24 February 2018
Politik

Bersaing Ketat Meraup Suara Rakyat

ilustrasi foto

MONDAYREVIEW, Jakarta -- Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA menyebut Partai Gerindra masuk dalam daftar partai papan atas menyusul PDI-P dan Golkar. Gerindra dan Golkar saling salip dalam survei LSI sebelumnya.

Peneliti LSI Rully Akbar menjelaskan, Gerindra mengantongi perolehan suara 11.4 persen dalam survei LSI pada pada 7-14 Januari. Golkar meraup suara 15.5 persen. Survei LSI Agustus 2017 menempatkan Gerindra di atas Golkar dengan suara 12.8 persen melawan 11.6 persen.

Rully menyatakan, Gerindra bisa membalik keadaan di posisi 2 bahkan 1 jika Prabowo Subianto sukses sebagai calon presiden atau calon wakil presiden.

Figur Prabowo dinilai berasosiasi kuat terhadap tingkat elektabilitas Gerindra.

Keadaan serupa pernah dialami Demokrat pada tahun 2009 lewat figur Susilo Bambang Yudhoyono. Sementara Demokrat saat ini mencoba endorsement lain dengan menonjolkan sosok Agus Harimurti Yudhoyono.

“Faktor figur Prabowo masih kuat mendongkrak suara partai. Apalagi asosiasi Prabowo dan Gerindra masih kuat,” kata Rully di kantor LSI, Jakarta Timur, Rabu (24/1/2018).

PKB dan Partai Demokrat bersaing di posisi keempat. Survei menunjukan elektabilitas Demokrat saat ini sebesar 6.2 persen dan PKB sebesar 6.0 persen. Perbedaan elektabilitas kedua partai ini hanya dalam hitungan nol koma. 

Di sejumlah survei LSI sebelumnya dua partai ini bersaing dan saling salip dalam peringkat 4 dan 5. “Saat ini PKB sedikit lebih diuntungkan dengan isu-isu keislaman yang cenderung naik menjelang pilkada dan pemilu,” imbuh Rully.

Namun demikian, jika Demokrat menemukan isu baru yang menggugah maka peluang Demokrat menggagahi PKB juga besar. Manuver Muhaimin(PKB) dan AHY (Demokrat) sebagai capres atau cawapres di pemilu 2019 nanti juga akan mempengaruhi elektabilitas kedua partai.

5 Partai Berjuang Lolos Parliamentary Threshold

Di sisi lain, PPP, Nasdem, PKS, PAN dan Hanura harus berjuang keras agar bisa lolos dari Parliamentary Threshold  (PT) sebesar 4 persen. Berturut-turut suara mereka saat ini  3.5 persen, 4.2 persen, 3.8 persen, 2.0 persen, dan 0.7 persen.

“Hanya Nasdem yang 4,2 persen itu pun kalau kita bisa bilang karena margin of error survei kita 2.9 persen bisa dibilang tidak aman,” imbuh Rully. Menurutnya, 4 persen bukan angka kecil bagi partai lama untuk bisa kembali ke gelanggang arena.

Survei ini bisa jadi catatan serius bagi PAN dan Hanura, bahkan Hanura makin terpuruk di 0.7 persen. Rendahnya elektabilitas Hanura disebut karena faktor rebutan kuasa di tingkat pimpinan partai.

Rully melanjutkan, PAN dan Hanura harus memunculkan isu yang fresh jika ingin lolos dari batas PT. Selain itu mereka juga harus punya figur kuat yang bisa diasosiaiskan dengan partai. Tiga survei terakhir LSI Denny JA, elektabilitas Hanura selalu di bawah 2 persen.

“Artinya partai Hanura terancam terlempar dari parlemen, dan masuk kategori partai gurem, karena memperoleh dukungan di bawah 2 persen,” imbuh Rully. [Mrf]

Related Posts