24 February 2018
Wisata

Me-Revolusi Mental Petani

petani tengah menanam padi

Di negara manapun di dunia ini, sektor pertanian menempati posisi yang sangat penting. Di Amerika dan Belanda misalnya, profesi petani teramat menjanjikan mengingat begitu besarnya perhatian pemerintah terhadap petaninya. Tak heranlah bila seorang Thomas Jefferson dalam sebuah surat yang ia tulis untuk koleganya George Washington mengatakan, “agriculture is our wisest pursuit.” Karena memang pertanianlah yang kelak akan berkontribusi secara riil terhadap kesejahteraan sebuah bangsa. Tak sekadar itu, pertanian juga dapat membuat seseorang menjadi lebih bahagia. Hal ini karena pada prinsipnya, petanian itu meniscayakan moral yang baik, sehingga seseorang dapat hidup selaras dengan alam. Ungkapan Jefferson dalam surat itu pun kini terbukti bukan sekadar kata dan mimpi, melainkan kenyataan. Paling tidak dilihat dari kesejahteraannya dibandingkan negara lain.

Sayang, imaji besar tentang pertanian ala Thomas Jefferson tersebut sulit membumi di Indonesia. Sebaliknya, pertanian di negeri ini malah mengalami nasib yang amat tragis. Siapa pun termasuk penulis yang notabene lahir di daerah pertanian, tentu heran tatkala melihat kenyataan negeri yang dianugerahi kekayaan alam yang melimpah seperti Indonesia malah gemar mengimpor sejumlah produk pangan untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Sebagai seorang anak petani, kita tentu juga memiliki mimpi layaknya Thomas Jefferson, hanya saja bukannya bahagia, kita malah sedih karena bangsa Indonesia tak ubahnya seperti “tikus yang mati di lumbung padi.”

Runtuhnya mental petani

Persoalan utama yang membuat Indonesia begitu sulit mewujudkan mimpi kedaulatan pangan adalah akibat dari runtuhnya mental para petani. Di Indonesia, para petani banyak yang tidak merasa bangga menjadi seorang petani. Tidak ada kebanggaan dengan seseorang menjadi petani.

Selain itu, petani di negeri ini tak memiliki kepercayaan diri terhadap masa depan pertanian. Hal ini bisa dibuktikan dengan semakin berkurangnya lahan pertanian yang ada ditambah lagi hilangnya generasi para petani. Bagi sebuah negara agraris, hilangnya generasi petani tentu saja merupakan sebuah petaka.

Padahal, di beberapa negara maju, petani justru diberi perhatian yang luar biasa. Bentuk perhatiannya bisa berbentuk subsidi langsung maupun tidak langsung. Selain memberi modal kerja mereka juga diberi subsidi pupuk, sehingga meski terjadi kenaikan harga produksi pupuk di pasaran, para petani masih tetap dapat mendapatkannya dengan harga yang terjangkau dan menguntungkan. Disamping itu, ketika panen datang para petani juga mendapat jaminan harga yang baik atau semacam asuransi kegagalan dalam pertanian. Dengan fasilitas ini, para petani tidak perlu khawatir dengan kerugian yang mungkin akan ditanggung apabila terjadi gagal panen.

Dari hasil penelusuran di daerah, kita dapat temukan bila para petani yang telah lama menekuni profesinya selalu saja menemui persoalan yang sama, yaitu belum tersedianya bibit yang berkualitas. Itu artinya, selama ini mereka sama sekali tak pernah betul-betul mendapatkan perhatian. Akibatnya, para petani tersebut terpaksa masuk dalam perangkap para tengkulak. Tidak heran bila harga produk pertanian dimainkan para tengkulak yang menguasai pasar dari komoditas tersebut dan posisi pemerintah begitu lemah dan tak berdaya untuk melindungi nasib para petani.

Bangga Jadi Petani

Sebagai negara yang dianugerahi kekayaan alam yang melimpah, subur dan segar, hamparan lahan berbukit maupun landai, serta indah, bangsa Indonesia pun sesungguhnya telah lama sadar akan pentingnya sektor pertanian bagi kehidupan masa depannya. Tak heran bila Bung Karno pernah mengatakan, “Pertanian itu hidup mati bagi sebuah bangsa.” Dan karena itu, pertanian harus dipertahankan melalui jihad sekalipun.

Dalam hal ini, Pemerintah dapat meyakinkan para petani, bahwa pertanian dapat menyejahterakan sekaligus mengangkat harkat dan martabat bangsa. Pemerintah harus memberikan ruang dan fokus dalam pembangunan pertanian sebagai pelayanan dan tidak perlu menghitung untung-rugi. Sehingga para petani terdorong dan percaya masa depan mereka dari sektor pertanian.

Selain itu, pemerintah, parlemen, atau siapa pun yang peduli dengan kondisi pertanian kita saat ini mesti bahu membahu memajukan kembali pertanian Indonesia. kuncinya tentu saja adalah bagaimana kita, petani, pemerintah atau siapa pun di negeri ini kembali mencintai pertanian. Artinya seperti disinggung di awal tadi, bahwa rakyat Indonesia kembali pada kesadaran sejatinya bahwa menjadi petani juga hebat. Karena dengan pertanianlah sebuah bangsa akan memperoleh kesejahteraan yang nyata (revolusi mental petani).

Ke depan, untuk kembali mendekatkan dunia pertanian dengan masyarakat Indonesia, dus juga mewujudkan mimpi kedaulatan pangan, diperlukan adanya  inovasi seperti yang saat ini tengah dikembangkan di daerah kelahiran saya Garut, yaitu agro techno park atau taman pertanian dengan model komoditas kentang lebih dominan dan di dalamnya dilakukan riset untuk pembibitan kentang super. Agro techno park ini akan memberikan nilai tambah ekonomi bagi para petani dan potensi daerah. sehingga sebuah daerah tidak lagi hanya terkenal dengan domba, jeruk, dodol, jaket tapi bisa diselaraskan sektor pariwisatanya.*

Related Posts