyayangkan insiden yang terjadi setelah pertandingan Kualifikasi Piala Dunia 2022 Malaysia vs Indonesia itu. Menurutnya, hal ini akan menganggu hubungan baik antar kedua negara. 

"Apalagi sampai ada suporter Indonesia yang terluka karena pengeroyokan. Hal ini telah mencoreng sportifitas olahraga dan berpotensi menggangu hubungan negara serumpun," ungkapnya.

Atas hal itu, Awiek pun mendesak agar pihak Malaysia meminta maaf atas insiden ini. "Federasi sepakbola Malaysia dan Menpora Malaysia secara resmi meminta maaf atas ketidakmampuan mereka untuk melindungi suporter Indonesia di Malaysia," tegasnya.

Lebih lanjut, Awiek juga meminta kepada KBRI Kuala Lumpur untuk mendesak aparat hukum Malaysia serta mengawal proses hukum terhadap kasus pengeroyokan yang terjadi pada suporter Indonesia.

Seperti Diketahui, insiden penusukan dan pengeroyokan suporter Indonesia dikabarkan terjadi setelah pertandingan yang digelar di Stadion Bukit Jalil Malaysia, Selasa (19/11) lalu. KBRI Malaysia membenarkan kabar tersebut, dan mengungkapkan bahwa korban mengalami luka lebam dan beberapa mengalami luka tusuk di tangan.

"Korban penusukan sempat menahan menggunakan tangan, sehingga hanya bagian tangan yang terluka," terang Kepala Satgas Perlindungan WNI KBRI untuk Malaysia Yusron B Ambary.