20 July 2018
Ekonomi

Inilah Tiga Kecakapan Mutlak Bagi Generasi Milenial untuk Menghadapi Revolusi Industry 4.0

Siswa SMK Negeri 5 Yogyakarta/Dito

MONITORDAY.COM – Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengimbau kepada generasi muda Indonesia untuk mempelajari Bahasa Inggris, Statistik, dan Coding. Ketiga kecakapan tersebut mutlak dikuasai oleh sumber daya manusia (SDM) industri agar mampu bersaing di era Industry 4.0.

“Generasi milenial menjadi asaet penting kita dalam membangun sektor manufaktur agar semakin tumbuh dan berkembang. Karena itu, generasi muda harus memiliki kecakapan,” kata Airlangga Hartarto dalam kunjungan kerjanya di Kota Pahlawan.

Menurut Airlangga, implementasi Industry 4.0 mampu meningkatkan produktivitas, penyerapan tenaga kerja, dan perluasan pasar bagi industri nasional. Namun, peluang yang ditimbulkan era tersebut membutuhkan keselarasan antara perkembangan teknologi dengan kompetensi SDM.

Dalam menghadapi era Industry 4.0 yang sedang berjalan saat ini, Menperin menyampaikan, pihaknya tengah menyusun roadmap mengenai strategi Indonesia mengimplementasikan terhadap teknologi revolusi industri keempat tersebut.

“Ada lima sektor manufaktur yang akan menjadi percontohannya, yaitu indutri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia,” ujar Airlangga.

Kementrian Perindustrian saat ini juga tengah mendorong pertumbuhan 10 sektor industri pada karya berorientasi ekspor. Pada tahun 2017, ekspor produk industri sebesar 109,76 miliar dollar, naik 13,14 persen dibandingkan tahun 2016 yang mencapai 125,02 miliar dollar. Capaian ekspor industri di tahun 2017 tersebut memberikan kontribusi hingga 74,10 persen terhadap total ekspor Indonesia.

Kemenperin mencatat, selama lima tahun terakhir telah terjadi peningkatan jumlah tenaga kerja sektor industri dari 14,9 juta orang pada tahun 2013 menjadi 17 juta orang tahun 2017, atau rata-rata naik 512 ribu orang per tahun. Peran sektor industri dalam menyerap tenaga kerja, melonjak dari 13,54 persen pada tahun 2013 menjadi 14,05 persen pata tahun 2017.

Kemenperin telah mengusulkan adanya terobosan fasilitas baru bagi kegiatan investasi dalam bentuk Super deductive tax untuk kegiatan litbang dan vokasi serta pengurangan PPh bagi inudstri padat karya yang mampu menyerap lebih dari 1000 orang.

 “Kami juga telah menyiapkan platform digital bagi industri kecil dan menengah (KIM) melalui e-Smart IKM agar dapat memperluas pasar mereka,” ujar Airlangga. Saat ini, di ASEAN ada sekitar tujuh unicorn atau perusahaan startup yang memiliki valuasi di atas USD1 miliar. Empat di antaranya dari Indonesia, yakni Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Gojek.

 [Mrf]

Related Posts